Will Never Let You Go

Will Never Let You Go
Stabilo


__ADS_3

Darmasena


Morning, my Ara.


Semangat ya buat hari ini. Kamu pasti bisa.


Btw, kamu berangkatnya naik ojek aja ya. Biar nanti pulangnya aku jemput, oke? Sayang kamu banyak-banyak.


Setelah dibuat senyam-senyum karena mendapat suntikan semangat di pagi hari, nyatanya Ara harus mendengkus kesal kala membaca pesan terakhir. Hingga ponsel dalam genggamannya berdering, dan layarnya menampilkan nama laki-laki yang kontaknya belum pernah ia ubah dari pertama kali menyimpannya, bibir gadis itu masih mengerucut.


"Hmm ...." Dengan malas-malasan Ara menjawab panggilan dari Darma.


"Kok, lemes gitu, sih? Kan udah disemangatin." Di ujung telepon, kening Darma berkerut.


"Males naik ojek. Aku mau bawa motor aja." Ara menantang dengan bibirnya yang kini mengul*um senyum.


"Raa .... Jangan gitu, dong. Aku ada rapat. Dianterin Cahyo mau?" Suara Darma terdengar memelas.


Ara menjauhkan ponselnya dari telinga. Senyumannya telah lenyap, berganti dengan hidungnya yang kembang kempis. Tampaknya Darma memang benar-benar tidak bisa sampai-sampai memercayakan Cahyo untuk sekadar mengantarnya.


"Nggak usah. Kalau Mas Darma sibuk, nggak jemput juga nggak apa-apa, kok. Kan masih ada besok-besok buat ketemu." Ara mencoba bijak, meski hatinya sedikit pedih mengingat semalam ia berharap sekali bisa mendapat usapan di puncak kepala atau pelukan dari sang pacar sebelum dirinya mengikuti ujian.


"Kalau jemput bisa, tapi kalau nganter ... rapat nanti penting banget soalnya, Ra. Dan aku nanti juga nggak cuma jemput, tapi mau ajak kamu beli baju." Darma memejamkan mata, terpaksa menggagalkan kejutan yang nantinya ia berikan.


"Beli baju? Dalam rangka apa? Aku nggak lagi ulang tahun."


"Emm ... minggu depan ulang tahun mama dan kamu diundang. Jadi ... berangkat naik ojek dulu, ya, please. Atau aku suruh Cahyo aja?"


"U-ulang tahun Tante Selly?"


"Iya. Udah ... jangan dipikir. Fokus ke ujian aja, ya, nanti aku jemput. Selesai abis makan siang, 'kan?"

__ADS_1


"Iya."


"Mau dianter Cahyo apa naik ojek?"


"Ojek aja." Ara mengembuskan napas, mencoba memperbaiki mood-nya agar sedikit lebih baik.


"Hati-hati, ya. Jangan lupa nanti share loc biar aku bisa mantau kamu."


Kebiasaan Darma sekarang kalau Ara menggunakan ojek atau taksi online, dia selalu meminta Ara mengirim GPS untuk memastikan gadisnya sampai di tujuan dengan selamat.


................


Tepat pukul setengah dua siang, Ara keluar dari ruang ujian dengan wajah lesu dan tubuh lemas. Ia menenggak air mineral yang selalu dibawa, kemudian menuruni tangga.


Di dekat gerbang sekolah, Darma melambaikan tangan pada gadis yang sedang celingukan seraya memainkan stabilo di tangannya.


Ara berjalan menghampiri dengan raut ingin menangis mengingat soal-soal yang membuatnya gigit jari.


"Lancar, sih, lancar, tapi nggak tau bener apa nggak." Ara pesimis. Terlebih melihat saingan-saingannya tadi terlihat sangat santai saat mengerjakan ujian.


"Bener, dong. Yuk, makan dulu biar bisa senyum dikit." Darma menggandeng tangan Ara dan membukakan pintu mobil supaya gadis itu masuk.


"Boleh minta peluk sebentar nggak? Cemas banget," pinta Ara begitu Darma sudah siap di belakang kemudi.


Darma menoleh dengan seulas senyum di bibir tipisnya, lalu mengangguk. "Anything for you, Ra."


Ara langsung menghambur begitu Darma merentangkan tangannya. Ia hirup kuat-kuat aroma lelaki itu. Aroma yang selalu membuatnya nyaman sampai-sampai ketiduran tempo hari.


"Soryy, bau keringat." Ara melepas pelukannya.


"Dikiranya aku nggak keringetan?"

__ADS_1


"Kamu wangi terus."


"Parfumku mahal soalnya."


Sontak saja bibir Ara mengerucut, sedangkan Darma sudah terbahak-bahak.


Merasa kesal karena sang kekasih tak juga menghentikan tawanya, Ara pun mencoret lengan Darma menggunakan stabilo.


"Eh?"


"Hukuman buat kamu karena nyebelin," kata gadis itu, lalu memalingkan wajah.


Darma terkekeh. Begini ini yang Darma suka dari Ara. Terkadang sangat dewasa sampai membuatnya terkesan, tapi ada sisi kekanak-kanakan di baliknya.


Melihat Ara sedikit lengah, Darma dengan cepat merebut stabilo lalu mencoret balik lengan Ara.


"Lhoh?" Ara menoleh dengan wajah sebal melihat coretan panjang hasil perbuatan pacarnya.


"Tau ini apa?" Darma mengacungkan stabilo milik Ara.


"Stabilo, emang kamu nggak tau?"


Darma tak acuh, ia justru kembali bertanya, "Tau gunanya buat apa?"


"Buat nandain yang penting," jawab Ara dengan sisa kesabaran yang ada.


"Nah, makanya aku tandain kamu pake ini." Darma kembali mencoret lengan Ara yang satunya. "Soalnya kamu penting buat aku." Ia tersenyum manis dengan kepala dimiringkan dan sebelah alisnya yang terangkat.


Kekesalan yang sudah berada di ujung mulut sirna seketika. Masa bodoh wajahnya sudah merah, Ara dengan kekuatan penuh mengigit bibir bawahnya, menahan agar sudut bibirnya tidak terangkat. Tidak! Dia tidak semudah itu meleyot gara-gara gombalan receh Darma.


Namun, tentu saja Darma tidak akan membiarkan usahanya sia-sia sehingga ia pun menyeletuk, "Kalau mau senyum, senyum aja. Nggak usah ditahan-tahan." Setelahnya, laki-laki itu membenarkan posisi duduknya, kemudian menyalakan mesin mobil dengan senyum yang juga tertahan.

__ADS_1


__ADS_2