Topeng

Topeng
Chapter 5


__ADS_3

Rasanya setelah perasaannya mulai membaik Karena Adelard, Auristela harus menerima kenyataan yang menamparnya keras. Terlalu lebay memang penggambarannya.


Abercio Filips


Auristela harus menerima kenyataan kalau cowo itu satu kelas lagi dengannya. Dan kali ini dia merasa sial karena cowo itu duduk di kursi sebelahnya.


Auristela rasanya nyaris gila ketika orang yang benar-benar dia benci lagi-lagi harus berada di sekelilingnya. Sungguh, Auristela tidak pernah merasa semarah ini meski dulu ia sering difitnah Zhafira dkk dan dihujat 1 sekolah.


Auristela menghela nafas kasar. Tenang oke. Batinnya mencoba menetralkan rasa menggebu-gebu dari dalam dirinya.


"Cha-"


"Jangan sebut nama itu!"


Auristela ingin tenang, tapi Abercio dengan kepekaan 0,9999999% itu selalu saja memancing emosinya. Oke, memang Auristela yang terlalu berlebihan. Tapi namanya udah benci mau gimana lagi. Cuman denger namanya disebut aja rasanya kekesalan tuh udah berada dipuncak! Apalagi pas dia nyoba ngajak ngobrol dengan gak tau dirinya!.


"Cha? Please. Gue pengen banget ngobrol baik-baik sama lo. Bisa entar lo-"


"Gue sibuk!" potong Auristela dengan tanpa perasaan.


Abercio menghela nafasnya kasar. "Cha." ucapnya lirih


Auristela gak peduli, sungguh. Mau Abercio ngemis-ngemis pun mungkin Auristela tetap gak akan peduli. Kebenciannya pada Abercio benar-benar sudah mendarah mendaging.


Memperhatikan Auristela yang sibuk dengan bukunya, Abercio memilih menyerah. Bukan dia gampang menyerah. Tapi ini bukan saat yang tepat. Lagian anak-anak masih berada di kelas. Ini bukan saatnya anak unggulan seperti mereka keluar, meski sebenarnya kelas masih free.


Abercio menatap sekeliling. Teman-teman kelasnya masih sama. Namun ketika dia menoleh ke belakang, dia menemukan 4 wajah asing. Bukan asing artian Abercio tak kenal mereka. Gimanapun siapa yang tak mengenal keempat Most wanted itu. Asing disini dalam artian mereka ber 4 bukan berasal dari kelasnya.


"Kalian pindah kelas?" tanyanya basa-basi


Mereka mengangguk. Kecuali Galen, cowo itu selalu saja asik dengan dunianya sendiri.


"Kok bisa?" tanya Abercio lagi. Yang Abercio tau, meminta perpindahan kelas di sekolah ini gak semudah itu.


"Ada deh. Kalau diceritain lo nantinya gak bakal habis pikir." Brady yang menjawab


Abercio akhirnya mengiyakan saja.


"Btw boleh kenalan?"


Adelard yang sedari tadi memperhatikan Abercio, pertama kali menanggapi, dia mengulurkan tangan ke arah Abercio


"Adelard Adelio. Panggil aja Adelard."

__ADS_1


"Gue Brady Fransisco. Panggil aja Brady."


"Gue Yeeshai Vincent. Panggil aja Yeeshai!"


"Galen Aileen. Galen."


Yeeshai tersenyum kikuk mendengar perkenalan Galen. "Jangan diambil hati. Biasa si es!" ucapnya


Abercio mengangguk mengerti, "Sans aja. Btw gue Abercio Filips. panggil aja Abercio. kalau ngerasa kepanjangen, panggil aja Aber."


"Ok dah! Salam kenal deh Aber." ucap Yeeshai.


"Lo ada temen di kelas ini, Ber?" tanya Brady


"Ya gue mah temenan aja sama mereka semua. Cuman temen deket sih gak ada." jawab Abercio seadanya


Brady menghela nafas lega, "Gue takutnya lo masuk jajaran rombongannya di Elard!" ucapnya


"Gak mungkin lah. Mana mau mereka sudi temenan sama cowo rajin modelan kaya gue."


Yeeshai berdiri dari tempat duduknya sembari menyaut, "Iya deh, anak pinter mah beda!" ucapnya lalu duduk di kursi yang sama dengan Adelard, sehingga mereka berdua berbagi tempat duduk. Adelard tampak kesal dibuatnya.


"Apaan dah lo ngomong gitu. Gue aja yang pinter gak rajin-rajin amat." Adelard menyahut tak terima. Bukan berarti cuman anak rajin doang yang pinter. Yang urakan macam dia pun juga bisa pinter. Hummm, yang emang udah pinter dari kecil macam Adelard emang gak bakal ngerti.


