Will Never Let You Go

Will Never Let You Go
Apartemen 2


__ADS_3

Ganti judul, dong, saya. Semoga yang ini lebih sesuai ya hehehe ....


.


"Mas, yang tadi itu ... kerasa banget sup ayamnya." Ara yang sedang membersihkan peralatan memasak menahan tawa. Antara lucu dan malu mengungkapkan hal semacam itu.


Perhatian Darma dari layar ponsel pun teralihkan. Ia beranjak dari kursi mini bar dan berdiri di belakang Ara, lalu menaruh kedua tangannya di pinggang sang kekasih sementara kepalanya kini sudah berada di bahu kanan gadis itu. "Sekarang rasa mint, mau coba?" Ia menawari mengingat beberapa menit yang lalu dirinya baru saja menggunakan mouth wash.


Tak ingin menanggapi, Ara pun memilih berlama-lama membilas mangkuk yang menjadi benda terakhir yang ia cuci.


Darma terkekeh melihat raut malu-malu pacarnya, dan dengan sifat jahil yang dimilikinya, lelaki yang sudah kembali bugar itu tiba-tiba merebut mangkuk yang masih saja dihujani air. "Udah bersih. Sayang airnya juga," katanya sambil menaruh mangkuk di rak yang terpasang di atas sink.


Ara memutar badan seratus delapan puluh derajat sehingga pandangannya beradu dengan Darma. Tangan lelaki itu yang tadi berada di pinggangnya kini sudah bertumpu di kitchen set, mengungkungnya dengan sangat posesif.


Jantung Ara berdebar tak karuan tatkla kedua sudut bibir Darma diangkat. Lelaki itu menatapnya intens, tanpa mengucapkan apa pun. Yang mana membuatnya salah tingkah.


Tak tahan dengan raut wajah Ara yang tampak menggemaskan di matanya, Darma lantas berucap, "Mau cobain nggak?"


Ara bungkam.


Dengan sedikit merendahkan tubuhnya, Darma mendekatkan wajahnya hingga mencium aroma segar dari parfum Ara. Namun, sebelum bibir tipisnya kembali merasakan manis ceri dari bibir Ara, pacarnya itu sudah lebih dulu kabur dengan menelusup melalui bawah ketiaknya.


Bersamaan dengan itu pula, bel apartemen Darma berbunyi, wajah Ara mendadak sumringah. "Pizza-nya dateng, Mas," katanya, kemudian menuju pintu untuk mengambil pesanan makanan.


Darma hanya bertopang dagu melihat Ara dengan semangat menggigit sepotong pizza.


"Mas Darma ga mamam?" tanya gadis itu setelah berhasil menelan makanan di mulutnya.


"Suapin!" titah Darma dengan nada manja, lalu merangsek ke Ara dan menyandarkan kepalanya di bahu sang gadis.


"Manja banget, sih!" Walau berkata demikian, Ara ambil juga sepotong pizza, lantas ia sodorkan ke depan mulut Darma.


"Biarin! Jahat kamu main kabur kayak tadi. Ke depannya nggak boleh gitu, lhoh, Ra. Durhaka sama pacar tahu nggak?"


Sontak saja, tawa membahana memenuhi ruang tamu apartemen Darma. "Mana ada durhaka sama pacar. Ngaco kamu, Mas!" Ara geleng-geleng kepala mendengarnya.

__ADS_1


Masa bodoh dengan Ara yang masih saja tertawa, Darma menyerukan wajahnya ke perpotongan leher Ara dengan tangannya yang memeluk erat tubuh mungil pacarnya.


"Mas ...." Ara sedikit bergerak karena lengan berotot Darma yang membuatnya sesak.


"Hmm ...."


"Kamu dulu gini juga sama mantan-mantan kamu?"


"Enggak."


"Masa? Kamu aja gini ke aku."


Dengan berat hati, Darma mengangkat wajahnya. "Beneran. Aku nggak pernah nempel-nempel mereka, tapi mereka yang nempel-nempel ke aku. Sampai ada, tuh, yang tiba-tiba narik tanganku terus dimasukin baju. Aku disuruh *****-***** badannya dia."


