Topeng

Topeng
Dramaqueen


__ADS_3

Pagi ini Auristela dan Clarinta berangkat sekolah diantar oleh Daffin. Yang pasti Auristela hanya jadi patung saja di dalam mobil, bahkan ia memilih duduk di belakang sambil memasang earphone, mendengarkan musik sambil bersandar pada jok dan mata yang tertutup. Sungguh nikmat!.


Ia tak peduli pada celotehan Clarinta di depan sana, hingga mobil pun sampai di depan gerbang sekolah.


Auristela turun terlebih dahulu disusul Clarinta, lalu mobil pun meninggalkan gerbang.


Auristela berbalik setelah mobil pergi, ia mulai berjalan santai masih dengan earphone yang tersumbat di telinganya.


Entah apa lagi yang dipikirkan Clarinta, tiba-tiba saja ia memanggil-manggil Kakaknya itu.


"KAK! KAK AURIS TUNGGUIN!" teriaknya menggema masih di sekitaran parkiran.


Dan apa Auristela peduli? Oh tidak! Ia semakin mengeraskan volume musiknya. Ia sedang malas meladeni Clarinta saat ini.


Biasanya juga gitu sih! Hehehe.


Clarinta diam-diam tersenyum melihat respon tak peduli Kakaknya seperti biasa. Ia melirik sekeliling yang mulai membicaran mereka, tepatnya menghujat Kakaknya itu. Clarinta dengan sengaja menjatuhkan kakinya sendiri, menyebabkan ia terjatuh.


"KAK! TOLONGIN! AKU JATUH, KAK!" teriaknya lagi.


Auristela masih mendengar itu, tapi ia memilih memutar bola matanya. Biarlah.


Ia biarkan Adiknya itu berhasil menjalankan rencananya.


Auristela masih lanjut berjalan santai walau hujatan menemaninya. And yup! She doesn't care.

__ADS_1


Walau ia memakai earphone, suara gaduh orang-orang di belakangnya masih terdengar jelas oleh Auristela dan mereka semua seperti sedang berbelas kasihan dengan Adiknya itu.


Benar kan apa yang dia batinkan tadi pagi? Yang dimaksud bakat Clarinta ya, ini. Drama!. Semoga sukses Clarinta!.


***


"Hei Dek lo gak papa?" tanya seorang cewe kakak kelas pada Clarinta


Clarinta hanya mengangguk, lalu matanya berkaca-kaca menarik atensi mereka.


"Eh eh jangan nangis!"


Clarinta menggeleng


"Gak usah bohong deh!" ucap seseorang yang lain


"Iya, pasti lo sedih banget yah punya Kakak yang berhati batu itu!"


"Ya iyalah pasti sakit! Orang tadi aja Adeknya gak dipeduliin!"


"Gila banget yah! Padahal itu Adeknya loh!"


Suara-suara mencaci Auristela mulai terdengar bersahutan


" Eh, Dek! Lo kenapa gak coba lawan aja sih, kaya waktu lo debat di kantin bareng temen lo sama Zhafira dkk?" tanya seseorang.

__ADS_1


Wow that is the best question!


Clarinta senang dengan pertanyaan ini. Ia kira wujud polosnya di sekolah akan hancur setelah ikut mengejek Kakaknya Minggu lalu. Tapi apa ini? Ia malah dikira hebat bisa melawan Kakaknya.


Clarinta tersenyum dalam hati. Ia menunduk, masih menjalankan aktingnya


"Eumm gak berani Kak! Waktu sama Kak Zhafira dkk aja udah kena tampar! Apalagi sendiri!"


"Duh kasian," celetuk seseorang


"Adiknya polos Kakaknya iblis!"


Clarinta lagi-lagi tertawa dalam hati, sahut menyahut cacian untuk Kakaknya terdengar membuat Pagi harinya indah.


"Salah siapa tadi buat mood gue buruk di meja makan! Ah rasanya kangen udah lama gue gak akting lagi!" batin Clarinta senang


Clarinta memilih beranjak pergi dari situ. Ia melirik ke arah parkiran ada Zhafira dkk yang sedang bersedekap dada tersenyum miring, puas dengan kerjaan Clarinta dan Clarinta membalasnya dengan senyum juga.


Tanpa Clarinta sadari, Adelio melihat interaksinya, membuat Adelio semakin yakin Auristela hanya dijebak. Adelio tak habis pikir, apa yang dipikirkan mereka hingga bisa berbuat seperti itu? Mungkin jika tak menyamar, ia tak akan mengetahui fakta ini.


Adelio mendengus,


"Dasar Dramaqueen munafik!!! Adiknya sendiri aja gitu! Gimana sama yang lainnya coba?" batin Adelio kesal.


Adelio memilih menuju kelas menyusul Auristela yang sudah berjalan jauh. Lihatlah betapa kuat dan tenangnya cewe itu. Adelio benar-benar kagum dengan cewe itu.

__ADS_1


__ADS_2