
"Kamu ada masalah sama Aber?" tanya Adelard
pada Auristela yang kini masih berjalan di sampingnya dengan dia yang memeluk bahu cewe itu.
Auristela terdiam sejenak, "Gak ada apa-apa, kamu gak usah khawatir."
"Tapi tad-" ucapan Adelard terpotong ketika Auristela berhenti berjalan dan kini tengah menatapnya
"Ade, jangan paksa aku."
Adelard menghembuskan nafasnya, "Oke. Maaf bikin kamu gak nyaman." ucapnya sembari mengelus rambut cewe itu
Auristela tersenyum cerah, "Tetep gini ya." ucapnya tersirat permohonan
Adelard ikut tersenyum, "Iya, aku usahain." balasnya
Auristela kembali menghadap ke depan, cewe itu kini memainkan sebelah tangan Adelard. Adelard hanya melirik kegiatannya sekilas.
"Aku ngerasa cuman jadi pacar pajangan doang kalau kamu gini terus, Ris." batin Adelard. Adelard menggelengkan kepalanya, "Apaan sih yang gue pikirin?! Gue gak boleh kaya gitu. Gue juga harus bisa ngehargain Auris. Kalau dia gak mau cerita ya udah. Gak usah overthinking cuman karena gosip Auris sama Aber pernah pacaran. Sekalipun itu bener, harusnya gue terus usaha buat Auris nyaman, biar dia tetep bertahan sama gue. Bukan malah nuntut dia kaya tadi. Bego banget gue!" rutuknya dalam hati
"Ade, kamu kenapa geleng-geleng gitu? Lagi ada masalah?" Auristela bertanya setelah melihat Adelard yang tampak melamun dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Adelard seketika gelagapan menatap Auristela, "Ah, engga kok. Tadi aku mikir hal-hal random aja tadi." ucapnya diakhiri cengiran canggung
Auristela mengangkat sebelah alisnya, lalu terkekeh geli, "Kamu ada-ada aja. Gak usah panik gitu. Kamu gak mikir yang jorok-jorok, 'kan?"
__ADS_1
Adelard sontak menggeleng panik, "Enggalah! Otak aku gak sekotor itu yah!"
Auristela terkekeh lagi, "Iya deh!" balasnya
Adelard menghembuskan nafas lega ketika Auristela kembali fokus pada jalannya.
Keduanya sudah sampai di kantin.
"Tunggu, aku pesenin ya. Tapi terserah aku aja ya." ucap Adelard ketika sudah menemukan meja
Auristela mengangguk sebagai respon. Lalu cewe itu duduk. Dia memperhatikan punggung Adelard yang sedang memesan.
Adelard datang dengan senyum ceria ke arahnya, diikuti seorang penjual.
Adelard membawakan beberapa camilan. Sedangkan penjual tersebut membawakan 2 mangkok mie ayam dan lemon tea.
Adelard tersenyum sekilas pada Auristela, lalu berterimakasih pada penjual tadi.
Adelard menuangkan saus pada mie ayamnya. Dia menatap Auristela yang masih menatap camilan di depannya.
"Gak papa Ris, buat camilan ngobrol. Mumpung free. Aku masih mau pacaran sama kamu disini." balas Adelard santai tanpa dosa
Auristela mendengus, menatap sinis pada Adelard. "Mau nya kamu itu mah!"
Adelard terkekeh, "Gapapa kali, nikmati masa-masa gini dulu, gak tau kan entar kedepannya gimana." ucapnya
__ADS_1
Adelard merutui ucapannya sendiri. Ia malah merasa kata-katanya tadi akan jadi boomerang bagi dirinya.
"Ngomongnya kamu tuh!" Auristela memperingati
Adelard menatap Auristela sembari menyengir, "Peace!" ucapnya sembari membuat huruf v dengan jari
Auristela geleng-geleng kepala. Dia mulai memakan mie ayamnya yang sudah dia racik dengan bumbu-bumbu tambahan.
"Cemilannya pas-pas aja, 'kan? Siapa tau kamu gak suka." tanya Adelard
Auristela menatap Adelard sembari mengernyit, "Gak usah berlebihan deh, takut banget aku gak suka." balasnya
"Kan tadi aku yang milih. Biasanyakan cewe gitu. Bergantung dengan kata 'Terserah ' , tapi giliran dipilihin malah gak suka. Bikin kaum cowo depresi aja."
Auristela terkekeh geli, "Ya yang penting mah, cowonya tau apa yang cewenya suka dan gak suka. Simple aja sebenernya."
Adelard mendengus, "Sama aja. Pasti tetep aja komen." cibirnya
"Buktinya aku engga!"
"Iya, untung gak kaya Adara. PMS mulu."
"Hahaha. Udah ah, lanjut makan dulu!" Auristela mengakhiri
Tanpa mereka sadari ada yang memperhatikan mereka sedari tadi.
__ADS_1
...----------------...
TBC