Will Never Let You Go

Will Never Let You Go
Tanda Tanya


__ADS_3

Selly terkejut mendapati putranya pulang dalam keadaan basah kuyup. Menaruh tas berlambangkan huruf H miliknya, dia berjalan menghampiri dengan handuk yang sebelumnya ia minta dari asisten rumah tangganya.


"Kamu habis ngapain? Kenapa sampai basah begini?" tanyanya sambil mengeringkan rambut putranya.


Semenjak kejadian di London dan putranya yang selalu murung sampai mengurung diri selama sebulan penuh, Selly memang jadi menaruh perhatian lebih pada anak sulungnya.


"Kehujanan."


Jika dulu Selly akan mengoceh tidak jelas karena Darma yang suka seenaknya sendiri, lain pula dengan sekarang. Wanita itu harus memanjangkan ususnya lebih lagi demi putranya yang sebenarnya tidak baik-baik saja. Namun, memilih untuk menyimpan semuanya sendiri.


"Iya, tahu, tapi ngapain hujan-hujanan?"


"Mama mau pergi?" Alih-alih menjawab, Darma justru mengalihkan pembicaraan.


"Iya. Tante Ingrid minta temenin cari perhiasan buat dipakai di hari pernikahannya Imelda."


"Ya, udah, Mama pergi aja. Kan ada Bi Marni, nanti aku bilang dia aja kalau butuh sesuatu."


"Dar .... Kamu kenapa? Cerita sama Mama." Selly tak mampu menyembunyikan kesedihannya. Matanya sudah berkabut karena air mata yang membayang.


"Aku nggak apa-apa. Mama pergi sana. Mama paling seneng, kan, kalau berburu perhiasan."


Selly berdeham untuk menghilangkan serak di tenggorokannya, lalu menggeleng pelan. "Mama seneng kalau anak-anak Mama seneng."

__ADS_1


"I'm totally fine, Ma." Darma menurunkan tangan sang ibu dari kepalanya dan memaksakan senyumannya.


Ia lantas menaiki tangga menuju kamarnya. Darma bukan tidak tahu jika ibunya kini sedang menangisi dirinya. Justru karena dia tahu, makanya dia memilih untuk tidak melihat.


Dua tahun terakhir ia hidup dengan jiwa yang seakan mati. Pertemuannya kembali dengan Ara membuatnya sedikit bersemangat, tapi lagi-lagi hal itu harus surut ketika dengan mudahnya gadis itu menganggap bahwa hubungan mereka sudah selesai saat ia mengambil tiket pesawat yang disodorkan neneknya.


Namun, Darma tidak mau pasrah begitu saja. Darma tahu bahwa ada hal yang harus diluruskan. Ada kesalahpahaman yang mesti ia selesaikan setidaknya agar Ara mengerti dengan pilihannya empat tahun yang lalu. Ara harus mendengar secara keseluruhan apa yang terjadi, dan gadis itu boleh mengambil keputusan setelah mendengar semuanya dari sudut pandangnya.


Darma melirik arlojinya. Sudah jam lima lewat sepuluh. Ara pasti sudah sampai rumah berkat jas hujan yang ia berikan dengan perantara anak kecil. Ya, dia yang membelikannya. Di tengah hujan deras, Darma rela turun dari mobil, bertanya dari toko ke toko apakah ada yang menjual benda itu.


Dia tidak tega melihat Ara kedinginan. Memeluk tubuhnya sendiri di saat hari perlahan gelap. Kalau saja hubungannya masih seperti dulu, sudah ia dekati, ia peluk, lalu ia seret dan marahi gadis itu di dalam mobilnya karena kecerobohannya tidak membawa benda paling penting di kala musim hujan begini.


......................


Ara sampai di rumah bersamaan dengan Gusti yang pulang dalam keadaan basah kuyup, dan itu sukses membuat ibu mereka marah-marah lantaran teras rumah jadi kotor.


"Gimana nggak mau ngomel orang setiap mau pergi selalu diingetin jangan lupa bawa jas hujan, tapi ya ... kalian emang sama-sama susah dibilangin, ya, rasain sendiri. Nanti kalau sakit jangan ngerengek minta dibikinin ini itu. Ibu capek."


Ara hanya melengos. Yang mana hal itu membuat Gusti menoleh ke arahnya dengan kening berkerut. "Mbak Ara pakai jas hujan, tapi, kok, bajunya basah, sih? Aneh banget."


"Bukan jas hujanku."


"Terus?"

__ADS_1


"Dikasih orang. Nggak lihat emang itu masih baru? Punyaku, kan, udah buluk."


"Orang siapa? Pacar? Gebetan?"


"Mantan."


"Eh?" Gusti langsung mengekori kakaknya yang beranjak terlebih dahulu.


Ara yang merasa risih melayangkan tatapan membunuh kepada adiknya. "Kamu ngapain, sih?" tanyanya sambil mengeluarkan isi tasnya. Mengecek siapa tahu ada yang basah.


Alih-alih menjawab, pandangan Gusti justru terpusat pada undangan pernikahan yang baru ditaruh Ara di meja ruang makan rumah mereka.


"Siapa yang nikah, Mbak?"


"Bosku. Kenapa?"


"Enggak. Keliatan mahal aja." Gusti sama sekali tak tertarik untuk membukanya. Toh, yang namanya undangan mau sebagus apa juga isinya tidak pernah jauh-jauh berbeda.


Ara hanya mengangguk. Ia bernapas lega melihat barang-barangnya tidak ada yang basah. Setelahnya, ia segera masuk ke kamar mandi. Mengguyur kepalanya agar demam dan teman-temannya tidak menyerang.


Helaan napas berat terdengar begitu Ara selesai membersihkan badan dan kini ia menatap pantulan wajahnya di cermin. Semuanya terasa menjadi tanda tanya saat Darma kembali muncul ke hadapannya. Apalagi perhatian yang lelaki itu berikan. Ara tahu betul siapa yang memberikan jas hujan itu. Hal kecil, tapi cukup membuat hatinya lagi-lagi berharap. Tidak tahukah Darma bahwa apa yang ia lakukan hanya akan menambah luka? Keluarga mereka sama-sama tak merestui. Jadi, apa lagi tujuan lelaki itu kembali mendekatinya?


.

__ADS_1


.


Aku mau berusaha up secepat mungkin, mohon dukungannya ya biar tetep semangat 😉😉😉


__ADS_2