
Sejatinya Darma bisa-bisa saja langsung membawa kabur Ara. Namun, mengingat bahwa pasti tidak mudah bagi Ara mencapai titik di mana gadis itu berada sekarang, Darma mengurungkan keinginannya. Dia tidak mau Ara dipandang jelek oleh rekan-rekannya karena perbuatannya. Jadi, begitu memasuki lobi kantor Aldo, ia menghampiri resepsionis.
"Selamat siang. Saya Darma. Saya ke sini ingin bertemu dengan kepala divisi marketing. Bisa tolong dipanggilkan? Ini ada kaitannya dengan Pak Aldo." Darma membawa-bawa nama temannya agar segalanya tidak terlalu ribet. Anggap saja ini sebagai balasan atas kebaikannya yang sudah menyembunyikan Aldo dari Imelda.
Resepsionis itu dengan segera menghubungi Ruli. "Pak Ruli akan segera ke sini. Bapak bisa menunggu di sebelah sana." Wanita dengan rambut sebahu itu menunjuk sofa di sudut ruangan.
"Terima kasih."
Ruli datang tidak sampai lima menit, dan itu membuat Darma benar-benar senang.
"Sebelumnya maaf sudah mengganggu waktunya, Pak." Darma menjabat tangan Ruli.
"Iya, tidak apa-apa. Tapi, ada apa, ya, Pak?"
Darma berdeham agar euforia di dalam dirinya tidak begitu kentara. Bisa-bisa dia dikira gila lagi. "Jadi begini, saya dan Pak Aldo sedang ada proyek yang lumayan besar dan itu di luar perusahaan. Singkatnya, saya butuh satu anak marketing untuk ikut dengan saya sekarang juga."
Ruli mengangguk paham. "Satu orang, ya? Kalau begitu saya saja tidak apa-apa, Pak. Kebetulan pekerjaan saya juga sedang tidak terlalu banyak."
"Enggak, enggak." Darma menolak cepat. Detik berikutnya, ia menyunggingkan senyum paksa menyadari reaksinya mungkin terlihat berlebihan. "Maaf saya tidak bermaksud, tapi kebetulan Pak Aldo sudah memilih salah satu karyawannya. Kalau tidak salah namanya Ara."
"Ara? Arasellia, Pak?"
"Iya, benar Arasellia."
"Baik, saya panggilkan anaknya ke sini."
"Oh, ya, satu lagi!" seru Darma membuat Ruli yang sudah membalikkan badan kembali menengok. "Tolong, sampaikan pada Ara untuk membawa semua barang-barangnya karena mungkin urusan ini bakal sampai malam."
__ADS_1
"Siap. Akan saya sampaikan, Pak."
......................
Ara mengangkat wajahnya dari layar monitor tatkala atasannya berdiri di depan kubikelnya.
"Ra, kamu disuruh Pak Aldo buat nemenin dia ngurus proyek barunya bareng temennya."
"Proyek baru apa, Pak?"
"Nggak tahu, tapi kamu udah ditungguin sama temennya di lobi. Cepetan, gih, kemas-kemas. Bawa semua barang-barangmu soalnya tadi bilangnya bisa sampai malem."
Ara tidak bertanya lebih lanjut. Ia langsung melaksanakan apa yang dikatakan Ruli, kemudian segera turun.
Alangkah terkejutnya Ara sesampainya ia di lobi justru mendapati Darma yang langsung tersenyum begitu melihatnya.
"Yuk, pergi!" Darma sudah menggandeng tangan Ara keluar dari gedung.
"Mas, aku disuruh Pak Aldo buat bantuin proyek barunya dia bareng sama temennya." Ara menarik lengannya sehingga langkah keduanya terhenti.
"Dan kamu tahu temennya siapa?" Darma kembali menggandeng Ara menuju mobil, membukakan pintu, dan menyuruh gadis itu masuk.
"Itu cuma akal-akalanku biar bisa pergi sama kamu," kata lelaki itu sambil menghidupkan mesin mobil.
Sontak mulut Ara menganga, sedangkan Darma dengan santainya bertanya, "Mau makan apa?"
Karena Ara mengatakan jawaban template para perempuan, yakni "terserah", Darma mengajaknya ke sebuah restoran Italia. Sengaja ia memilih ruang VIP agar obrolannya dengan sang pacar tidak terganggu oleh pengunjung lain.
__ADS_1
"Jelasin dulu kenapa kamu ngelakuin ini, Mas," tegas Ara masih dalam posisi berdiri.
"Duduk dulu." Darma menuntun kekasihnya supaya duduk di kursi, lalu menjelaskan ide gilanya yang ternyata tidak sulit untuk dijalankan.
"Gimana kalau Pak Aldo tahu terus aku dipecat?" tanya Ara gelisah.
"Kamu nggak dipecat juga bakalan keluar dari kantor itu." Darma yang juga sudah duduk lantas meraih tangan Ara yang ada di atas meja. Usapan-usapan lembut yang tak pernah berubah dari dulu ia berikan di punggung tangan gadisnya.
Tatapan hangat lelaki itu membuat jantung Ara berdebar-debar tak karuan sekaligus salah tingkah. Apa yang sekiranya akan Darma lakukan? Kenapa lelaki itu sampai "menculiknya"? Mengajaknya ke tempat yang eumm ... romantis?
"Ara, will you marry me?"
"Hah?" Tanpa basa-basi, Ara langsung ditodong dengan pertanyaan semacam itu. Kontan saja bola matanya membeliak tak percaya.
"Ini memang kurang persiapan. Bahkan, aku juga nggak bawa cincin, tapi, aku beneran serius sama kamu. Dan kalau kamu bilang 'ya', aku bakal dateng ke rumahmu nemuin orang tua kamu."
Napas Ara seketika tertahan. Sungguh ini di luar dugaannya. "Kamu serius, Mas?"
"Kamu ragu?" Darma balas bertanya.
Ara menggeleng cepat. "A-aku cuma takut. Gimana kalau orang tuaku nolak kamu."
"Cukup bilang 'ya', dan setelahnya serahkan semuanya padaku."
Ara tampak berpikir sejenak. Walau ketakutan itu ada, tapi hati kecilnya juga tak bisa berbohong kalau dia menginginkan Darma. Lelaki sejuta pesona yang membuatnya tak bisa berpaling. "Ya, aku mau, Mas."
Tepat setelah Ara berkata demikian, seorang pramusaji datang mengantarkan pesanan mereka.
__ADS_1
"Makan yang banyak. Kita pesta sekarang," kata Darma dengan senyuman terbaik yang dimilikinya.