Will Never Let You Go

Will Never Let You Go
Wedding Day


__ADS_3

Semoga masih ada yang baca yaaaa


Rona kebahagiaan begitu jelas terlihat di wajah mereka yang kini tengah berdansa di bawah sorot lampu yang hanya mengarah kepada keduanya. Musik orkestra yang mengalun merdu membuat perasaan mereka larut. Dengan tatapan memuja dan senyum yang tak pernah lepas dari bibir keduanya, secara perlahan Darma mencondongkan tubuh Ara ke belakang, kemudian mendekatkan wajahnya hingga akhirnya bibirnya menyatu dengan bibir wanita yang pagi tadi sah menjadi istrinya.


Untuk sejenak mata mereka terpejam, merasakan manis bibir satu sama lain.


"I love you," bisik Darma di telinga Ara sesaat setelah ciuman itu terlepas. Ia kembali menegakkan tubuh perempuan itu, lalu meninggalkan pengantin wanitanya begitu saja.


Di bawah lampu yang masih setia menyoroti dirinya, Ara tetap bergeming. Matanya menatap bingung Darma yang kini telah menjauh, lalu menoleh ke segala penjuru ruangan saat tamu undangan pun ikut dibuat bertanya-tanya.


"Apa? Kenapa begini?" batin Ara cemas. Ia sudah hampir menangis ketika suara lelaki yang sangat ia kenali mulai terdengar.


Beberapa saat kemudian, Darma kembali muncul dari sisi kiri panggung sambil menyanyikan lagu "Sampai Jadi Debu" milik Banda Neira.


Selamanya


Sampai kita tua


Sampai jadi debu


Ku di liang yang satu


Ku di sebelahmu


Tepat setelah Darma selesai menyanyikan lirik terakhir dan laki-laki itu kini berdiri di hadapannya, Ara tak mampu menahan tangisnya. Tangis bahagia tentunya. Sial memang! Ara tidak menyangka jika suaminya bisa seromantis ini. Dia 'kan jadi tidak bisa menolak saat lelaki yang malam ini tampil sangat menawan dalam balutan tuksedo hitam itu merentangkan tangan, memintanya untuk memeluknya di depan ribuan pasang mata.


"Capek, ya?" tanya Darma begitu duduk di singgasana pengantin.


"Iya, tapi worth it, kok. You did great."


Darma tersenyum, kemudian mengusap punggung tangan Ara yang sejak tadi ada dalam genggamannya. "Sebentar lagi selesai. Sabar, ya."


Ara mengangguk kecil. Tatapannya kini beralih pada Rendy Pandugo yang malam ini hadir sebagai salah satu wedding singer di pernikahannya. Sementara para tamu undangan sedang menyantap hidangan penutup sebelum nantinya naik ke pelaminan untuk mengucapkan selamat.


"Congrats, ya." Dengan senyuman lebar, Aldo menyalami sang pengantin wanita.


Ara balas tersenyum sambil menyambut uluran tangan sahabat dari suaminya.


"Welcome to the club, Bro." Aldo dan Darma kini melakukan tos ala pria.


"Congrats, Ra. By the way, muka kamu keliatan cape banget. Sabar, ya, karena abis acara selesai bakalan lebih cape lagi," bisik Imelda, tapi masih bisa didengar oleh dua pria berdiri berhadapan di sebelahnya.


"Kamu ngode, Yang? Yuk, lah, kita check in kelar kondangan. Dikira Darma doang yang bisa. Kangmas Aldo juga bisa kali." Aldo menyahut.


Tentang Ara dan Imelda, hubungan mereka kini sudah lebih baik. Ini adalah kali kedua perempuan itu bertemu setelah pertama kali mereka dipertemukan saat Ara dan Darma mengantarkan undangan pernikahan. Di situ, Imelda mengucapkan permohonan maafnya atas tindakan dan perkataannya yang dulu melukai perasaan Ara.


