
Galen baru saja menginjakkan kakinya di sekolah, namun dia sudah dihadapkan dengan seseorang yang tak asing. Kakak kelas sekaligus Perwakilan OSN sekolahnya tahun lalu. Dan Galen pun pernah melihatnya bersama Auristela dan Adelard.
"Siapa lo?"
Seseorang itu tersenyum miring, "Tetangga sekaligus sahabat kecil Auristela; Zayyan."
Galen sedikit terkejut mendengar siapa seseorang itu. Tapi dia masih bisa mengontrol ekspresi wajahnya.
"Apa urusan lo?"
"Lo terlalu angkuh, Galen Aileen."
"Gak usah banyak bacot!" desis Galen
"Ah, iceboy sekolah kita memang tidak bisa disinggung." Zayyan menikmati raut wajah Galen yang menahan emosi itu. Aneh sekali, dimana sikap tenang cowo itu?. "ikut gue ke taman belakang!" Akhirnya Zayyan kembali ke tujuan awalnya untuk berbicara pada Galen.
Keduanya sampai di taman belakang sekolah.
Mereka berdiri saling berhadapan.
"Gue gak nyangka lo bisa senekat itu kemaren," ucap Zayyan langsung to the point.
__ADS_1
Tentu dia tidak mau basa-basi yang pastinya juga tak akan dihiraukan makhluk ice di depannya ini.
Galen memutar bola mata malas mendengar itu.
"Apa Lo pernah denger ungkapan 'Gak ada kata sahabat diantara cewe dan cowo'. Keduanya atau salah satunya pasti bakal ngerasain jatuh cinta." Zayyan tersenyum miris, "dan sialnya gue malah jadi salah satunya yang jatuh cinta."
"Itu artinya lo gak tulus sahabatan sama dia," Galen menyahut datar
"Iya mungkin itu bener. Tapi setidaknya gue gak rusak persahabatan gue karena cinta sepihak."
Galen berdecih mendengar sindiran itu, "Lo terlalu naif!"
"Gue bisa berusaha. Dan gue merasa bersyukur hubungan mereka hancur, meski persahabatan gue juga hancur!"
"Lo egois! Inget ini Galen, 'Fase tertinggi dalam mencintai itu mengikhlaskan'. Dan gue harap lo paham akan itu."
Setelah mengatakan itu, Zayyan langsung pergi begitu saja. Meninggalkan Galen dengan segala pikirannya.
Pikiran Galen berkecamuk, dan bel tanda masuk membuyarkan pikirannya. Segera cowo itu ke kelas. Meskipun rasa ingin membolos tinggi, namun karena dalam 3 bulan ini sudah terbiasa masuk kelas, dia merasa aneh jika memilih untuk membolos.
Galen memasuki kelas yang terasa sunyi. Kejadian kemaren membuat atmosfer kelas terasa menyeramkan. Tapi ketika tidak ada para pelaku yang terlibat dalam masalah kejadian kemaren, pastinya kelas akan ramai membicarakan mereka.
__ADS_1
Berjalan menuju bangkunya, Galen bisa melihat Auristela yang tak meliriknya sedikitpun. Adelard yang masih stay duduk di samping kursinya meskipun cowo itu terlihat acuh padanya. Dan juga, Yeeshai dan Brady yang entah kenapa terlihat luka-luka di tubuh mereka. Mereka berdua juga hanya diam.
Entah kenapa keadaan ini membuat hatinya resah.
Waktu berlalu begitu saja, tak terasa sudah memasuki jam istirahat. Galen memilih bangkit.
Saat-saat Galen sedang memakan makanannya di kantin, Yeeshai dan Brady ikut bergabung bersamanya.
Hening
"Gue emang gak setuju Adelard sama Auristela. Tapi gue rasa tindakan lo kemaren keterlaluan." Yeeshai memecah keheningan ini
Galen masih setia dengan makanannya.
Brady menghembuskan nafasnya, "Gue gak nyangka persahabatan kita bakal rusak kaya gini." jeda "gue ngerasa bersalah salah nilai Auristela. Dan juga nentang hubungan Adelard sama Auristela dengan motif demi kebaikan Adelard. Gue ngerasa lucu. Gue gak pantes jadi sahabat. Bukannya dukung malah nentang dengan dasar yang gak jelas."
"Bener kata Adelard sama lo, kita gak bisa nyalahin Auristela akan hal ini. Tapi gue gak nyangka lo bakal seegois ini, Gal." Yeeshai menghembuskan nafas beratnya.
"Kita harap lo bisa perbaiki semua ini, dan kita pun juga akan ikut berusaha. Semoga berhasil."
Hening. Setelah Brady mengucapkan itu, tak ada lagi percakapan lagi. Galen tak berniat menimpali. Mereka sibuk dengan makanan dan pikiran masing-masing.
__ADS_1