Will Never Let You Go

Will Never Let You Go
Babymoon


__ADS_3

Ara tidak salah menjadikan Kota London sebagai destinasi. Kota ini sangat indah terlebih kini ia melihatnya saat malam hari sembari menaiki London Eye. Sebuah bianglala raksasa setinggi 135 meter yang berada di tepi selatan Sungai Thames. Jarak pandangnya yang mencapai 40 kilometer membuatnya bisa melihat seluruh penjuru kota.


Saking takjubnya, Ara sampai tidak sadar jika suaminya sedari tadi mengambil gambarnya.


"Cantik," puji Darma mengalihkan perhatian istrinya.


Ara menoleh dengan senyum mengembang. "Mau lihat."


Darma mengangguk, lantas menyerahkan kamera di tangannya kepada istrinya. Ada ribuan foto di dalam kamera mirrorles yang selalu dibawa ke mana-mana oleh lelaki itu selama mereka ada di sana.


"Kok banyak banget foto yang aku nggak tahu. Ini kapan? Ini pas di mana? Lhoh? Lhoh?" cecar Ara melihat banyak sekali foto candid dirinya.


"Kamu sibuk liat ini itu sama makan. Jadi, nggak sadar aku fotoin."


Ya, begitu menginjakkan kakinya di kota yang mendapat julukan The Smoke City itu, Ara langsung menjelaskan jadwal mereka saat babymoon. Keduanya tidak memakai tour guide karena Darma cukup hafal dan tahu jalanan Kota London.


Hari pertama Ara memutuskan untuk melihat kampus serta tempat tinggal suaminya selama dulu kuliah di situ.


Kepalang tanggung, Darma yang merasa sedang napak tilas lantas membawa Ara menuju tempat nongkrongnya, tempat di mana ia membaca buku, dan lokasi kejadian kecelakaannya dulu. Yang mana sukses membuat Ara menangis tersedu-sedu.


"Udah jangan nangis. Kasihan bayinya nanti ikut sedih. Lagian aku juga udah sembuh," ucap Darma beberapa hari yang lalu.

__ADS_1


Ara lantas menghapus air matanya. Dia memang sangat penurut jika sudah dikaitkan dengan bayi dalam kandungannya.


Hari kedua, mereka mengunjungi Madame Tussauds London. Sebuah museum patung lilin mulai dari artis internasional hingga tokoh-tokoh terkenal dunia. Tidak hanya Ara yang menggila di sini, Darma pun demikian. Lelaki itu mengambil banyak foto saat berada di zona Marvel Super Heroes.


Omong-omong, pasangan suami istri ini memang sengaja tidak terlalu banyak mengunjungi tempat wisata lantaran Darma yang khawatir jika nanti Ara kelelahan. "Gampang kapan-kapan ke sini lagi," begitu katanya.


Hari ketiga, seharusnya Darma ada janji dengan teman kuliahnya dulu, tapi karena mendadak temannya tidak bisa jadilah mereka pergi menuju Camden Town. Sebuah tempat wisata yang menjual berbagai macam souvernir. Dan mungkin jika Darma tidak memaksa membeli ini itu untuk diberikan sebagai oleh-oleh, mereka benar-benar hanya akan membeli magnet kulkas. Satu-satunya benda yang ingin dibeli oleh Ara. Tidak baju, tidak sepatu, tidak pula pernak-pernik. Cukup satu magnet kulkas. SATU!


Rasanya pergi ke London juga tidak sah jika tidak mengunjungi Big Ben yang merupakan ikon Kota London berupa lonceng besar di tengah menara jam yang berada di sebelah utara Istana Westminster, London.


Bibir Ara mendadak manyun melihat ia sudah sampai di penghujung foto. Perasaannya mendadak sedih mengingat ini hari terakhir sebelum besok pagi mereka kembali ke Indonesia. "Besok udah balik," katanya manja sembari merangsek ke pelukan suaminya.


Darma balas memeluk istrinya, mengusap lengan, dan berakhir mengelus perut istrinya yang sudah bertambah besar. "Nanti 'kan bisa babymoon lagi," jawab Darma menenangkan.


"Ya, udah. Nanti ke Tawangmangu aja kalau bosen. Kan dekat terus murah." Darma terkekeh-kekeh. Walau demikian, ia berikan usapan-usapan lembut di pinggang istrinya. "Hamil capek, ya?"


Ara mengangguk. "Cape, tapi seneng. Apalagi kalau dia gerak." Ia mengelus perutnya dibarengi senyum penuh kebahagiaan.


"Berarti nanti mau, ya, hamil lagi?" ujar Darma diiringi kerlingan nakal.


"Mas, anak satu aja belum lahir. Kok kamu udah mikirin anak kedua? Nggak inget gimana kamu ngurusin aku pas ngidam?"

__ADS_1


"Kapok gitu, sih. Tapi, lihat kamu kayak gini aku seneng."


"Seneng?" Pandangan Ara menyelidik melihat senyuman miring suaminya.


"Lebih berisi. Jadi, tambah seksi." Darma mencubit pelan kedua pipi Ara. "Aku pengen punya anak tiga, Ra. Satu yang mirip aku, satu yang mirip kamu, sama satu lagi yang bener-bener campuran kita." Lelaki itu menyebutkan keinginannya seperti sedang memesan makanan.


Ara benar-benar tak habis pikir. Memang suaminya ini bisa mengatur akan mirip siapa anaknya nanti sampai-sampai memiliki keinginan yang begitu mendetail.


"Oh, ya, tapi nanti sifatnya kebalikannya. Yang mirip aku sifatnya kamu banget, begitu juga sebaliknya terus yang bungsu ...."


"Mas, stop!" Ara menaruh tangannya di depan wajah Darma. "Ini ngomongin anak, lhoh. Bukan jelasin cara bikin kue," tegasnya dengan raut kesal.


Dan barulah Darma sadar betapa konyolnya keinginannya. Lelaki itu lantas terbahak-bahak hingga sudut matanya berair.


.


Btw, kemarin ada yang penasaran sama mantannya Ara. Karena aku labil, kalau aku buat season 2 ada yang mau nggak?


London Eye


__ADS_1


(Source: Pinterest)


__ADS_2