Will Never Let You Go

Will Never Let You Go
Suami Malang


__ADS_3

"Pindah sekolah aja!" ucap Darma lantang usai mendengar cerita tentang apa yang terjadi pada anak semata wayangnya di sekolah. Rahang laki-laki yang baru tiba menjelang sore tadi itu tampak mengeras. Ya, memang orang tua mana yang tidak marah saat anaknya dibilang jorok dan bodoh? Mati-matian dia menjaga dan merawat, seenak jidat orang mengatai-ngatai!


"Mas sabar dulu." Ara berusaha menenangkan dengan mengusap punggung lebar suaminya. Ia sedikit menyesal sudah mengiakan permintaan ibu mertuanya untuk menginap satu malam lagi. Jadi, tidak enak 'kan kalau pembicaraan itu didengar.


"Nggak bisa, lah!" Wajah Darma masih menampilkan raut marah.


"Mas, mereka masih anak-anak. Kayak Jesslyn itu 'kan pasti diajari sama orang tuanya kalau makan harus pakai tangan kanan. Jadi, begitu lihat Shila dia langsung nyeletuk jorok."


"Kok kamu malah belain anak orang lain?" sungut Darma makin murka.


"Aku nggak belain! Aku cuma belajar dari pengalaman. Waktu kecil aku juga diajarinya gitu. Mas, ayolah!" Ara menggamit lengan suaminya. "Besok aku mau anterin Shila agak pagi biar bisa ketemu Jesslyn dan mamanya."


"Aku ikut!"


Ara menyunggingkan senyum. Kendati amarah suaminya sudah sedikit mereda, Darma masih saja berbicara ketus. "Iya. Kamu yang ngomong sama Jesslyn dan mamanya juga boleh, kok."


"Ra!"


"Iya, Mas?"


Darma mengembuskan napas kasar. Berani-beraninya istrinya sudah bisa tersenyum sementara dia masih dalam mode kesal setengah mati. "Nggak usah ikutin omongan Mama."


Sebelah alis Ara terangkat. "Omongan yang mana?"


"Jangan biasain Shila buat apa-apa pakai tangan kanan. Biarin dia kayak gitu."

__ADS_1


"Tapi, Mas ... aku pikir omongan Mama ada benarnya juga." Hati-hati Ara berbicara. Ia menggigit bibir bawahnya, memasang telinganya betul-betul menunggu respons Darma.


"Ada benarnya dari mana? Mama itu kuno! Nggak usah diikutin. Dia itu nggak tahu apa-apa. Dia mana tahu gimana tersiksanya aku dulu waktu dipaksa kalau ngapa-ngapain mesti pakai tangan kanan." Urat-urat di leher lelaki itu terlihat menonjol. Darma kembali meradang.


"Mas, tapi ...."


"Masih bilang tapi kamu?" Darma melayangkan tatapan tidak suka. "Coba kamu baca internet. Ouh, atau—"


"Aku udah baca banyak artikel," potong Ara terpancing emosi. Dia tidak sebodoh itu. Kenapa Darma sangat menyebalkan? Ah, seharusnya Ara tidak heran. Darma memang tidak bisa diganggu gugat jika sudah mengenai anak.


"Besok kita ke psikolog aja," cetus Darma tiba-tiba.


Mata Ara membelalak. "Ngapain?"


"Aku nggak maksa. Aku emang iyain ucapan Mama, tapi kamu bisa lihat apa aku bener-bener lakuin itu ke Shila?!" Napas Ara memburu kala mengatakannya. Mereka tinggal seatap. Mengasuh anak bersama, tapi bisa-bisanya laki-laki itu tidak melihat bagaimana ia merawat dan mengajari Ashila.


Darma mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Terbersit rasa bersalah dalam hatinya melihat istrinya marah, tapi di saat bersamaan matanya tampak berkaca-kaca.


"Mending kamu mandi dulu, Mas. Biar pikiranmu tenang. Aku mau lihat Shila dulu." Ara sudah mau melangkah keluar kamar, tapi Darma menahannya.


Lelaki itu mencekal pergelangan tangan Ara, lalu menariknya dan membawa wanitanya ke dalam dekapannya. "Maaf, Ra," ungkapnya tulus disusul kecupan berulang di puncak kepala istrinya.


Ara yang masih kesal memilih diam sampai-sampai Darma harus melingkarkan tangannya ke pinggang pria itu.


"Peluk aku juga, Ra. Kangen tau," katanya menghirup aroma segar dari perpotongan leher istrinya.

__ADS_1


"Aku juga kangen kamu, Mas." Ara sedikit berjinjit agar pelukannya makin erat.


Di balik punggung Ara, bibir Darma mengukir senyuman. Ia lantas bergoyang ke kanan dan ke kiri sehingga tubuhnya dan tubuh Ara terlihat sedang menari bersama.


Ara terkekeh, dan tanpa melepaskan pelukannya ia berkata, "Kamu ngapain, sih, Mas?"


"Pengen, Ra," ungkap Darma terlampau jujur.


"Haish! Udah, lah! Aku mau tengokin Shila." Ara mengurai pelukannya. Membuat bibir Darma mengerucut.


"Abis Shila tidur, ya, Babe."


"Eumm ... gimana, ya?" Ara mengusap tengkuknya. Menimang-nimang permintaan suaminya.


"Raaaa ... katanya mau baby boy. Gimana, sih? Ya, ya? Udah lama enggak, lhoh."


"Lama dari mananya? Sebelum kamu ke Surabaya juga gitu, kok."


Darma menyengir kuda. "Pokoknya aku mau. Udah sana kamu ke Shila. Suruh dia tidur sekarang kalau perlu." Ia mendorong istrinya menuju pintu.


Ara menurut begitu saja sambil cengengesan. Namun, saat sudah memegang knop pintu, ia menyadari sesuatu sehingga menolehkan kepalanya ke belakang. "Mas, ini 'kan rumah Mama. Shila tidurnya sama kita," katanya seraya menelengkan kepala dengan segaris senyum mengejek.


Seketika binar di wajah Darma redup. Tanpa berucap, lelaki itu berbalik menuju kamar mandi. Ara mengedikkan bahu tak acuh, tapi dari suara pintu kamar mandi yang ditutup cukup keras, ia tahu saat ini suaminya cukup frustrasi.


Ouh, suamiku sayang, suamiku malang.

__ADS_1


__ADS_2