Topeng

Topeng
Zhafira


__ADS_3

"Zhaf, ini gimana? Bisa-bisanya Adelard nyamar!" Keysa berseru


"Pantes aja Auristela mau. Pasti tuh anak lagi drama sekarang!" Davina menjulid


"Tapi kalau drama, bukannya itu terlalu berantakan banget? Persahabatan 4 cowo itu rusak, hubungan Auristela sama Adelard juga ikut rusak. Aura Auristela juga terlalu mencekam kalau dianggep cuman drama." Faranisa mengemukakan pendapatnya


Zhafira meremas botol plastik minumannya, "Kenapa cewe itu selalu beruntung? Sial!"


Dengan penuh emosi Zhafira melemparkan botolnya begitu saja.


"Ada Adelard, Zhaf!" seru Keysa


Ketiganya menoleh ke arah masuk pintu kantin. Terlihat Adelard memasuki kantin dengan wajah datarnya itu. Bukan Adelard sekali. Meski Adelard tidak terlalu humoris, namun cowo itu tidak dingin. sikapnya biasa-biasa saja. terlalu ramah tidak, terlalu dingin juga tidak. Normal-normal saja.


Meredam emosinya sebentar, Zhafira mengembangkan senyumnya dan bangkit hendak menghampiri cowo itu.


Ketiga temannya tidak ikut campur. Mereka memilih memperhatikan, dan berharap masih bisa mendekati Adelard dkk seperti dulu.


Muak. Itu yang Adelard rasakan. Belum juga moodnya membaik karena kejadian tadi, sekarang dia malah harus berhadapan dengan sumber masalah untuk Auristela.


Zhafira


"Lard, gue mau minta maaf sama perbuatan gue dulu. Gue gak tau kalau itu lo. Gue niatnya cuman main-main kok! Gue cuman mau buktiin ke semua orang kalau Auristela emang se gak peduli itu!" Zhafira berbicara dengan menggebu-gebu.

__ADS_1


Adelard berdecih, "Buat orang luka sama ngerusak mental orang itu main-main yah?"


Wajah Zhafira berubah pias mendengar itu. Ia ingin mengelak tapi sudah kedahuluan oleh Adelard


"Dan lo ngelakuin itu cuman karena hal gak jelas kaya gitu?! Bilang aja lo emang iri sama dia!"


Diam-diam Zhafira mengepalkan kedua tangannya


Adelard menatap seluruh anak di kantin, "SEMUANYA DENGERIN GUE! BUAT KALIAN YANG BERHASIL KETIPU SAMA ROMBONGAN CEWE GAK WARASNYA DIA!" Adelard menunjuk Zhafira dan kawanannya, membuat wajah mereka pias. Apalagi Zhafira.


"GOBLOK TAU GAK! KALIAN BAHKAN TAU GIMANA AURISTELA DULU KAYA GIMANA. DIA RAMAH KE KALIAN, BAIK KE KALIAN, GAK PERNAH NYARI MASALAH! DAN KARENA DRAMA MURAHAN DAN GOSIP-GOSIP DARI MEREKA, BISA-BISANYA KALIAN MENGHUKUMI AURISTELA JELEK! BENER-BENER GAK ADA OTAK! TOLOL!"


"ASAL KALIAN TAU, MEREKA TERUTAMA ZHAFIRA, CUMAN IRI! AURISTELA BINTANG EMASNYA SEKOLAH, DAN DIA GAK BISA NYAINGIN AURISTELA DALAM SEGALA HAL, APALAGI SAMPAI GANTIIN POSISI AURISTELA SEBAGAI BINTANG SEKOLAH! JADI KALIAN FIKIR SENDIRI GIMANA ZHAFIRA BISA-BISANYA JATUHIN AURISTELA! PUNYA OTAK DIGUNAIN! JANGAN TOLOL JADI ORANG!"


Keadaan kantin hening, mereka mulai merenungi kesalahan mereka dan juga ada yang mulai menatap Zhafira dkk dengan pandangan mencemooh. Terutama kepada Zhafira. Bahkan ada yang mulai menghakimi mereka.


Ah, sesingkat itu anak-anak berubah haluan. Dasar manusia!.


Ketiga teman Zhafira mulai tidak nyaman. Mereka menghampiri Zhafira, mengajak cewe itu untuk pergi. Zhafira hanya menurut dengan pandangan kosong. Perkataan Adelard sungguh mempengaruhi dirinya.


