Topeng

Topeng
Percuma?


__ADS_3

Auristela masih tertidur dipangkuan Adelio.


Adelio melirik ke arah Auristela, karena memang sudah mau sampai ke sekolah. Entah bisikan darimana Adelio menyampirkan helaian rambut yang bertengger di wajah Auristela sambil mengelus pelan pipi Auristela. Ia tersenyum, namun sedetik kemudian senyumnya hilang kala Auristela sedikit menggeliat, mungkin terganggu dengan aksinya tadi.


Adelio terkekeh kecil. Ia menepuk pelan pipi Auristela.


"Bangun, Ris! Udah mau sampai," ucapnya pelan dan lembut.


Auristela mengerjap, memandang sayu Adelio membuat Adelio tertegun. Auristela masih mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya, lalu dia bangkit sambil mengucek matanya sembari membenarkan posisi duduknya menghadap ke depan.


Auristela melirik Adelio yang masih memperhatikannya. Ia tersenyum, "Makasih ya! Pegel gak?" tanyanya, lalu Auristela menepuk dahinya, "duh pasti pegel yah! Maaf," ucapnya sembari meringis.


Adelio terkekeh lalu menggelengkan kepalanya, "Gak papa kok!"


Auristela meringis lagi, lalu mengiyakan saja.


Mereka akhirnya tiba di sekolah sore hari, hampir Maghrib.


Auristela keluar dan sudah disambut mobil Daffin beserta sang empunya yang berdiri menyandar pada kap mobilnya sambil tersenyum ke arahnya. Setelah berpamitan dengan gurunya dan juga Adelio, ia langsung saja berjalan ke arah Daffin dengan tersenyum kecil dan menunjukan hadiah tadi. Auristela masuk mobil diikuti Daffin.


Daffin belum menjalankan mobilnya. Ia memegangi piala Auristela.

__ADS_1


"Wihhh menang lagi lo!" seru Daffin.


Daffin itu aneh. Kadang ia mengakrabkan diri dengan menggunakan lo-gue. Kadang juga berperan jadi Kakak yang baik dan penuh perhatian dengan mengunakan aku-kamu.


Auristela hanya tersenyum tipis menanggapinya.


"Kok kamu kaya biasa aja?" tanya Daffin bingung dengan reaksi Auristela.


Auristela menengok ke arah Daffin, lalu tersenyum tipis, "Gak ko kak! Biasa aja perasaan," balasnya


Daffin menghela nafas. Ia tau. Mungkin Auristela teringat kejadian tahun lalu.


Mereka akhirnya sampai di kediaman Auristela. Mereka melangkah masuk, membuka pintu sambil mengucapkan salam. Terdengar balasan dari ruang keluarga. Itu suara Clarinta dan Kyra yang terdengar malas-malasan menjawab salam, bahkan tidak berdiri menyambut Auristela. Persis seperti tahun lalu.


Auristela memegang sertifikatnya, sedangkan Daffin memegang Pialanya. Auristela menatap mereka dengan sendu, terutama pada Ibunya.


Ia memberanikan diri menyalimi Ibunya yang masih asik duduk sambil menonton TV. Ia tersenyum tipis, memperlihatkan Sertifikatnya


"Auristela juara 1 lagi, Bu!" ucapnya terlihat ceria. Tapi Kyra malah menatapnya acuh.


Kyra mendongak menatap Auristela, "Kenapa?

__ADS_1


udah biasa, kan?" ucapnya acuh. Dan seketika senyum Auristela luntur, "ohh mau pamer sama Clarinta? Iya?!" lanjutnya sinis.


Auristela terdiam, ia menatap Ibunya dengan tatapan...kecewa. Ia tersenyum tipis, "Gak kok Bu, cuman mau nunjukin aja. Terserah Ibu kalau nganggepnya gitu. Aku mau ke atas, istirahat." ucapnya pelan, lalu mengambil alih Piala di tangan Daffin lalu melangkah menaiki tangga. Sebelum itu ia sempat melirik Clarinta yang tersenyum mengejek ke arahnya.


Daffin menggeram, "Aku gak tau apa yang kalian pikirkan. Terutama kamu, Kak!" ucapnya kesal lalu memilih pergi ke Rumah orangtuanya. Sebenarnya ia mau menginap lagi saja, tapi gara-gara tadi rasanya ia begitu malas. Ia sering melihat ini dan itu begitu memuakkan baginya.


Kyra sedikit terdiam. Ia tadi sempat tertegun dengan tatapan Auristela yang menyiratkan banyak sesuatu yang entah mengapa membuatnya sedikit merasa... Bersalah?.


Clarinta melirik malas ke Kyra yang malah terdiam,


"Udahlah Bu, lanjut nonton aja!" ucapnya dan Kyra pun menyetujuinya.


Auristela kini duduk termenung di ranjangnya setelah mandi dan shalat Maghrib. Ia melirik Piala dan Sertifikat yang kini terpajang di meja belajarnya.


Tatapannya kosong, begitu pun pikirannya.


Rasanya begitu sakit. Lalu ia tersenyum sinis,


"Percuma!"


Ia masih melamun hingga suara dering ponsel yang menampakan nama Ayahnya mengalihkan fokusnya.

__ADS_1


__ADS_2