
Auristela sampai pada mejanya. Dia mengernyit bingung ketika menemukan sebuah paper bag di lacinya. Karena penasaran, Auristela membuka paper bag itu.
Auristela mengeluarkan isinya. Ada 3 Royal's puding, lalu bak kwa, 3 botol parfum khas Singapore, dan yang terakhir ada 3 gantungan kunci khas Singapore.
"Singapore. Ck!"
Dengan segera Auristela memasukan kembali isinya dan menyimpan paper bag tadi di laci.
Bel masuk sudah berbunyi, namun Adelard dan kawanannya belum memasuki kelas. Auristela berharap mereka tidak membolos. Gimanapun Auristela merasa tak berhak jika harus melarang-larang mereka. Saat masih kelas 11 pun Auristela sering menyaksikan mereka yang datang terlambat dan juga suka membolos. Hanya sesekali cewe itu menegur. Sisanya memilih diam. Karena baik, Auristela lah yang akan memberikan catatan dan tugas pada mereka. Kalau kata Auristela, asal mereka tetep punya catatan sama ngerjain tugas, kelakuan buruk mereka masih bisa ditoleransi.
Tapi jangan ditiru ya gengs!
Abercio memasuki kelas dan langsung duduk di kursinya.
Auristela yang sedang membaca buku menoleh, menatap cowo itu yang kini sedang memperbaiki dasinya.
"Makasih oleh-olehnya!" ucap Auristela
Abercio menghentikan kegiatannya, dia menoleh, ikut menatap Auristela. Dia tersenyum, "Sama-sama!" balasnya
"Ah, iya. Jangan lupa, pudingnya harus cepet-cepet di makan!" tambahnya
Auristela mengangguk singkat. Lalu kembali membaca bukunya.
"Gue masih inget dulu lo suka banget sama puding. Apalagi pas Ayah lo pulang dari Singapore dan dengan bangganya lo pamerin Royal's puding itu ke gue. Akhirnya gue kepikiran buat beli tuh puding!" Abercio membuka percakapan.
Auristela yang hendak membalikkan lembaran dalam bukunya terhenti sejenak. Dia berdehem, lalu segera membalikkan lembaran bukunya dan mulai membaca kembali.
Abercio tersenyum sekilas. Dia senang Auristela mulai meresponnya. Tau begini Abercio akan sering-sering memberikan hadiah pada Auristela. Perlu diketahui, Auristela itu suka sama yang namanya hadiah. Meski cewe itu mampu membeli dan meminta apa yang dia mau, tapi ketika diberikan sesuatu, cewe itu akan sangat senang meski hanya sebuah hal kecil.
"Ah, iya sebenernya gue mau kasih coklat merlion sekalian ke lo, tapi takutnya lo nya gak suka. Lo kan gak suka coklat!" Abercio tak gencar mengajak ngobrol Auristela
"Permen ChaCha masih ada gak ya? Gue jadi pengin beliin itu buat lo. Kangen banget manggil lo 'chacha'!"
Auristela menghela nafas. Dia menutup bukunya, menatap Abercio.
"Stop bahas masalalu Aber! Gue muak!" ucapnya. Terlihat sekali nada tak sukanya.
Abercio terdiam, "Kapan lo bakal manggil gue 'Cio' lagi." ucapnya sarat akan kerinduan.
__ADS_1
Auristela membuang muka sekilas. Dia menatap Abercio kembali, "Gue benci banget sama lo, Aber! Kapan lo paham tentang itu?"
Abercio terdiam. Lagi-lagi kalimat ini yang Auristela keluarkan.
"Gue bingung sama kebencian lo yang tiba-tiba itu! Dimana letak kes-
"Assalamualaikum, anak-anak!"
Kedatangan seorang guru itu berhasil mencairkan ketegangan antara Auristela dan Abercio. Abercio menyugar rambutnya kasar. Lagi-lagi dia gagal mengetahui alasan Auristela membencinya.
____
Auristela menatap sekeliling kantin. Mencari Adelard dkk. Tadi dia sempat di chat, bahwa mereka sudah berada di kantin. Dan juga sudah memesankan makanan untuknya.
Auristela tersenyum kecil melihat Brady yang tampak melambai-lambai ke arahnya. Dia pun berjalan ke arah mereka. Dan mengambil duduk di samping Adelard.
Auristela mengernyit, merasa ada yang kurang.
