
Kemarin-kemarin sewaktu baru keluar dari rumah sakit Ara masih biasa-biasa saja. Namun, pagi ini usai membuat sarapan roti isi daging untuk dia dan Darma, mendadak nafsu makannya hilang entah ke mana.
Ara hanya menggigit ujung rotinya. Berbanding terbalik dengan sang suami yang tampak lahap dan baru saja menghabiskan secangkir teh bikinannya.
"Kok makannya dikit gitu? Kenapa?" tanya Darma melihat istrinya menyantap sarapan dengan ogah-ogahan.
"Males. Nggak kepengen."
"Disuapin mau?"
Pelan Ara menggeleng. Matanya menatap ragu Darma yang sudah rapi dengan jas kerjanya.
"Apa? Mau makan sesuatu?"
"Mau bubur ayam Jakarta."
Darma tersenyum cerah. Tampaknya istrinya mulai menunjukkan ngidamnya. "Ya, udah. Yuk, ke sana." Ia sudah mengajak Ara berdiri, tapi istrinya justru merasa enggan sehingga tetap bertahan pada posisinya.
"Nanti kamu telat. Aku diantar Pak Surip aja."
Pak Surip ini sopirnya mamanya Darma. Selly sendiri yang menyuruh pria pertengahan 40-an itu untuk pindah ke rumah anaknya supaya jika Ara ingin pergi-pergi dan Darma sedang tidak bisa sudah ada yang mengantar.
"Nggak apa-apa. Paling telat dikit."
"Tapi, semalem kamu bilang ada rapat."
Saking gemasnya, Darma tidak tahan untuk tidak mencubit pipi Ara pelan. "Rapatnya jam sepuluh, Sayang. Yuk, makan bubur sama aku. Suami ada masa minta ditemenin orang lain. Kan aku yang udah hamilin kamu. Aku juga yang mesti tanggung jawab."
Tentu saja, Ara senang bukan main. Ia langsung bergegas ke kamar untuk berganti baju dan membawa tas kecil berisi uang serta ponsel.
Itu kali pertama Ara ngidam. Darma tak mendapat kendala sama sekali. Bubur ayam doang, mah, kecil, Men!
Omong-omong Ara ini ngidamnya tidak setiap hari. Jadi, setelah bubur ayam dieksekusi, baru beberapa hari berikutnya ia kembali mengungkapkan apa yang menjadi keinginannya.
"Mas, aku mau bakmie goreng. Nanti kamu pulangnya mampir beli, ya?" pinta perempuan itu kepada suaminya melalui telepon di sore hari yang agak mendung.
Mendapati suaminya pulang membawa makanan yang diinginkannya, Ara pun tersenyum sumringah. Darma pun turut senang melihatnya. Lagipula, bakmie goreng doang, mah, kecil, Men!
Namun, wajah bahagia Ara rupanya hanya bertahan sebentar. Begitu membuka bungkusan bakmie goreng pesanannya, perutnya mendadak mual dan berujung ia memuntahkan seluruh isi lambungnya.
Mengetahuinya, Darma jadi ikut cemas, sedangkan yang bisa ia lakukan hanya memijat tengkuk istrinya. Ini kali pertama Ara benar-benar muntah. Biasanya perempuan itu hanya mual-mual ringan.
__ADS_1
"Udah enakkan?" tanya Darma usai istrinya keluar dari toilet di dekat dapur.
Ara hanya mengangguk.
"Sekarang makan, ya."
Sebenarnya Ara sudah tak berselera, tapi mengingat suaminya sudah lelah-lelah membelikannya usai pulang bekerja jadinya ia kembali mengangguk. "Sedikit aja terus mienya aja nggak pakai udangnya. Perutku nggak kuat nyium baunya."
"Kasih telurnya, ya, biar ada gizinya." Darma merayu.
Walaupun malas, Ara mengiakan. Kasihan juga janinnya kalau tidak cukup nutrisi.
Hanya lima suap, Ara menaruh garpu di tangannya. "Udah. Kayaknya aku mau minum susu aja, Mas."
"Mau dibikinin?"
"Nggak usah. Mas Darma lanjut makan aja."
Lelaki itu mengangguk. "Kasih Bi Marni separo, ya. Nggak habis aku kalau makan sendirian."
Ya, Bi Marni yang dulu bekerja pada orang tua Darma juga kini ditugaskan Selly untuk bekerja di rumah putranya.
Ara kembali sambil membawa sebuah mangkuk setelah menghabiskan susunya, kemudian menuju kamar yang ada di bagian belakang untuk memberikan bakmie goreng.
Dia bersyukur ada orang lain di rumahnya. Jadi, jika ada makanan berlebih tidak dibuang begitu saja. Adanya Bi Marni juga membuat Ara tahu banyak tentang masakan rumahan apa saja yang disukai dan tidak disukai suaminya.
......................