Ara pun tak ambil pusing. Lagipula, itu sudah lama sekali. Dia bahkan sudah melupakannya.


"Ogah! Nggak denger kamu dari tadi aku ngeluh pegel gara-gara sepatu yang kamu beliin. Lihat, nih, kakiku bengkak." Imelda berkacak pinggang sambil menunjukkan kakinya. Usia kehamilannya yang sebentar lagi memasuki bulan ke-7 benar-benar membuatnya mudah lelah dan pegal di sana-sini.


Pasangan pengantin baru itu tertawa melihat drama rumah tangga di depannya. "Sukurin!" cetus Darma terdengar begitu puas.


"Nggak usah pake nyukurin segala. Lo nggak lama lagi juga ngerasain apa yang gue rasain. Tunggu tanggal mainnya aja, Bro," ucap Aldo penuh keyakinan.


Acara resepsi pernikahan Darma dan Ara selesai saat hari sudah larut malam. Pasangan pengantin itu kini sedang berjalan di lorong hotel menuju kamar pengantin mereka setelah tadi berpamitan dengan keluarga besar dari kedua belah pihak.

__ADS_1


"Bersih-bersih dulu, ya, Ra," ucap Darma sembari membuka pintu kamar hotel dan mereka melangkah masuk.


Ara hanya bisa mengangguk lantaran jantungnya sudah berdegup tak karuan. Perkataan Imelda sukses meracuni otak sucinya dan kini membuatnya gugup di hadapan lelaki yang belum genap 24 jam menjadi suaminya.


Sementara Darma, dengan santainya ia melepas pin bunga yang ada di dada kirinya, kemudian menanggalkan jasnya begitu saja. "Mau dibantuin?"


"Eh, oh ...." Ara mengerjap dan ekspresinya kali tampak begitu bodoh. Darma sampai tidak bisa menyembunyikan tawanya.


"Kamu kenapa, hm? Sini aku bantu turunin resleting gaunnya."


Ara memutar tubuhnya sambil mengutuk kebodohannya dalam hati.


Dalam waktu sepersekian detik, punggung Ara kini terpampang nyata di depan Darma. Iya, hanya punggung! Gaun itu tidak jatuh teronggok di lantai sebab Ara memegangi bagian depannya.


"Udah?" tanya perempuan itu.


"Udah."


"Terus kenapa masih berdiri di situ?"


"Pengen liat aja."


"Mas ...."


"Iyaaaa ... malu, ya? Pipimu tambah merah." Darma menggoda terang-terangan.


"Aku mau mandi dulu," kata Ara melangkah menuju kamar mandi sambil menarik kopernya, tanpa mengacuhkan suaminya.


Darma mengu*lum senyum, lalu mengekor di belakang istrinya. "Aku siapin airnya. Aku juga mau mandi."


"Kamu di bathtube, aku pakai shower," jelas Darma yang saat ini sibuk menunggu air penuh, mengatur suhu, dan terakhir menuangkan beberapa tetes aromaterapi. "Ready. Masuk, gih," lanjutnya mempersilakan Ara.


Yang disuruh hanya bergeming masih dengan tangannya yang kesulitan mempertahankan gaunnya yang sudah sedikit melorot.


"Ra?"


"Ya, Mas Darma sana, dong. Jangan di sini."


Darma terkekeh. Istrinya benar-benar lucu. Mirip anak SMP yang baru pertama kali diajak kencan. "Bentar lagi juga lihat semuanya, kok."


"Aku capek, Mas. Pending dulu bisa nggak?"


"Hmmm .... Ya, udah cepetan mandi. Biar cepet istirahat. Aku juga udah gerah banget." Sembari melepas kancing kemejanya Darma berjalan menuju shower.


Lelaki itu selesai lebih dulu sementara Ara yang masih berkubang di bawah busa mendongakkan kepala saat mendengar pintu kamar mandi kembali dibuka. Ia bernapas lega karena Darma sudah keluar dari kamar mandi.