"Yeeshai mana?" tanyanya
Brady mendengus, dia menunjuk Yeeshai yang berada agak jauh dari meja mereka, sedang duduk dikumpulan anak-anak cewe kelas 10.
"Biasa dia mah, gak usah dicariin!" ucap Brady
Auristela mengalihkan pandangannya dari Yeeshai, "Kasian kalau dapet karma!" ucapnya
"Biarin aja! Salah sendiri!" Brady menyahut.
"Eh, itu lo bawa apa, Ris?"
Auristela menatap puding pemberian Abercio
"Oh ini Royal's puding, yang dari Singapore itu!"
ucapnya menunjukannya pada Brady
"Dari siapa?" tanya Adelard penasaran
Auristela terdiam. "Dari Aber!" balasnya agak tak rela mengakuinya.
__ADS_1
Ketiga cowo di meja itu mengernyit bingung,
"Lo ada hubungan apa sih sebenernya sama Aber itu?" tanya Brady yang sudah tak bisa menahan rasa penasarannya
Auristela diam saja. Dia enggan menjawab. Dia gak nyaman jika harus membahas tentang Abercio dengan mereka.
"Gue penasaran deh, Ris! Kemaren-kemaren lo cuek-cuek aja ke Aber. Eh sekarang malah bawa puding pemberian dia!" Brady sepertinya tak memedulikan raut tak nyaman Auristela.
Adelard dan Galen diam-diam memperhatikan pertanyaan Brady. Mereka juga sama penasarannya. Apalagi Galen yang merasa emosi saat ini. Ia mengira Abercio tidak memedulikan peringatannya.
Meski penasaran dan terselip rasa cemburu, Adelard tak tega melihat raut tak nyaman Auristela.
"Udah, Brad! Ini urusan Auristela. Mungkin saat ini dia belum bisa cerita atau memang gak berniat untuk bercerita. Kita harus hargain dia!" Adelard mencoba menengahi. Lagi-lagi peran cowo itu adalah sebagai penengah.
"Tapi gue penasaran! Gue jadi bingung harus bersikap gimana sama Aber kalau mereka keliatan ada masalah gitu!" Brady mencari pembelaan
Auristela menatap tak suka pada Brady, "Masalah kita gak ada hubungannya sama lo ataupun yang lain. Ini urusan gue, mau kalian temenan atau sekalian sahabatan sama tu cowo juga gue gak masalah!"
Brady tersentak mendengarnya. Dia menatap tajam Auristela, "Lo anggap kita selama ini apa sih?! Kita semua berusaha ngertiin lo! Kita coba jaga perasaan lo! Kita gak mau lo kenapa-kenapa kalau kita deket sama Aber! Makanya kita coba minta buat lo cerita! Biar kita juga bisa nyelesain permasalahan di antara kalian! Atau kalau engga seenggaknya kita tau dan bakal selalu berada disisi lo! Berada dipihak lo! Bukan malah jalan sendiri kaya gini!"
Auristela menunduk, "Maaf!" ucapnya, kemudian beranjak pergi.
"Auris!" Adelard berusaha mencegah Auristela, namun cewe itu tak memedulikan seruannya.
Auristela menatap lurus ke depan, tak lupa dengan pandangan tajamnya. Tangannya mengepal erat. "Harusnya kalau kalian ngerti, kalian gak akan maksa gue cerita. Kalian gak tau apa-apa. Tapi seakan-akan gue yang salah dan terlalu egois disini!"
Setelah kepergian Auristela, Galen menatap tajam ke arah Brady, "Jangan merasa paling dekat sama Auris Brady. Gimanapun lo maupun kita hanya orang baru di mata, Auris!" ucapnya
Adelard menghela nafas. Dia menepuk pundak Brady, "Gak usah dipikirin. Dan maafin sikap Auris tadi. Ucapan Galen ada benarnya. Tapi lo juga gak salah. Mungkin Auris memang bukan type orang yang mudah berbagi cerita. Kita coba maklumi aja. Jangan diambil hati. Gue gak mau nantinya kita malah jauh dari Auris!".
...----------------...
TBC
Menurut kalian siapa yang salah? Auristela atau Brady?
*Maaf baru bisa update. Aku kehabisan Kouta😂. Dan jujur males kalau harus ngetik di word. entar pas disalin ancur jadinya.
Makasih udah tetep stay nunggu*!
__ADS_1
Jangan lupa vote, like, komen and share yah!