Flashback on


Satu 1/2 tahun yang lalu. Awal tahun ajaran baru bagi murid-murid SMA Bangsa Maju. Terutama bagi anak-anak baru kelas satu SMA.

__ADS_1


Dari Taman Kanak-kanak Zhafira selalu menjadi nomer satu. Dari kecantikan, kepintaran hingga kepopuleran. *Saat memasuki SMA pun dia berhasil masuk ke kelas unggulan. Dia sudah berangan-angan kalau dia akan menjadi nomer satu lagi seperti biasa.


Namun angan-angannya harus sirna ketika dia bukanlah apa-apa di kelas itu. Banyak yang masih unggul darinya. Awalnya dia masih bisa menerima, karena dia pun cukup sadar dia sudah berada dijenjang SMA yang pastinya banyak anak-anak yang melebihinya.


Namun ada seseorang yang tidak bisa Zhafira terima. Seseorang itu hampir sempurna sebagai manusia. Dia pintar, cantik, ramah, banyak yang menyukainya dan dia sangat populer. Entah dikalangan para murid-murid SMA Bangsa Maju maupun dikalangan guru-guru.


Seseorang itu disebut-sebut sebagai bintang emasnya sekolah, karena berhasil memenangkan lomba OSN Fisika. Banyak sekali yang memujinya dan ingin berteman dengannya. Dan jujur saja itu membuat Zhafira mulai iri. Dan semua yang dilakukan Auristela seakan salah dimatanya. Ia selalu merasa Auristela caper dan hal-hal buruk lainnya.


Lama-lama rasa iri itu pun menjadi kebencian. Puncaknya saat kenaikan kelas. Auristela berhasil menjadi murid terpintar nomer satu di angkatannya. Dia benar-benar bisa membuktikan kebenaran julukannya yang seorang Bintang emas sekolah*.


*Auristela semakin diagung-agungkan dan itu sangat memuakkan baginya.


Awal masuk dibangku kelas 2, Zhafira merasa ada kejanggalan pada Auristela dan seorang adkel. Zhafira sering melihat mereka satu mobil saat berangkat maupun pulang sekolah. Tapi anehnya mereka seperti tidak akrab. Si adkel tampak tidak menyukai Auristela.


Zhafira mulai punya celah untuk menjatuhkan Auristela dengan bekerjasama dengan adkel itu yang ternyata adik Auristela. Zhafira kira adkel itu polos sehingga mudah jika ia pengaruhi. Tapi ternyata itu hanya topeng. Dan Zhafira begitu terkejut saat banyaknya kebencian dalam diri adkel itu untuk Kakaknya sendiri. Adkel itu sama sepertinya, muak dengan pujian yang selalu terlontar untuk Auristela. Bedanya jika permasalahan Zhafira itu di sekolah, maka permasalahan adkel itu di rumah dan mungkin bertambah di sekolah karena di sekolah banyak yang membicarakan keunggulan Auristela.


Akhirnya Zhafira dan adkel yang bernama Clarinta itu mulai bekerjasama untuk menjatuhkan Auristela. Mereka juga mencari sekutu. Mereka dan kawanannya mulai melakukan drama-drama murahan yang melibatkan Auristela agar Auristela dibenci. Setelah berdrama mereka juga menyebarkan gosip-gosip buruk tentang Auristela. Ditambah dengan Clarinta yang seakan-akan tertindas oleh Auristela, membuat asumsi buruk anak-anak. Apalagi ada sebagian anak yang tau Auristela dan Clarinta kakak-beradik. Auristela juga hanya diam seperti tidak peduli. Cewe itu awalnya terkejut dengan apa yang mereka lakukan, namun entah karena apa cewe itu memilih diam dan selalu menampakan wajah datarnya.


Tidak ada lagi keramahan dan senyuman diwajah cewe itu. Semua orang menghakiminya, mencap buruk dirinya, membencinya.


Zhafira berhasil menjatuhkan Auristela di mata anak-anak. Namun di mata guru-guru, itu terasa sulit. Guru-guru masih saja menyayangi cewe itu, meskipun Auristela sendiri juga mulai acuh terhadap guru-guru itu.


Tapi tak apa, sedidaknya ia tidak lagi mendengar pujian yang terlalu berlebihan untuk Auristela. Ya, setidaknya ia berhasil menjatuhkan Auristela walau tak sepenuhnya*.

__ADS_1


Flashback off.


__ADS_2