Setengah jam kemudian, Ara pun menyusul. Tidak seperti Darma yang mengenakan kimono tidur dan kini sedang duduk bersandar di ranjang, Ara keluar dari kamar mandi mengenakan kaus putih polos dan celana yang hanya menutupi setengah pahanya. Rambutnya sudah ia keringkan dan rutinitas memakai night skincare juga telah dilakukan.


Lupakan tentang lingerie sebab bagi Ara mau dirinya memakai daster kedodoran kalau Darma memang berniat memakannya maka apa yang terjadi, terjadilah.


Wait, what? Apa tadi katanya? Kalau Darma niat? Apa itu artinya secara tidak sadar sebenarnya Ara juga sudah siap untuk melakukannya?


"Feeling better?" tanya Darma begitu Ara sudah berdiri di tepi ranjang.


"Hmmm ...," jawab Ara diiringi anggukan.

__ADS_1


"Bobo sini." Darma menepuk bantal di sebelahnya.


Menuruti perintah, Ara merangkak naik ke ranjang, merebahkan tubuhnya dengan lengan suaminya yang ia jadikan bantalan.


"Cape banget, ya?"


"Iya, kakiku sakit karena nggak pernah pakai sepatu setinggi tadi." Ara mengeluh apa yang dirasakannya.


"Kasihan. Peluk sini." Darma memiringkan tubuhnya, melingkarkan tangannya yang bebas ke pinggang Ara, dan menaikkan salah satu kakinya, menindih tubuh istrinya.


Ara diam. Tak berani berkutik. Meski terasa berat, tapi jujur saja ia merindukan pelukan ini.


"Sampo kamu ganti, ya?" Darma mengendus-endus rambut Ara.


"Enggak, kok."


"Tapi, nggak kayak biasanya." Darma semakin kuat menghirup aroma yang menguar dari rambut istrinya, mengusap-usapnya yang berujung dengan lidahnya yang kini bermain di telinga Ara.


"Mas ...."


Tidak ada sahutan. Bibir tipis Darma sudah sibuk menjelajah ke pipi dan berlabuh di bibir ranum Ara. Pelan tapi pasti, lelaki itu berhasil mengungkung tubuh istrinya.


Refleks, Ara mengalungkan tangannya di leher suaminya. Ciuman itu semakin dalam, panas, dan menggairahkan saat lidah keduanya saling bertaut di dalam sana.


Napas mereka menderu saat kadar oksigen dalam paru-paru semakin menipis. Pagutan itu terlepas, Darma menatap lapar Ara. "Masih mau di-pending ?"


Perempuan itu menggeleng.


"Nakal!" ucap Darma. Matanya lantas melirik ke bawah, melihat dada istrinya membusung sehingga puncaknya tercetak di kaus yang dikenakan. "Kamu nggak pake?"


"Aku nggak pernah pake kalau tidur."


"God! Lepas, yah?"


Dan dengan nakalnya Ara justru meluruskan tangannya ke atas, mempersilakan Darma untuk melepaskannya. "Lepasin."


"Ra! Nakal banget, sih, kamu!"


"Aku nakal cuma sama kamu. Nggak suka?"


"Suka! Suka banget!" Dengan semangat membara Darma melakukan tugas mulianya, meloloskan kaus putih itu dari tubuh istrinya. Ia menelan ludah menatap buah dada di depannya yang seakan menantangnya. "Lepasin semua sekalian, yah?"


"Kamu juga ... lepas semua."


"You are the most naughty wife in the world and I like it." Darma dengan segera menuruti keinginan istrinya, dilanjut dengan dia yang menarik celana tidur Ara lengkap dengan dalaman*nya.


For God sake! Istrinya benar-benar seksi. Darma tidak sabar untuk segera menyatukan tidak hanya bibir, tetapi juga tubuhnya dengan tubuh Ara.


.


.



.

__ADS_1


Udah boleh bilang tamat 'kan, yaaa?


__ADS_2