Gara-gara hanya makan sedikit, Ara tidak bisa memejamkan mata hingga larut malam lantaran perutnya minta diisi.
Di sebelahnya, Darma yang sudah terlelap terpaksa membuka mata karena merasakan pergerakan istrinya.
"Tidur, Babe."
"Mas, aku laper."
"Makan, gih," jawabnya dengan mata kembali terpejam.
"Aku pengen gudeg ceker. Kayaknya enak, deh." Takut-takut Ara mengatakan keinginannya.
Darma kembali membuka matanya. "Gudeg?"
__ADS_1
"Iya."
"Besok aja gimana? Sekarang makan roti dulu. Masih ada 'kan? Aku ngantuk, capek banget hari ini." Darma tidak berbohong. Dia memang lelah sebab tadi siang harus mengunjungi pabrik terkait mesin produksi yang baru datang dari luar negeri bermasalah.
Ara mengembuskan napas pelan. Jujur saja ada rasa kecewa karena Darma tidak menepati ucapannya yang katanya akan selalu mengusahakan setiap apa yang ia inginkan. Bahkan, untuk sekadar memesan lewat aplikasi online saja tidak. Padahal, memesan gudeg di jam-jam seperti ini bukanlah hal yang sulit dilakukan di Kota Solo.
Perempuan itu menyingkap selimut. Ara yakin tidak akan bisa tidur sebelum menyantap gudeg ceker. Membayangkan saja sukses membuatnya menelan ludah. Ia turun ke bawah dengan niat mau meminta tolong Pak Surip untuk mengantarnya. Tampaknya ia harus banyak-banyak berterima kasih kepada ibu mertuanya yang sangat mengerti dirinya.
Kembali ke kamar, Darma begitu anteng sebelum kemudian tangannya meraba-raba sisi ranjang sebelahnya dan tidak menemukan seseorang yang ia cari. Matanya sontak terbuka dan melihat tidak ada istrinya di kamar lelaki itu langsung turun ke lantai satu.
Benar saja, Ara ada di sana dan sekarang hendak menuju kamar Pak Surip dengan pakaian yang sudah rapi. Cepat ia menyusul istrinya sebelum sampai di depan kamar sopir mereka.
"Babe! Sayang!" Ia mencekal tangan istrinya.
Ara menoleh dengan raut datar. "Apa?"
"Mau ngapain?"
"Minta tolong Pak Surip buat anterin beli gudeg."
Darma menghela napas panjang. "Sama aku aja."
"Nggak perlu. Mas Darma 'kan cape. Bahaya juga nyetir dalam kondisi ngantuk apalagi bawa orang hamil." Ara menekankan kata terakhirnya. Sengaja agar suaminya semakin merasa bersalah.
"Ra, jangan gitu, dong."
"Jahat kamu, Mas! Aku kayak gini juga gara-gara kamu. Mana yang katanya mau usahain. Usaha cuma di mulut aja!" ungkap sang istri menohok dengan air mata yang sudah menggenang.
Darma menelan ludah. Gara-gara siapa katanya? Padahal siapa juga yang sering memancing saat sore hari. Saat ia pulang bekerja dan melihat istrinya guling-guling di kasur sambil haha-hihi karena kesenangan bermain game hanya dengan mengenakan handuk. Kalau ditanya kenapa seperti itu, jawabnya, "Nanggung. Ini aku mau masuk top three. Keren nggak istrimu, Mas?"
Ara memang belum bekerja lagi. Niatnya, perempuan itu akan masuk perusahaan mertuanya, tapi karena belum mendapat job desk yang dirasa sesuai kemampuannya jadilah belum terlaksana. Intinya dia juga ingin berpartisipasi melebarkan usaha milik keluarga suaminya dengan status yang sama dengan karyawan lain. Namun, kenyataannya hal itu harus layu sebelum berkembang lantaran dia sudah lebih dulu hamil.
"Iya, maaf. Nggak lagi kayak gitu, aku ngaku salah. Jangan marah lagi, ya, Sayang. Yuk, pergi beli gudeg." Darma menghapus air mata istrinya, memeluk, dan mencium keningnya beberapa kali. Paham betul laki-laki itu bagaimana cara meluluhkan hati sang istri.
Terbukti setelahnya suasana hati Ara kembali membaik. Perempuan itu menyunggingkan senyum manis. "Mau gudeg ceker yang paling enak. Dua porsi," ucapnya dengan jari membentuk tanda victory.
"Iya, Sayang. Aku ganti baju dulu, oke?" Darma menjawab dengan senyum yang tidak kalah manis yang hanya bertahan sesaat sebab begitu ia berbalik badan wajahnya mendadak pias. Dua porsi Ara bilang. Entah akan naik berapa kilo berat badannya nanti jika istrinya terus-terusan begini. Sembari menaiki tangga, Darma membatin, "Sabar, sabar. Orang sabar emang kesel."
.
Mau ngidam part 2 nggak? 😝😝😝
__ADS_1