
Senyum mengembang terukir indah di bibir Ara dan Darma. Saat ini keduanya sedang melihat calon buah hati mereka yang terlihat aktif di dalam rahim Ara melalui pemeriksaan USG. Yang paling membahagiakan adalah akhirnya pasangan suami istri itu mengetahui apa jenis kelamin anak mereka.
"Oke, sudah. Saya jelaskan setelah ini." Dokter Ervan yang telah selesai menaruh transduser, lalu kembali ke mejanya.
Dengan dibantu Darma, Ara turun dari ranjang untuk kemudian mendengar penjelasan dokter kandungan yang sejak awal menangani kehamilan Ara.
Dibandingkan Ara, dalam setiap kesempatan Darma jauh lebih serius dalam memperhatikan saat Dokter Ervan menerangkan hasil pemeriksaan. Laki-laki itu pula yang lebih aktif bertanya tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan istrinya.
"Jadi, nggak ada masalah 'kan, ya, Dok? Kita bisa pergi babymoon ke London?" tanya Darma memastikan.
Dokter Ervan mengangguk. "Iya. Habis ini saya buatkan surat izin untuk melakukan penerbangan ke luar negeri. Mungkin yang nanti harus diperhatikan itu makanan, vitamin jangan lupa, sama jangan memaksakan diri. Kalau sudah cape, ya, istirahat."
Darna kontan menoleh ke arah istrinya dengan tatapan mata yang seakan berkata "dengerin, tuh!". Pasalnya dia hafal betul bagaimana tingkah istrinya yang kadang tidak mau berhenti beraktivitas sebelum dipaksa dan diingatkan bahwa sekarang ada nyawa lain yang harus dijaga. Ya, Ara yang dari dulu terbiasa melakukan apa-apa sendiri kadang tak enak hati melihat Bi Marni bersih-bersih sepanjang hari, apalagi asisten rumah tangganya itu sudah berusia senja.
Keluar dari ruangan Dokter Ervan, mereka mampir sebentar untuk menebus vitamin untuk Ara. Tumben sekali tidak perlu mengantre. Jadi, tidak perlu membuang-buang waktu.
"Mau makan dulu nggak, Babe?"
"Makan apa?"
"Selat. Laper banget belum makan dari siang." Darma mengelus perutnya.
"Ya, udah. Yuk!" Ara mengiakan. Lagipula, dia juga sudah lapar. Tidak! Lebih tepatnya dia sedikit-sedikit lapar semenjak memasuki trimester kedua.
Mereka lantas putar balik karena kafetaria rumah sakit sudah terlewati.
"Kamu mau berapa? Satu atau dua?" tanya Darma setibanya di depan stand yang menjual Selat Solo.
"Satu ...." Ara menjawab ragu.
"Yakin kenyang?" Darma memiringkan kepala sembari terkekeh.
"Kalau dua nggak habis." Ara menatap kesal suaminya dengan bibir manyun.
"Iyaaa ... pesen tiga, ya. Nanti yang satunya makan bareng. Mau?"
Ara menjawab dengan anggukan.
"Ya, udah. Kamu duduk sana. Nanti capek berdiri terus."
Lagi-lagi Ara hanya mengangguk sebelum akhirnya duduk di salah kursi yang tidak terlalu jauh dari tempat suaminya memesan makanan.
"Delicious food for the most beautiful wife in the world," ujar Darma sembari menaruh Selat Solo ke hadapan istrinya.
__ADS_1
Ara menarik kedua sudut bibirnya ke atas. Ia pandangi hidangan khas Jawa yang aromanya begitu menggugah selera itu dengan sesuatu yang sedikit mengganjal di hatinya.
"Kok cuma diliatin?"
"Makanku banyak, ya, Mas?" tanya Ara retoris.
"Iya."
Embusan napas panjang terdengar. Ara mendadak enggan menyantap makanannya.
"Kenapa, Sayang? Kok tiba-tiba sedih gitu?"
Ara mengangkat wajahnya, menatap suaminya yang tengah menanti jawaban darinya. "Aku gendut, lhoh, Mas. Udah naik tujuh kilo."
"Terus kenapa kalau gendut? Takut aku nggak sayang kamu lagi?" Darma sedikit berdecak. Wajahnya mendadak badmood.
Ara mengatupkan mulut rapat-rapat. Takut karena sadar sudah mengacaukan suasana hati suaminya.
