
Tanpa sadar Auristela bermain disini sampai isya. Ia juga tadi sempat makan malam dulu bersama Galen dan orangtuanya. Melihat aura dingin Ayah Galen membuat Auristela menilai sikap dingin Galen menurun dari Ayahnya. Dan ternyata juga Galen itu anak tunggal.
Auristela sudah sampai di depan Rumahnya, ia tidak akan dimarahi, karena sudah izin, walau ya cibiran tetangga dan Clarinta nantinya pasti akan terdengar.
Galen pergi melajukan mobilnya. Auristela tidak langsung masuk. Ia menatap samping Rumahnya, Rumah yang Zayyan tinggali. Ia melihat Zayyan keluar pagar, ia senang. Seketika ia tersenyum menatap Zayyan, sedangkan Zayyan menatapnya sinis.
"Darimana lo? Pulang jam segini dianter cowo! Mau jadi cabe-cabean?!" sinis Zayyan
Auristela terkejut, ia menatap Zayyan tidak percaya, bahkan matanya sudah berkaca-kaca. Ia tidak apa-apa dibenci, dicaci, dikata-katain oleh orang lain bahkan keluarganya. Tapi ia tidak akan terima jika itu Zayyan, orang yang selama ini dekat dan mempercayainya.
"Engga Zayyan! Gue tadi cuman mampir buat lihat kucing!" belanya
"Kucing? Cih!"
"Zayyan, lo kan tau gue gak boleh rawat kucing atau peliharaan lainnya, padahal gue suka! Jadi gue nitip kucing sama dia!"
"Harus cowo gitu?"
"Ya engga, cuman kan-"
Belum sempat Auristela menyelesaikan kalimatnya, Zayyan sudah lebih dulu memutar tubuh dan berlalu. Auristela mengejarnya sambil berusaha memperbaiki kesalahpahaman Zayyan.
Zayyan makin mempercepat langkahnya setengah berlari hingga Auristela kewalahan. Zayyan menuju danau dekat situ, karena kebetulan di perumahan itu ada danau yang tidak terlalu jauh. Jarang memang.
Zayyan hilang di antara pohon-pohon sekitar situ. Auristela menatap sekeliling, mencari keberadaan Zayyan.
__ADS_1
"ZAYYAN!" teriaknya
"ZAYYAN!"
"ZAYYAN KELUAR!"
"Zayyan jangan kaya gini gue takut!"
"Zayyan lo boleh marah sama gue, tapi jangan tinggalin gue sendiri disini!"
"ZAYYAN!!!"
Auristela menatap sekeliling, matanya sudah berkaca-kaca. Bukan Auristela cengeng atau penakutlah! Tapi coba kalian bayangin malem-malem gelap, di danau sendirian, banyak pohon-pohon. Terus ada suara krasak-krusuk gak tau apa, pasti bikin merindingkan?.
"Zayyan," gumamnya parau. Ia mulai terisak kecil.
Hingga ia merasa lengannya hangat, seperti ada api di dekat lengannya.
Ia mendongak
"HAPPY BIRTHDAY MY ANGEL!!!" seru Zayyan di depannya dengan sebuah kue kecil
"Jadi ini, Prank?" tanya Auristela sendu. Walau sedikit terkejut tadi.
Zayyan merentangkan tangannya dan Auristela langsung memeluk Zayyan sambil terisak kecil dan memukul-mukul punggung Zayyan.
__ADS_1
"Jahat!!" kesalnya masih terisak
Zayyan terkekeh, ia membalas pelukan Auristela dan mengecup puncak kepala Auristela.
Auristela mendongak, matanya sudah sembab. Zayyan terkekeh lagi, ia menghapus sisa-sisa air mata itu.
"Udah-udah! Nih buat permintaan terus tiup lilinnya!" ucap Zayyan lalu menyodorkan kue kecil dan menyalakan lilinnya.
Auristela memberengut tapi akhirnya ia menurut. Tak lupa fotonya diambil.
Mereka selfi-seli bersama, lalu duduk menatap danau dengan Auristela yang memegang kue.
"Jadi ini semua Prank?" tanya Auristela lagi
Zayyan tersenyum.
"Ya gue sengaja gak dateng ke Perpus, pura-pura marahan sama lo dan nyaci lo tadi. Terakhir kerjain lo disini!"
Auristela menghembuskan nafas, itu artinya Zayyan tak melihat kejadian di perpustakaan.
"Jahat ih!" kesal Auristela sambil mengoleskan cream kue ke wajah Zayyan.
Zayyan terkekeh lalu membalas perbuatan Auristela.
Auristela yang tidak terima pun hendak membalas, tapi Zayyan malah bangkit dan lari. Auristela ikut bangkit mengejar Zayyan hingga terjadilah aksi kejar-kejaran.
__ADS_1