
Sepanjang film diputar, Ara yang tidak dapat berkonsentrasi karena terus terngiang-ngiang perkataan Darma beberapa saat yang lalu membuatnya kini menyibukkan diri dengan menyedot minumannya, lalu memenuhi mulutnya dengan popcorn. Karena itu, begitu film tersebut selesai, gadis itu langsung ngacir ke toilet.
Ara menghela napas lega ketika sudah berhasil mengeluarkan seluruh cairan yang memenuhi kandung kemihnya. Namun, kelegaan itu hanya bertahan sementara sebab ketika ia keluar dari toilet terlihat Darma langsung menghampirinya.
"Kamu belum pulang?" tanya Ara dengan raut terkejut.
"Nungguin kamu. Aku khawatir tau kamu langsung pergi gitu aja. Untung aja tadi aku masih liat kamu masuk toilet."
"Aku nggak papa, kok. Biasalah orang kalo kebanyakan minum apalagi tadi di dalam 'kan dingin banget. Jadi, begitu keluar yang dicari pasti toilet."
"Aku pikir kamu sakit perut gara-gara kebanyakan makan popcorn."
Ya, Ara memang makan banyak sekali popcorn yang tadi dibelikan Darma. Gadis itu menghabiskan hampir separuh wadah, sedangkan Darma sendiri hanya makan beberapa buah.
"Mau ke mana lagi?" tanya Darma ketika mereka sudah benar-benar keluar dari bioskop.
"Pulanglah. Nih, lagi pesen ojek," jawab Ara dengan fokus menatap layar ponselnya. Dia yakin orang tuanya sudah pulang, jadi ketika nanti sampai rumah ia tinggal meminta uang untuk membayar ongkos ojeknya.
"Ujan deres gitu?" Darma menunjuk ke arah luar yang memang sedang diguyur hujan, "aku anterin aja, deh."
Tidak hanya hujan, tapi angin pun bertiup cukup kencang dan itu cukup membuat Ara seketika kedinginan. Ya, gadis itu memang paling tidak tahan dengan cuaca dingin. Sekali kedinginan, Ara bisa langsung terkena flu. Apalagi kalau sampai hujan-hujanan, tubuhnya pasti auto demam.
Di tengah Ara menimang penawaran Darma, seorang gadis dalam balutan gaun warna merah menghampiri keduanya, tepatnya Darma.
"Darma, jadi ini teman yang kamu maksud?" Gadis yang tidak lain adalah Imelda tidak menyangka jika teman yang dimaksud Darma nyatanya seorang perempuan. Imelda pikir Darma bertemu dengan Aldo, teman dekat lelaki itu.
"Iya." Darma tidak membantah karena mungkin saja setelah ini ia memang berteman dengan gadis di sampingnya.
__ADS_1
"Siapa namanya? Aku tidak pernah bertemu dengannya di mana-mana sebelumnya." Kening Imelda sedikit mengernyit.
Darma dan Imelda memang sudah kenal lama. Pun dengan keluarga keduanya yang juga sama-sama mengenal baik satu sama lain sehingga hampir semua kenalan Darma, Imelda tahu.
Kebingungan terlihat di wajah Darma. Dalam hatinya laki-laki itu juga mengatai dirinya bodoh. Apa saja yang sejak tadi ia lakukan sampai-sampai berkenalan saja tidak.
"Aku memang baru mengenalnya beberapa hari yang lalu. Kamu sendiri ngapain belum pulang?" Darma mengalihkan pembicaraan yang justru ditangkap lain oleh Imelda. Gadis itu pikir Darma khawatir karena dirinya ternyata juga belum pulang.
"Oh, tadi aku ketemu temen terus gabung, deh. Eh, tau-tau udah malem aja." Imelda menyunggingkan senyum manisnya. Ia mendesis lirih kala melihat sopir yang ia suruh untuk menjemput datang dengan sangat cepat. Jika tidak, dia 'kan masih bisa berlama-lama dengan Darma.
"Sopir kamu, Mel," tunjuk Darma pada seorang pria berbadan kurus yang kini tengah membukakan pintu mobil untuk majikannya.
"Iya, Dar. Aku balik dulu, ya. Bye." Imelda melambaikan tangan dengan senyum tidak rela saat memasuki mobilnya mengetahui ada gadis lain di samping lelaki pujaannya.
Sementara Darma justru bernapas lega. Kalau saja Imelda bukan anak dari teman baik orang tuanya, sudah Darma suruh perempuan itu untuk jauh-jauh dari dirinya sama seperti perempuan yang pernah mencoba mendekatinya.
"Darma."
Ara mengangkat wajahnya, kemudian membalas uluran tangan di depannya. "Ara."
"Oke, Ara, kamu tunggu sini, ya, aku ambil mobil dulu," katanya dengan senyuman manis sebelum kemudian berlalu.
Ara pun jadi ikut-ikutan tersenyum memandangi punggung lebar yang semakin jauh darinya itu.
Langit masih menumpahkan air dengan derasnya tatkala mobil jenis SUV berwarna putih milik Darma menyusuri jalanan Kota Solo. Sesekali kilatan cahaya di atas sana juga terlihat disusul gemuruh petir sesaat setelahnya.
"Kamu kenapa nggak menghubungi saya kemarin?" Darma memecah keheningan di dalam mobil.
__ADS_1
Ara menolehkan kepalanya, lalu menjawab, "Aku udah ikhlas bantuin kamu."
"Wah, berarti awalnya nggak ikhlas, dong, ya. Buktinya ongkosnya mahal banget," goda Darma diiringi kekehan.
Ara tidak menjawab. Ia memilih untuk memalingkan wajah dan menatap tetesan air hujan di kaca pintu mobil Darma.
"Sorry, sorry, aku nggak bermaksud." Darma takut salah berucap. "Wajar, kok, kamu minta ongkos segitu. Akunya juga maksa banget kemarin. Tapi, emang beneran kamu bukan tukang ojek?"
Mendengarnya, kekesalan kembali memenuhi hati Ara. Dengan wajah merengut, dia yang sudah berbalik menatap Darma berkata, "Menurut kamu?"
Laki-laki itu hanya menyengir kuda. "Hehehe ... maaf, ya, Ra. By the way, rumah kamu di mana?" tanyanya setelah berkendara lumayan jauh.
"Terus aja, nanti kalau mau belok aku bilang."
Darma hanya mengangguk. Setelahnya hanya suara hujan yang mengisi. Sampai akhirnya mereka di depan rumah yang Ara tunjuk, Darma pun menghentikan laju mobilnya.
"Terima kasih, ya."
Darma menyunggingkan senyumannya, "Sama-sama."
Ara lalu berlari kecil agar cepat sampai di teras rumahnya. Ia baru masuk ke dalam begitu mobil Darma sudah menghilang dari pandangannya.
.
.
.
__ADS_1
ngacir \= pergi dengan terburu-buru tanpa berpamitan