
Bibir Ara mencebik kesal. Tangannya berusaha menyingkirkan tangan Darma yang secara aktif meraba-raba perutnya. "Mas, aku masih ngantuk. Jangan ganggu," katanya, lalu kembali mengempaskan tangan suaminya. Setelahnya, Ara berbalik badan dan menutupi tubuhnya dengan selimut hingga kepalanya saja yang terlihat.
"Udah pagi," bisik Darma, kemudian merapatkan tubuhnya.
"Jam berapa emang?" Masih dengan mata terpejam Ara bertanya.
"Lima."
"Bangunin aku jam enam kurang seperempat."
Darma mengembuskan napas panjang. Tak mau diabaikan begitu saja, ia menarik selimut yang menutupi tubuh keduanya. Kontan saja Ara kesal. Ia kembali berbalik badan. Matanya kini sudah terbuka lebar. Memandang suaminya dengan rasa ingin memakan Darma hidup-hidup.
"Mas, kok, nyebelin gitu, sih!"
"Nanti siang aku ke Surabaya, lhoh, Ra. Tiga hari kamu nggak ketemu aku. Nggak kangen emang?"
"Kangen, ya, susulin, lah! Gitu aja repot." Masih dalam mode kesal Ara menjawab.
Wajah Darma jadi ditekuk. Bukan! Bukan itu jawaban yang dia mau. Wajah sedih Ara yang seperti hendak ditinggal berperang yang ingin ia lihat. Bagaimana perempuan itu selalu ingin dekat dengannya saat mereka hendak berjauhan, dan kekhawatiran Ara tentangnya yang ingin Darma dengar. "Kok gitu, sih? Kok nggak cemas kayak biasanya?"
"Aku selalu cemas kalau kamu ke luar kota, tapi sekarang aku lagi capek banget. Kamu jahat semalem!"
Mau tidak mau Darma menyunggingkan senyum. Semalam dia benar-benar membuat Ara bekerja keras. "Ya, udah. Sini gantian aku yang senengin kamu."
Ara menahan tubuh suaminya yang hendak mendekat. "Nggak mau," tolaknya diiringi gelengan kepala.
"Bener nggak mau? Tadi kalau kangen mau langsung susulin aja, 'kan? Oke. Nanti kalau kamu chat atau telepon nggak aku ladenin. Nanti kalau aku mau ngomong sama Shila aku hubungin Mama aja." Ya, nanti siang sebelum Darma pergi ke Surabaya, dia akan lebih dulu menitipkan istri dan anaknya di rumah orang tuanya.
"Maasssss ... kok, jahat?" Ara merengek mirip bocah.
"Makanya diem aja. Nikmatin apa yang aku kasih."
Ara memasang wajah malu-malu. Terlihat gemas sampai Darma yang tak tahan lantas mencubit hidungnya. Perlahan lelaki itu mendekatkan wajahnya. Membiarkan bibir mereka bertemu. Saling menyesap rasa yang selama ini menjadi candu bagi keduanya. Jemari kokoh itu juga tak tinggal diam hingga menimbulkan lenguhan pelan dari mulut Ara.
"I love you." Kalimat yang kerap Darma ucapkan sebelum menenggelamkan tubuhnya di dalam Ara.
__ADS_1
Namun, kali ini, sebelum hal itu terjadi perhatian keduanya teralihkan saat pintu kamar mereka diketuk. Berulang-ulang dengan tangisan bocah yang mengiringi.
"Pak, Bu, ini Non Ashila-nya menangis."
Itu suara Mbak Sus. Ara menatap Darma, memberi kode pada laki-laki yang sudah memasang wajah masam supaya menyingkir.
"Mamiiiiiiii ...."
Rengekan yang lagi-lagi disusul dengan ketukan pintu membuat Darma dengan berat hati enyah dari hadapan istrinya. Sembari mengenakan kausnya, Ara terkekeh kala mendengar suara shower tidak lama setelah suaminya masuk kamar mandi.
"Sepertinya Non Ashila mimpi buruk. Tiba-tiba bangun terus nangis kenceng dan mencari Ibu. Saya minta maaf sudah membangunkan Ibu pagi-pagi begini," jelas Mbak Sus begitu Ara membukakan pintu.
"Nggak apa-apa. Semalam memang agak rewel. Tidurnya juga agak molor."
"Kalau begitu saya siapkan keperluan sekolah Non Ashila sekarang."
Ara mengangguk. "Sekalian siapin seragam sama baju santai buat tiga hari. Kita mau nginep di rumah Mama."
"Baik, Bu."
"Mau makan apa, Babe?" kata Darma dalam perjalanan menjemput putrinya sekolah. Suasana hatinya tentu sudah jauh lebih baik karena yang sempat tertunda telah terlaksana.
"Mama masak banyak di rumah katanya," jawab Ara seadanya. Tubuhnya sangat lelah jadi malas untuk sekadar berpikir mau makan atau jajan apa.