"Lo mah beda lagi ceritanya!"


"Serah deh." balas Adelard memilih mengalah


"Gimana rasanya balik ke sekolah ini lagi?" tanya Yeeshai kepada Abercio


Abercio tersenyum tipis, melirik sekilas ke arah Auristela yang masih sibuk dengan bukunya.


"Hmmm, rindu mungkin." balasnya


Ketiganya yang tau maksud rindu yang dikatakan Abercio hanya bisa terdiam. Adelard berdehem mencoba mengendalikan perasaan tak terimanya. Mana ada cowo yang baik-baik aja ketika ada cowo lain rindu sama cewenya.


"Lo gak kecantol cewe disana gitu pas pertukaran pelajar?" tanya Adelard mencoba terlihat biasa saja


Sekilas Abercio membuang muka sembari tersenyum pedih. Saking cepatnya mungkin tak ada yang menyadarinya. Namun ketiga cowo di depannya tentu saja menyadari itu.


"Gimana mau suka cewe lain, kalau hati gue aja udah stuck ke seseorang." Abercio menjawabnya dengan acuh


Ketiganya berfikir mungkin Auristela lah cewe yang Abercio maksud. Namun dengan wajah penuh penasaran, Brady bertanya mengenai siapa cewe itu.

__ADS_1


"Ada lah pokoknya." Abercio menjawab dengan misterius. Dan seolah menekankan, dia tidak mau membahas lebih lanjut tentang cewe yang ada dihatinya itu.


Ketiganya mengangguk saja memaklumi. Namun lain dengan batin mereka.


"Gue bingung mau gimana deskripsi kan hubungan ketiganya kalau Aber beneran suka sama Auris." batin Brady


"Penasaran gue sama drama yang bakal terjadi kalau sampe beneran cewe yang Aber maksud itu Auris." batin Yeeshai


"Kalau cewe itu Auris, apa bener mereka pernah pacaran?" batin Adelard merasa gelisah.


Keempatnya lanjut mengobrolkan hal lain, mengalihkan pembicaraan tentang cewe yang disukai Abercio.


Sedari mereka berempat mengobrol, Galen tidak benar-benar acuh. Diam-diam cowo es itu mendengarkan obrolan mereka. Galen merasa tak terima jika Auristela lah disukai oleh Abercio. Galen bersumpah akan mengawasi cowo itu mulai sekarang. Jangan sampai cowo itu membuat kehancuran pada hubungan Auristela dan Adelard. Cukup dia saja yang dulu hampir menghancurkan hubungan keduanya, jangan ada lagi.


Tidak jauh beda dengan Galen, Auristela juga diam-diam ikut mendengarkan obrolan mereka. Entah kenapa dia merasa tak nyaman. Padahal belum tentu yang dirindukan Abercio adalah dirinya. Dan juga belum tentu dialah yang Abercio sukai. Tapi melihat sikap Abercio kepadanya selama ini, Auristela rasa tebakannya tidak sepenuhnya salah.


Kenapa Auristela memikirkan itu? Memang kenapa jika Abercio merindukannya? Menyukainya?. Auristela tidak perlu goyah. Itu bukan urusannya. Malah ia semakin membenci Abercio. Apa-apaan cowo itu, sandiwara apa lagi yang dia mainkan?!.


Auristela bangkit berdiri setelah melihat anak kelas juga mulai keluar. Tindakan Auristela itu sontak mengalihkan perhatian kelima cowo itu.


Auristela menatap Adelard, "Kantin yuk, Ade." ajak Auristela terkesan manis


Abercio bertanya-tanya. Mengapa panggilan Auristela berbeda kepada Adelard?.


Adelard bangkit, "Ikut gak lo pada?" tawarnya, lalu dia merangkul bahu Auristela, "gue cabut duluan yah sama cewe gue."


Kentara sekali Adelard ingin menegaskan pada Abercio bahwa Auristela adalah miliknya, dan gak ada harapan buat Abercio buat milikin Auristela.


Abercio tertiam sembari menatap punggung kedua sepasang kekasih itu yang semakin menjauh.


"Mereka pacaran?" gumamnya


Galen yang kebetulan lewat di samping Abercio dan mendengar itu, menjawab dengan tegas.


"Ya, mereka pacaran."


Abercio membeku mendengarnya. "Udah gak ada harapan yah?" batinnya miris.


...----------------...


TBC


Ada gak yang ngerasa kasian sama Abercio?

__ADS_1


Jangan lupa vote, like, komen and share yah!


__ADS_2