Topeng

Topeng
Terbongkar


__ADS_3

Pagi ini di koridor sekolah, Auristela tengah melangkah ke arah kelasnya, namun di jalan ia mendapati banyak bisik-bisik anak-anak yang tengah membicarakan kedatangan Adelio yang penuh luka. Mereka menyalah-nyalahkan Auristela. Namun Auristela tidak peduli itu, ia memilih mempercepat langkahnya menuju kelas dengan sedikit berlari.


Ketika telah masuk ke dalam kelas, pandangan Auristela langsung mengarah ke arah Adelio yang juga tengah memandang ke arahnya. Jantung Auristela rasanya seperti berhenti berdetak ketika melihat keadaan cowo itu yang banyak terdapat bekas luka, lebam dan juga ada plester yang menempel di dahi cowo itu.


Dengan pelan Auristela mendekati cowo itu. Tepat ketika dia duduk di samping cowo itu, ia langsung menangkup wajah cowo itu.


“Ris-“


Grep!


Adelio yang hendak berucap ketika bungkam, ketika Auristela langsung memeluknya erat. Pelukan pertama dari cewe itu untuknya. Dan Adelio lagi-lagi tak bisa berkata-kata ketika merasakan bahunya basah. Auristela menangis? Karenanya?.


“Hiks! Maaf. Gara-gara aku kamu jadi kaya gini, hiks!. Aku emang cuman bisa buat kamu dapet sial sama masalah doang, hiks!”. Auristela terisak kecil.


Dan itu membuat Adelio dan anak-anak kelas tak percaya melihat ke arah cewe itu.


Zhafira dkk seketika mengatai Auristela caper dan lain-lain. Anak-anak juga ikut-ikutan dan terus menyalahkan Auristela akan apa yang menimpa Adelio. Heran sekali, bahkan pelaku sebenarnya yang entah sedang dimana tidak disalahkan.


Karena ulah mereka semua itu, Auristela yang dilanda rasa bersalah pun semakin tertekan. Ia bahkan sampai mencengkram erat seragam Adelio. Adelio yang mengerti pun, mengulurkan kedua tangannya membalas pelukan Auristela. Dia mendekatkan wajahnya pada telinga cewe itu,


“Kamu gak usah merasa bersalah, Auris. Disini aku yang lemah. Tunggu aja saat-saat aku bisa membalas mereka semua. Dan membungkam mulut sialan mereka,” bisiknya.


Dan seketika itu cengkeraman Auristela mengendur. Bukan. Auristela tidak tenang mendengar itu. Dia malah takut. Takut Adelio berubah jadi sosok yang menyeramkan. Ia takut, ulah Elard dkk akan menimbulkan dendam untuk Adelio. Ia takut Adelionya berubah.


Yeeshai, Brady dan Galen yang datang tak lama setelah kedatangan Auristela pun menyaksikan dan mendengar semuanya.


Jujur saja dalam diri Yeeshai dan Brady, mereka tertegun dengan tingkah Auristela. Dan hati mereka tersentil, merasa bersalah pada Auristela. Tapi karena terpengaruh ucapan-ucapan di sekeliling mereka, mereka pun sama mengira bahwa Auristela hanya caper.

__ADS_1


Mereka berdua saling pandang lalu memutar bola mata malas dan melangkah ke meja mereka. Lain dengan mereka berdua, Galen sendiri tengah mengepalkan tangannya saat ini. Jelas saja rasa cemburu menyerangnya, belum lagi mendengar hinaan yang tertuju untuk Auristela. Rasanya dia begitu emosi saat ini. Dia menatap penuh emosi ke arah Adelio.


***


Jam Istirahat


Auristela memilih tidur di kelasnya. Karena itu, Adelio berniat membelikan roti dan susu untuk Auristela.


Setelah selesai dengan urusannya, baru saja Adelio hendak keluar dari kantin, seseorang menarik plastik yang ia pegang begitu saja membuat isinya berhamburan. Adelio seketika mendongak dan dia benar-benar terkejut mendapati Galen di depannya.


“Mau lo apa?” tanya Adelio lirih namun tersirat emosi dalam nada suaranya.


“Lo jangan diem aja sialan! Ngomong! Lawan! Belain! Jangan sembunyi terus dalam Topeng! Gue muak sialan!” semprot Galen panjang lebar


Karena itulah mereka saat ini jadi pusat perhatian. Galen tak peduli, ia terlanjur emosi. Dari koridor kelas hingga masuk ke kantin, banyak sekali yang membicarakan Auristela karena keberangkatan Adelio dengan keaadaan yang tak baik. Sontak ketika ia melihat Adelio disini, langsung saja ia menghampiri cowo itu.


“Bukan urusan lo!” balas Adelio masih dengan menahan suaranya. Tentu saja yang menyaksikan tak mendengarnya. Hanya Galen saja yang dengar.


“Sialan! Bener-bener cupu lo!”


Sontak yang menyaksikan bingung, Lah, bukannya Adelio emang cupu?. Pikir mereka.


Kecuali Yeeshai dan Brady tentunya. Tentunya mereka tak suka menyaksikan itu. Tapi mereka juga terlalu malas untuk memisahkan.


“Urusannya sama lo apa?”


“Lo!” jeda “kalau gak bisa lindungi dia, gak usah pacaran yang ujung-ujungnya cuman buat dia semakin diinjak-injak! Mikir!”

__ADS_1


“...”


“Lo gak pantes buat dia!”


“...”


“Cupu!”


“...”


“Kalau gak bisa lindungin mending kasih ke gu-“


Brak!


Seketika Adelio menendang kasar kursi kantin di dekatnya sampai terjungkal. Sontak yang menyaksikan terkejut.


“Shut up your mouth!” desis Adelio tajam


Sungguh yang menyaksikan tak menyangka mendengar itu.


Galen menyeringai sinis, “Why? What's wrong? Auristela emang gak pantes sama cowo cupu kek lo yang cuman bis-“


Kretek!


Adelio seketika melepas dan menginjak kacamatanya penuh emosi. Masih sambil menunduk, dia mengacak-acak kasar rambutnya, melepas 2 kancing teratas seragamnya, mengeluarkan seragamnya dari celana dengan kasar, lalu mendongak sembari menarik dasinya dengan kasar dan melemparkannya begitu saja.


Sontak yang menyaksikan langsung shok!

__ADS_1


“Adelard.” gumam mereka lirih


__ADS_2