"Seneng, dong, kamu," ujar Ara dengan muka ditekuk.


"Nggak."


"Bohong!" Ara mendorong tubuh Darma menjauh.


"Beneran, Sayang. Aku, lhoh, udah bilang kalau kamu itu satu-satunya cewek yang aku tembak karena aku suka. Lupa, ya?" Darma meraih tangan Ara, menggenggamnya sambil sesekali memberikan usapan di punggung tangan.


"Ngapain, sih, cemburu? Itu, kan, udah berlalu."


"Mereka pasti juga sering nyosor-nyosor ke kamu."


"Elang juga pasti gitu ke kamu." Darma membalikkan ucapan Ara.


Gadis itu mengatupkan mulutnya rapat-rapat.


"Ra, hubungan ini bakal hancur kalau salah satu di antara kita sering mengungkit masa lalu satu sama lain karena itu pasti bikin cemburu nggak jelas, kayak kamu tadi." Darma sudah memasang wajah paling serius yang ia miliki. "Jangan diulangi lagi. Bikin badmood aja." Ia melepaskan tangan Ara dan beralih menghadap depan ke arah smartTV yang sedari tadi keduanya abaikan.


Gantian Ara yang mendekat, memiringkan posisi duduknya agar menghadap Darma. "Maaf, Mas .... Aku nggak bermaksud," lirihnya cemas.


Dengkusan pelan terdengar.

__ADS_1


Ara semakin merasa bersalah. "Maafin aku," katanya lagi sebelum kemudian mengecup sekilas bibir Darma. "Janji nggak bakalan gitu lagi."


"Cium lagi."


"Hah?"


"Nggak mau?" Darma kembali merajuk


Ara merutuk dalam hati. Merasa kesal, ia cium Darma tidak hanya sekali, tapi ada lebih dari tiga kali.


"Nakal!" Darma mengacak-acak rambut Ara hingga berantakan.


"Eumm ... Mas, kenapa kamu tiba-tiba pindah ke sini?" tanya Ara sembari merapikan rambut.


"Pengen aja. Kenapa emangnya?" Darma mengambil sepotong pizza lalu menyuapkannya pada Ara.


"Kamu hagi huntuk hama kerjaan, ha?" tanya gadis itu lagi dengan mulut menggembung.


"Kok, tahu?"


"Hmmm ...." Ara meminum green tea latte-nya untuk melegakan kerongkongannya.


Semenjak Darma mengatakan bahwa banyak sekali pekerjaan yang laki-laki itu tinggalkan demi dirinya, Ara jadi tahu mengapa terkadang Darma sering melamun seperti memikirkan sesuatu.


"Kamu jaga kesehatan, ya, Mas, kalau mau tinggal di sini. Jangan makan sembarangan. Nggak sadar, ya, kamu kurusan?" Ara menggoyang-goyangkan tubuh Darma ke kanan dan ke kiri.


"Baguslah kurusan. Jadi, nggak usah olahraga," celetuk Darma kontan mendapat cubitan di perut. "Sakit, Ra."


"Makanya dengerin kalau dikasih tahu."


"Iyaaaaa .... Btw, minggu depan aku ulang tahun. Kita ke Jogja, yuk? Kulineran," ajaknya sambil merangkul bahu Ara.


"Boleh. Nanti aku izin sama bapak. Kamu mau kado apa?"


"Ngabisin hari ulang tahunku sama kamu. Itu udah jadi kado terbaik buat aku, sih." Darma menyunggingkan senyum manis.

__ADS_1


Ara balas tersenyum, lalu melingkarkan tangannya ke leher Darma.


Lelaki itu menurunkan tangan sang kekasih. "Jangan gini. Bahaya." Sebagai gantinya, Darma mengangkat tubuh Ara supaya gadis itu duduk di pangkuannya, menghadap ke smartTV. Selama satu jam lebih mereka berada di posisi itu, menyaksikan film sambil membicarakan apa saja yang tercetus di kepala masing-masing.


__ADS_2