"Capek banget, ya?" tanya Darma retoris.
"Pake tanya lagi!" Ara merengut. Tidak kira-kira memang suaminya terkadang, tapi kalau boleh jujur, ya, dia juga suka. Wanita itu lantas mengambil cermin kecil untuk memastikan tidak ada tanda merah di leher yang mungkin bisa dilihat orang lain karena mobil Darma telah tiba di sekolah Ashila.
"Aku aja, deh, yang turun." Darma menawarkan diri.
Tentu saja Ara tidak menolaknya. Ia menyandarkan tubuhnya ke jok. Menoleh ke kiri, dapat ia lihat putrinya tampak kegirangan begitu melihat Darma. Ya, karena kesibukannya, Darma jarang sekali bisa menjemput Ashila. Jadi, sekalinya itu terjadi, bocah dengan bandana kuning itu sangatlah gembira.
Dan Ashila semakin senang saat tahu bahwa dirinya akan menginap di rumah neneknya. Tak ubahnya bocah itu, Selly juga sangat antusias. Wanita tua itu langsung keluar mendengar deru mobil di halaman rumahnya.
"Ashila Cantika-nya Oma Selly. Ululu ... Oma kangen banget, Sayang," katanya heboh dan langsung menggendong cucunya. "Shila kangen Oma nggak?"
__ADS_1
"Kangen. Oma ada pudding susu nggak?" tanya Ashila datang-datang yang dicari makanan.
"Ada, dong! Oma bikin banyak. Ada yang stroberi, taro, cokelat, sama vanila. Shila mau yang mana?"
"Mau semuanya, Oma."
"Boleh. Semuanya buat Ashila Cantika-nya Oma Selly."
"Yeeee ... asiiikkk!" Anak itu kegirangan di gendongan neneknya.
Darma dan Ara hanya saling tatap. Ya, beginilah kalau mereka berkunjung ke rumah orang tua salah satu dari keduanya. Tidak dianggap! Yang penting anaknya! Indukannya, mah, nanti-nanti saja.
"Ra, Mama masak kepiting telur kesukaan kamu. Cobain, deh." Selly menyodorkan sepiring besar kepiting telur kepada menantunya. Mereka kini sudah duduk di meja makan.
Ara tersenyum sumringah. Berbanding terbalik memang. Kalau Ara pulang ke rumah orang tuanya, maka makanan Darma yang diperhatikan ibunya, setelah Ashila. Tapi, kalau di sini rasa-rasanya Darma yang seperti anak tiri. Diabaikan oleh ibu lelaki itu sendiri! Dan Ara senang melihatnya.
"Aku? Mama nggak masak cumi? Atau kerang gitu?" Darma bertanya sambil matanya jelalatan melihat lauk-pauk yang ada.
"Makan yang ada aja, Dar. Tinggal pilih juga," sahut sang ibu yang kini sudah sibuk menyuapi Ashila pudding susu.
Ara tertawa pelan, kemudian menyendokkan kepiting telur ke mulutnya. "Enak, Ma. Makasih, ya," katanya, lalu melakukan suapan keduanya.
Darma mengembuskan napas panjang. Oke, tidak masalah ibunya sekarang tak acuh padanya. Yang penting 'kan ada istrinya yang bisa memanjakannya kapan saja ia mau. Seperti sekarang, Darma sudah menyingkirkan piringnya yang masih kosong, menggeser tempat duduknya agar lebih dekat dengan Ara, dan membuka mulut, meminta disuapi kepiting telur yang memang sangat menggugah selera. Tidak tahu malu memang!
"Hati-hati, ya, Mas. Kabarin kalau udah sampai," ucap Ara usai makan siang selesai dan suaminya akan segera berangkat ke Surabaya.
"Iya. Kamu juga hati-hati sama Shila. Kabarin kalau ada apa-apa." Darma lantas mencium kening istri, lalu anaknya. "Ma, aku berangkat, ya," lanjutnya pada sang ibu.
"Hati-hati bawa mobilnya."
Darma mengangguk, ia melambaikan tangan begitu sudah duduk di belakang kemudi. Perlahan mobil itu melaju meninggalkan halaman. Ashila sudah masuk ke rumah bersama neneknya. Dan saat Ara berbalik badan hendak menyusul anak serta ibu mertuanya, sebuah notifikasi direct message Instagram masuk ke ponselnya. Keningnya berkerut membaca pesan yang hanya memanggil namanya dari seseorang yang nama penggunanya aneh dan terkesan asal-asalan serta foto profilnya yang dibiarkan kosong. Ara sudah mau mengabaikannya, tapi begitu pesan kedua yang isinya lebih panjang masuk, tanda tanya besar seketika menyeruak dari dalam hatinya.
.
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN. INGAT!
__ADS_1
KOMENTARMU ADALAH SEMANGATKU 🍖🍖🍖