
"Harus banget, ya, beli baju baru? Aku ada, kok, baju putih," ujar Ara di tengah perjalanan menuju tempat membeli baju yang entah di mana.
"Nggak harus, sih, tapi, aku pengen beliin kamu aja. Hadiah karena pacarku udah hebat banget." Darma mengelus puncak kepala Ara, lalu kembali fokus menyetir.
Seketika hati gadis itu berantakan karena perlakuan kecil yang manis. Ara menarik napas panjang untuk menetralisir debaran jantungnya.
Tak butuh waktu lama, mereka tiba di sebuah butik. Ara turun dari mobil, lalu berjalan bersisihan memasuki tempat tersebut.
Tampaknya Darma sudah sering ke sana melihat seorang pramuniaga yang menghampiri mereka mengetahui nama lelaki itu.
"Saya cari dress putih, Kak," ujar Darma.
Pramuniaga itu mengangguk paham, lalu mengantarkan Darma ke tempat di mana gaun-gaun yang dimaksud berada. Wanita kisaran usia akhir 30-an itu juga menunjukkan beberapa dress koleksi terbaru mereka.
"Dress yang ini hanya ada tiga buah. Mungkin Bapak menyukainya." Ia menunjuk tiga gaun dengan model berbeda.
Darma mengambil salah satu, kemudian merentangkannya di depan Ara.
"Kayaknya itu terlalu terbuka, deh. Acaranya di rumah sama ngundang anak-anak panti, 'kan?" Ara menolak halus gaun off shoulder yang memang indah, tapi tidak cocok untuk menghadiri acara ulang tahun ibu Darma.
"Hmm ...." Menaruh kembali gaun di tangannya, Darma mengambil dua gaun limited edition yang lainnya. "Kamu coba yang dua ini aja. Ini nggak terlalu terbuka."
Melihat keraguan di wajah Ara, pramuniaga yang sedari tadi menyimak memberitahu fitting room seraya membawakan gaun yang hendak dicoba.
Begitu Ara keluar dengan mengenakan gaun square neckline di bawah lutut yang sangat cocok di tubuhnya, pandangan Darma jatuh pada bagian dada gadis itu yang terlihat menggoda ditambah lekukan pinggang yang tampak pas dalam genggamannya.
Ouh, tentu saja Darma menyadari otak kotornya mengingat dirinya adalah lelaki normal. Namun, dia bersyukur karena memiliki self control yang sangat baik.
"Jangan yang itu," ujar lelaki itu disusul sebuah dehaman.
"Kenapa? Ini bagus, aku suka." Ara memutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri.
"Kamu jadi keliatan tua." Darma beralasan.
Bibir Ara mengerucut. "Masa, sih?"
"Yang satunya aja coba."
__ADS_1
Dengan langkah gontai, Ara kembali memasuki fitting room untuk mencoba gaun terakhir.
Gaun selutut lengan panjang dengan bagian atas serta lengannya yang berbahan tile akhirnya menjadi pilihan. Darma dan Ara keluar dari butik setelah mendapatkan sepatu yang cocok dengan gaun dan kaki Ara.
"Mas ....." Ragu Ara memanggil karena rasa tak enak hati sebab Darma sudah membelikannya baju yang akan menjadi baju termahal di lemarinya.
"Ya, Sayang?"
Walaupun Darma menjawab dengan mata terus menatap jalanan, tetap saja Ara merasa gerah dengan panggilan itu hingga pipinya merona.
"Eee ... mamanya Mas Darma suka apa?"
"Makan, belanja, nggosip, sama jalan-jalan."
Mata Ara memejam dengan kekesalan yang seketika mencuat. "Bukan itu."
"Terus?"
"Yeah ... kalau makan, makanan apa yang disukain?"
Ara mengembuskan napas kasar sampai kedua bahunya ikut turun. "Serius, dong."
"Mau apa, sih?" Darma menolehkan kepala. "Mau kasih kado?" tebaknya tepat.
Ara mengangguk.
"Nggak usah."
"Usah, lah. Apa Mas kira-kira, tapi jangan yang mahal-mahal kalau bisa." Ara meringis menahan malu.
"Apa, ya ...." Darma jadi ikut berpikir. Telunjuknya mengetuk-ngetuk kemudi. "Oh, itu!" Laki-laki itu menjentikkan jarinya.
"Apa?"
Darma melirik dengan bibirnya menyeringai jahil. "Ini malah gratis, Ra. Ga pake duit malah."
" Ya, apa?" Ara tidak sabaran.
__ADS_1
"Sini aku bisikin." Darma meminta Ara sedikit lebih dekat.
Kening Ara mengernyit curiga, meski begitu ia turuti juga daripada penasaran. Mendekatkan telinganya, Ara dibuat melongo dengan apa yang ia dengar.
"Cucu?"
Darma mengangguk mantap dengan senyuman yang entah mengapa terlihat sangat jahil di mata Ara.
"Mana bisa 'kan kita ...." Ara tak melanjutkan ucapannya. Rasanya malu sekali menyebut kata "menikah" di depan laki-laki yang ia cintai, meski perutnya kini dipenuhi ribuan kupu-kupu.
Menikah dengan Darma, memiliki anak dari laki-laki itu. Aih! Membayangkan saja jadi senyum-senyum sendiri.
"Hayoo, bayangin apa?" Darma terkekeh.
Ara terkesiap dan langsung mengubah ekspresinya menjadi biasa-biasa saja.
"Mikirin yang enggak-enggak, ya?"
"Ngaco!" Ara mengelak cepat, dan beruntung mobil Darma sudah sampai di halaman rumahnya, jadi dia bisa segera kabur.
"Nggak disuruh mampir dulu?" tanya Darma melihat Ara dengan gegas turun dari mobilnya.
"Di rumah nggak ada orang. Takutnya kamu berubah jadi monster."
"Jahat banget, sih, Ra!"
"Aku bukan jahat, tapi jaga-jaga."
"Ck! Itu lebih jahat lagi."
Ara tertawa masa bodoh. "Udah, ya, aku masuk. Mas Darma mampirnya kapan-kapan aja. Oke?"
"Hmm ...." Darma lantas mencondongkan tubuhnya dan mencium pipi Ara. "Aku pulang. Kamu hati-hati di rumah sendirian."
Ara mengangguk, lalu melambaikan tangan. Dia baru masuk ke rumah begitu mobil Darma sudah menghilang di pertigaan dekat rumahnya.
"Nikah sama Mas Darma? Gimana, ya, rasanya?" gumam Ara tersenyum, kemudian berlari kecil memasuki rumah sebelum ada orang melihat dan mengira dirinya gila.
__ADS_1