
Setelah pertanyaan yang dilontarkan oleh Yeeshai waktu itu pada Adelio, membuat hubungan Adelio dan ketiga sahabatnya makin memburuk karena keterdiamannya. Ia jadi diasingkan sendiri. Dengan Auristela walau terlihat menyenangkan, serasa ada yang kurang. Belum lagi mereka-mereka yang terus menghina keduanya membuat keduanya tidak tenang sekalipun berusaha tak peduli, terutama Adelio.
Saat ini Adelio pulang telat karena disuruh oleh guru yang mengajar di jam terakhir untuk membantu mengoreksi hasil ulangan Kimia kelasnya dan kelas-kelas yang lain. Auristela sudah pulang. Selama berpacaran, mereka memang tidak pernah pulang bersama. Adelio masih belum siap memberitahu kebenarannya. Padahal sisa 1 bulannya tinggal sebentar lagi.
Adelio saat ini berjalan di koridor menuju gerbang. Ia melirik sana-sini yang terlihat sepi.
"Sialan banget! Kalau sekarang gue gak jadi anak baik, mana mau gue disuruh kaya gini!" batin Adelio menghela nafas kasar.
Baru saja Adelio hendak keluar gerbang, sudah ada 4 orang siswa yang menghadangnya. Adelio refleks berhenti.
"Ck! Apaan lagi? Perasaan gue gak nyari gara-gara sama mereka! Gak asli, gak nyamar ketemu mereka mulu!" batin Adelio merasa sebal sendiri.
"Ikut kita lo! Lais, Gio! Bawa dia!" perintah Elard.
Ya mereka tak lain dan tak bukan adalah Elard dkk musuh bebuyutan Adelard dkk
Mereka membawa Adelio ke Taman belakang. Lais dan Gio langsung saja melepaskan Adelio dan mendorongnya.
__ADS_1
"Kalian mau apa?" tanya Adelio
"Gak usah banyak bacod!" sinis Taksa
Mereka berempat langsung saja menghampiri Adelio. Gio melepas tas Adelio dengan kasar, lalu melemparnya ke Lais. Dan oleh Lais, tas itu dibuka dan dibuang isinya begitu saja ke tanah dan diinjak-injak oleh keempatnya. Adelio hanya melihatnya dengan menahan emosi.
Mereka berempat terkekeh senang, lalu tersenyum miring pada Adelio. Elard mendekati Adelio, lalu menarik kerahnya.
"Kok lo diem aja sih? Marah dong!" ejek Elard lalu terkekeh diikuti ketiga temannya.
Bugh!
"Rasanya udah lama gue gak baku hantam!" ucap Elard memandangi kepalan tangannya yang digunakan tadi. Ia memandang Adelio, "tapi lo gak seru! Kebanyakan diem!" tambahnya
"Sekali-kali latihan pakai samsak yang diem, El!" ucap Taksa
Elard melirik sekilas ke Tansa, lalu tersenyum miring ke Adelio.
__ADS_1
"Bener juga! Sekali-kali samsaknya diem juga lumayan!" ucap Elard hendak maju.
"Gue dong, El! Sekali-kali gue bisa menang! Mumpung si cupu ini lagi gak ada temennya!" ucap Lais
"Cih! Sialan! Awas aja lo!" batin Adelio
"Ya udah! Sana maju!" ucap Elard
Lais dengan senang hati maju memainkan kepalan tangannya lalu mulai memukuli Adelio yang hanya diam. Gio dan Taksa juga ikut memukuli. Ketika Adelio sudah duduk tersungkur di tanah sambil memegangi dadanya, Elard jongkok di samping Adelio sambil menyeringai.
"Lo mau tau gak kenapa lo kita bully? Hmmm," ucap Elard
Tak ada jawaban. Elard menunjuk dada Adelio, "Karena lo udah berani jadian sama Auristela!" ucapnya mendorong dada Adelio dengan telunjuknya.
"Gue yang udah lama suka sama dia kok lo yah yang jadian sama dia?! Mending lo kaya Adelard sialan, mungkin gue bisa sadar diri. Ternyata lo bahkan jauh banget di bawah gue! Cih!"
"Cabut!" ucap Elard, lalu keempatnya pergi.
__ADS_1
Mendengar fakta itu, sungguh. Adelio benar-benar tak menyangka.