Topeng

Topeng
Thank, Auris


__ADS_3

"Pak lepasin kita, Pak!"


"Kita gak terlibat, Pak!"


"Kita bahkan gak kenal mereka Pak, ya Allah!"


"Sumpah Pak, kita cuman gak sengaja lewat!"


"Kita gak ikutan, malah kita korban!"


Setelah pergi dari Rumah Adelard, Brady dan Yeeshai malah terkena sial. Bisa-bisanya saat mereka sedang dalam perjalanan ke Rumah, mereka terjebak anak-anak yang sedang tawuran. Kena pukul dan parahnya motor mereka berdua di rusak.


Ya, kalau sekedar itu mungkin mereka masih mending walau sebenarnya ya gak ada mending-mendingnya. Bisa-bisanya mereka berdua tertangkap polisi, sedangkan para pelaku sebenarnya, para anak-anak yang tawuran malah bisa lolos. Benar-benar sial!.


Akhirnya mereka berdua memilih pasrah. Baru saja hendak dimasukan ke dalam mobil polisi, suara seseorang menginterupsi mereka.


"Ini ada apa yah?" tanya seseorang


Mereka semua menoleh ke sumber suara.


"Loh, Auris, Clarin!" ucap salah satu polisi


"Paman, ini temen aku mau dimana kemana?" tanya Auristela


"Ini temen kamu? Ini loh, mereka tadi terlibat tawuran dan berhasil Paman sama kawan-kawan tangkap, tapi mereka gak mau ngaku." jelas Pak polisi itu yang ternyata Paman dari Australia dan Clarinta


Auristela dan Clarinta seketika terkejut mendengar penjelasan dari Paman mereka itu.


"Paman keknya salah deh, mereka gak mungkin terlibat tawuran. Orang mereka temen satu kelas Auris kok, Auris tau gimana mereka. Bebasin aja ya Paman!" bujuk Auristela


Brady dan Yeeshai terkejut mendapat pembelaan dari Auristela. Mereka pikir Auristela akan membiarkan mereka, kirain Auristela dendam dengan perlakuan jahat mereka selama ini.


"Tapi kamu beneran bisa jamin ini kan, Auris!"


"Iya, Paman bisa percaya sama Auris!"


"Oke kalau gitu, Paman mau lanjut patroli!"


Ketika mobil polisi itu sudah jauh, Auristela memandang ke arah Brady dan Yeeshai


"Kenapa lo tolongin kita?" Yeeshai membuka pembicaraan

__ADS_1


Auristela mengangkat bahunya acuh, "Gue cuman ngelaksanain kewajiban gue sebagai sesama manusia," balasnya


Yeeshai tersenyum mengejek, "Bukannya hati lo batu yah!"


Clarinta yang mendengar itu sontak emosi, "Lo kok gak ada terima kasih banget yah Kak udah ditolongin!" sentaknya


Brady menyenggol Yeeshai, "Jangan mulai!" peringatnya


Brady menatap Auristela, "Makasih banget Ris udah mau nolong kita. Kalau gak ada lo gak tau lagi deh entar gimana," ucapnya tulus


Auristela mengangguk, "Sans!" balasnya "mau kita obatin dulu luka kalian?" tawarnya


Clarinta menyenggol Auristela, "Apaan sih, Kak!" ucapnya tak terima, namun Auristela tak menghiraukannya.


"Dek, jagain dulu yah, Kakak mau balik ke minimarket tadi!" ucap Auristela


Clarinta berdecak menatap punggung Kakaknya yang semakin jauh itu.


Hening. Hingga suara Brady memecah keheningan ini.


"Lo bukannya gak akrab sama Kakak lo yah?"


tanya Brady penasaran


"Gak sopan banget sama Kakel. Di sekolah aja sok polos!" Mulut mercon Yeeshai akhirnya mulai beraksi


Clarinta sontak emosi mendengar itu, "Lo kok nyebelin banget yah, Kak!"


"Lah kenapa? Bener kan yang gue omongin?" tantang Yeeshai


Baru saja Clarinta hendak membalas, kedatangan Auristela menghentikan niatnya


"Udah beli nih! Cla, kamu bantu obatin Brady yah!"


Auristela mulai membersihkan luka-luka di wajah Yeeshai, "Kalian kenapa bisa kejebak tawuran gitu?" Auristela membuka percakapan


"Bukan urusan lo!" balas Yeeshai sinis


Clarinta berdecak mendengar itu.


"Kita gak sengaja aja kejebak Ris waktu lewat jalan sini. Tau-taunya malah kena pukul. Motor dirusak lagi. Belum lagi malah ketangkep polisi. Sial banget keknya." Brady menjelaskan tanpa diminta

__ADS_1


"Ouh gitu yah. Ya udah nanti motornya biar gue yang urus, gue bawa ke bengkel. Kalian pakai motor gue dulu buat pulang." ucap Auristela masih fokus mengobati Yeeshai


"Sumpah lo baik banget Ris. Makasih sekali lagi!"


"Sans!"


"Eh, BTW kenapa lo sama Adek lo bisa nemuin kita?"


"Ouh itu, gue sama Clarin tadi ke minimarket mau beli cemilan, pas pulangnya gak sengaja lihat ribut-ribut. Karena ngerasa suaranya gak asing jadi kita coba samperin. Eh malah dapetin kalian mau dibawa sama Paman kita!"


"Oh gitu ya, untung aja."


"Udah nih!" Auristela beranjak.


Clarinta dan Brady pun ikut beranjak. Yeeshai juga, tapi tiba-tiba kakinya terasa sakit membuatnya mengerang.


Brady seketika panik, "Bisa bantuin Yeeshai gak? Tangan gue agak sakit," pintanya


Akhirnya Auristela pun membantu Yeeshai berdiri dan menuntunnya ke motor walau agak kesusahan.


Yeeshai rasanya ingin mengumpat saja. Kenapa disaat seperti ini malah Auristela yang menolongnya? Rasanya ia benar-benar tak punya muka di depan cewe ini.


Brady sudah akan menjalankan motornya, "Rumah kalian jauh gak? Kalau jauh, mending kita minta bantuan aja."


Auristela seketika menggeleng, "Gak kok gak jauh! Mending dibawa kalian aja! Kita bisa kok jalan kaki!"


Brady masih menunjukan raut tidak enaknya, "Ya udah deh! Thank yah sekali lagi! Hati-hati kalian!" pamitnya


Auristela hanya mengangguk.


Baru satu meter motor itu melaju, Yeeshai tiba-tiba menoleh ke belakang, "Thank, Auris!"


ucapnya


Auristela hanya membalasnya dengan senyum kecil.


Huh!


Clarinta yang sedari tadi terdiam menyenggol lengan Kakaknya itu, "Ck! Kita harus ngurusin motor mereka lagi! Jarak Rumah juga lumayan jauh!" keluhnya


Auristela terkekeh kecil, "Ikhlas udah, itung-itung pahala!"

__ADS_1


Clarinta memutar bola matanya malas, menanggapi.


__ADS_2