Topeng

Topeng
Penyebar


__ADS_3

Gimana perasaanmu saat orang-orang mencacimu, mengataimu yang tidak-tidak, padahal itu semua tidak benar, padahal kamu tidak melakukan apapun.


Kamu pasti bertanya-tanya, siapasih yang udah nyebarin gosip gituan?


Gimana perasaanmu jika keluarga yang seharusnya melindungimu dari gosip-gosip itu, membersihkan namamu dari gosip-gosip itu malah merekalah pelaku dari penyebar gosip itu? Gimana? Sakitkan? Gimana orang lain mau nilai kita baik, kalau keluarga kita sendiri menjelek-jelekan kita?


Mereka pasti akan mengira kita itu muka dua. Diluar gini, tapi ternyata didalam keluarganya kaya gitu.


Orang-orang pasti akan menilaimu buruk, karena keluargamu sendirilah


yang membuat citramu buruk.


Pulang sekolah ini, Auristela sedang berjalan di komplek perumahannya. Ia ingin berjalan kaki sebentar, jadi ia tidak menghentikan taxi di depan rumahnya.


Setiap ia melangkah, tetangga- tetangganya meliriknya, tapi mereka tidak berani berhadapan dengannya,


mereka akan pura-pura menyapanya saat berpapasan dengannya.


Terkadang Auristela bingung, kenapa akhir-akhir ini banyak yang menyapanya saat bertemu, padahal dia sama sekali tidak mengenal mereka.


Tapi dia paham, mereka memang banyak menggosipinya, jadi ia terkenal di sini, walauya...dicap buruk.


Ia memasuki Rumah, mengucap salam,


mencari Ibunya, menyalami tangannya, walau ibunya seperti ogah-ogahan.


Sedangkan Adiknya? Dia sedang main dengan teman-temannya entah kemana.


Ia memilih untuk menaiki tangga, hendak menuju kamarnya, namun suara seorang ibu-ibu mengintrupsinya.


"Auristela udah pulang?" bisiknya pada Kyra- Ibunya.


"Iya!" balas Kyra.

__ADS_1


Lalu mereka mulai membicarakannya.


Tidak berfikirkah mereka kalau mereka bergosip tentang dirinya tepat di bawah tangga? Auristela memilih tetap melangkah, ia tak peduli.


Ia mengganti pakaiannya, lalu berjalan menuju dapur. Ia melihat Ibunya dengan temannya yang tadi. Sepertinya hendak memasak bersama Ibunya.


Ia menuju kulkas, membukanya, lalu


mengambil minuman. Ia hendak menutup kulkas, namun Pratista-teman Ibunya itu memanggilnya,


"Bisa ambilkan cabai, Ris," ucapnya.


Auristela mencari-cari cabai di kulkas


"Cabai merah atau cabai hijau, Tan?"


tanyanya


"Jangan ketus-ketus, Ris!" tegurnya


Auristela mengernyit bingung, ia menghadap Pratista, menenteng kedua box berisi cabai.


"Gak Tan, aku emang gini."


Pratista memutar bola matanya, ia menghampiri Auristela, mengambil box berisi cabai merah. Ia melangkah menghampiri Kyra yang sedang menggoreng sesuatu.


"Anakmu itu ketus banget!" adunya


Kyra membalikan badannya menghadap Auristela yang sedang menuang Minuman ke dalam gelas.


"Auris!!" gentaknya


Auristela agak kaget. Untungnya ia tidak menumpahkan Minumannya.

__ADS_1


Ia menengok ke arah Ibunya, bingung,


kenapa tiba-tiba Ibunya menggentaknya? Baru saja ia ingin bertanya, namun sudah keduluan Ibunya,


"Kamu ini! Sama orangtua jangan ketus-ketus!!"


Ia ingin membela dirinya, tapi ia tau itu sia-sia. Malah akan semakin menyudutkannya.


Ia hanya menghela napas, menyimpan botol Minumannya di kulkas, lalu


menghadap Pratista dan Kyra


"Maaf, Tan," ucapnya lalu undur diri,


berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.


Kedua orang itu mendengus.


"Anakmu itu! Dia tidak tau apa kalau aku punya anak laki-laki?! Siapa yang mau bersamanya jika dia seperti itu!"


dumel Pratista.


"Assalamualaikum, Bu!!" teriak seseorang


Keduanya menoleh, seseorang itu menghampiri mereka dan menyalami mereka berdua.


Pratista tersenyum,


"Beda banget kamu sama Kakaknya!"


"Gak tau tuh dia!" balas seseorang itu


"Dasar kamu, Clarinta Ramaniya."

__ADS_1


__ADS_2