Will Never Let You Go

Will Never Let You Go
Berbaikan


__ADS_3

Entah berapa lama Ara di dalam kamar mandi, tapi yang jelas ia sempat ketiduran dan saat kembali ke kamar sudah ada Darma yang duduk bersandar di ranjang sembari memainkan ponsel. Kemeja laki-laki itu juga sudah berganti kaus. Aroma segar yang menguar membuat Ara tahu kalau Darma juga sudah mandi. Tapi, kenapa tiba-tiba Darma di sini? Tidak! Ara bukan tidak senang, hanya saja wajahnya saat ini pasti terlihat sembab dan ia tidak mau suaminya tahu.


Tanpa ada niatan untuk sekadar melirik, pelan Ara menarik selimut kemudian merebahkan tubuhnya dengan posisi membelakangi Darma. Mata wanita itu kembali berkaca-kaca. Namun, sekuat mungkin hatinya mengatakan, "Jangan nangis, Ra. Jangan."


"Lihat sini."


Jantung Ara berdegup tak karuan. Suara Darma begitu dekat di telinganya. Ia yang masih bertahan dengan posisinya dan belum menghapus air mata yang mengalir begitu saja tersentak saat sebuah lengan kokoh membalikkan badannya dan menariknya ke dalam pelukan.


"Jangan diulangi, Ra." Darma menjatuhi banyak ciuman di kepala istrinya. "Kamu pikir aku senang ketus ke kamu? Diemin kamu? Pura-pura nggak peduli ke kamu?"


Pelukan itu sedikit merenggang. Cepat Ara menghapus air matanya supaya Darma tidak melihatnya. "Maaf ...."


"Kamu sampai ditampar sama orang lain. Aku, keluargaku, keluargamu aja nggak pernah gituin kamu."


Di tengah temaram lampu yang menerangi, dapat Ara lihat jika saat ini mata suaminya memerah. Darma mengelus pelipisnya, lalu turun ke pipi. "Sakit?"


"Nggak apa-apa, kok." Suaranya parau. Ara memandang ke bawah sebab sedetik saja ia balas menatap Darma sudah dipastikan pertahanannya runtuh di depan lelaki itu.


"Sampai bengkak gini." Darma menurunkan tubuhnya agar wajahnya sejajar dengan wajah Ara.


Ara tak lagi bisa menghindar. Perlahan isak tangis pun mulai terdengar memenuhi kamar. Darma memeluknya lagi. Kali ini lebih erat. "Jangan pernah kayak gini lagi. Kamu nyakitin aku. Nyakitin Ashila. Untung aja keluargaku nggak ada yang tahu. Kamu bisa dibilang macem-macem."


"Maaf ...." Sekali lagi hanya kata itu yang bisa keluar dari mulutnya. Bahunya bergetar hebat ditengah tangis penyesalan juga perasaan lega karena Darma memaafkannya.


"Dikompres, ya, biar besok nggak sakit."


"A-aku ... biar aku aja." Ara mengusap pipinya yang basah, lalu segera beranjak. Namun, belum sempat selimut yang menutupi tubuhnya tersingkap, Darma menahan tubuhnya.

__ADS_1


"Biar aku aja. Kamu tunggu sini."


"Mas ...." Air mata kembali membayang di pelupuk mata. Ara merasa terharu. Ada laki-laki sebegini baiknya, tapi dengan teganya ia sakiti.


Darma mengulas senyum, mengusap kepala Ara, kemudian mencium kedua mata wanita itu. "Tunggu sebentar."


Bilang hanya sebentar, nyatanya Ara harus menunggu hampir setengah jam. Maklum saja, Darma kembali sambil membawa dua mug berisi cokelat panas di tangan kiri dan mangkuk kecil di tangan kanan berisi ice bag.


"Biar aku aja yang kompres. Mas Darma minum cokelatnya aja," kata Ara masih tak enak hati.


"Aku aja. Kamu nanti ngompresnya nggak rata." Tanpa menunggu lagi, Darma mengambil ice bag dan menempelkannya di pipi Ara.


Wanita itu merasakan dingin dan nyeri di saat bersamaan.


"Matanya sekalian dikompres nggak?"


"Kata siapa? Bengkak gini." Darma membelai lembut kelopak mata istrinya. "Jangan diulangi lagi, ya?" pintanya dengan raut memelas.


"Iya. Maaf, aku udah nggak izin. Aku janj—"


"Jangan diulangi nangis di kamar mandi sampai ketiduran. Bahaya!"


Susah payah Ara menelan ludah. "Mas Darma tahu?"


Embusan napas panjang terdengar. Darma mengambil salah satu mug dan memberikannya pada Ara. "Minum dulu," katanya. Ia lantas mengambil mug satunya untuk diminum sendiri.


Usai cokelat milik masing-masing tandas, Darma merebahkan tubuhnya di samping Ara yang lebih dulu berbaring. Dipeluknya wanita yang sampai kapanpun tidak akan benar-benar Darma benci, seberapa banyak dan seberapa besar kesalahannya. "Aku udah manjain kamu tadi. Sekarang gantian," bisik Darma makin merapatkan tubuhnya.

__ADS_1


Untuk sepersekian detik, Ara tertegun merasakan sesuatu menggelitik perutnya. Ia lantas mengangkat wajah, memandang suami yang sedang menunjukkan puppy eyes-nya. "Se-sekarang?"


"Cape, ya? Besok pagi juga boleh."


Mata Ara sedikit membeliak. "Tawar-menawar macama apa ini?" batinnya menggerutu.


"Besok pagi, ya?"


Ara mengangguk seperti orang dungu.


"... sampai sore," lanjut Darma.


"APA?" Sontak saja Ara mendorong dada suaminya agar sedikit menjauh.


Darma terbahak-bahak, lalu kembali mendekat dan memeluk istrinya erat. "Bercanda, Sayang."


Berbanding terbalik dengan sang suami, kini Ara justru memasang raut sedih. "Sayang banget. Padahal, aku udah berharap itu serius."


"RA!"


Giliran Ara yang terpingkal-pingkal. Sebelum Darma berbuat yang tidak-tidak kepadanya, perempuan itu lebih dulu membebaskan diri dan menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.


"Ara! Tanggung jawab, Ra!" Darma berusaha menarik selimut yang membungkus tubuh istrinya, tapi sialnya tenaga Ara ternyata cukup kuat untuk mempertahankan selimut itu.


"Bobo, Mas Darma. Bobo ...." Suara Ara dibuat selembut mungkin. Setelahnya, ia terkekeh-kekeh.


Tak mau kalah, Darma pun memeluk Ara. Masa bodoh di dalam selimut istrinya sumpek. Siapa suruh bermain-main dengannya. Dan benar saja, tidak sampai satu menit, teriakan Ara menggema.

__ADS_1


"Mas Darmaaaaaa ... lepasasssss!"


__ADS_2