"Inget, ya, Ra, suami yang baik itu nggak akan mempermasalahkan gimana bentuk tubuh istrinya. Kamu gendut 'kan karena hamil anakku. Kalau nanti setelah melahirkan kamu lebih gendut lagi juga aku nggak masalah. Kamu makan banyak juga demi anak kita. Jangan suka mikir yang enggak-enggak. Aku bukan Papa, Ra. Jadi, tolong, jangan mikir yang aneh-aneh. Aku orangnya setia, lhoh. Nggak sadar, ya, kamu setiap aku pergi main ke mana sama siapa selalu izin kamu?"
Raut wajah Ara bertambah melankolis. "Maaf ...."
"Kamu nggak salah, tapi aku nggak suka kamu kayak gini. Mana Ara yang suka makan aja, tanpa mikirin timbangan? Yang suka makan Indomie malem-malem tanpa takut gendut, hm?"
"Mau disuapin?"
"Huh! Giliran makan di luar aja nawarin. Coba kalo di rumah, asyik sama game! " Ara menyindir.
"Iyaaaa ... besok aku suapin, ya, kalau di rumah."
"Bener? Kalau bohong nanti bisulan, ya, inget!"
"Iyaaa .... Udah, makan. Nanti dingin nggak enak."
Ara lantas meraih sendok dan garpu. Selat Solo memang tidak pernah salah. Rasanya yang manis dan gurih membuat lidahnya ingin lagi dan lagi.
Ara dan Darma baru selesai menghabiskan makanan mereka saat tangis bocah laki-laki terdengar memekakkan telinga.
"Eyang ... aku mau itu!"
"Enggak, Naren! Hari ini kamu udah jajan banyak."
Tangis bocah umur tiga tahun itu semakin kencang. Ara menoleh dan matanya kontan melebar mengetahui jika suara wanita yang tadi berbicara dengan nada tinggi ialah Bu Rini. Ia menoleh ke arah suaminya dengan raut terkejut yang hanya dibalas dengan usapan di punggung tangan.
__ADS_1
"Tapi, Nalen mau itu." Anak kecil bernama Naren itu menunjuk stand minuman.
"Enggak boleh! Uang Eyang sudah habis buat beliin kamu jajan!"
Betapa terkejutnya Ara saat bocah kisaran usia tiga tahun itu berlari mendekat padanya, dan berkata, "Tante, tolong beliin Nalen itu. Nalen haus, mau minum yang dingin-dingin."
Pandangan Ara mengikuti telunjuk Naren. Sebenarnya mudah saja untuk membelikan anak di depannya satu cup es cokelat, tapi tentu saja ia tak mau jika tanpa seizin orang tua bocah itu.
"NAREN! Sudah Eyang bilang 'kan tadi kalau Eyang nggak ada uang. Ayahmu juga nggak kasih uang. Uangnya sudah habis buat bayar pengobatan Bunda dan bayar hutang gara-gara habis ditipu orang!" Saking kesalnya Bu Rini, ia tidak dapat menahan emosinya.
Tidak hanya Naren, tapi Ara serta Darma pun ikut kaget mendengar bentakan Rini. Belum lagi wanita itu yang menyebutkan bagaimana kondisi ekonominya serta anaknya.
Sama seperti Ara, Bu Rini juga terkejut begitu melihat kalau wanita yang dihampiri cucunya ternyata gadis yang dulu pernah ia hina. Lidah wanita itu mendadak kelu. Jantungnya berdegup tak karuan. Dia merasa sial. Merasa seperti habis ditelanjangi karena kelepasan bicara.
Ara yang tidak tega melihat Naren masih sesenggukan pun berkata, "Kalau Bu Rini mengizinkan saya mau membelikan minuman yang diinginkan Naren."
Wanita tua itu mendecih. "Mau berlagak sombong kamu mentang-mentang punya suami kaya? Cih! Inget yang kaya itu suami kamu bukan kamu! Kamu itu, ya, mau pakai barang semahal apa pun juga tetap aja nggak ada nilainya. Wanita perayu!"
Ara menunduk dalam dikatai seperti itu. Wanita perayu katanya? Coba sebutkan kapan dia merayu Darma sebelum adanya ikatan pernikahan antara dia dengan laki-laki yang berdiri di sampingnya.
"Jaga mulut Ibu kalau bicara, ya!" Darma menatap nyalang Bu Rini. "Saya dan Ara sudah menikah. Semua yang saya miliki juga menjadi milik dia. Memangnya kenapa kalau dia sombong? Dia emang beneran kaya. Bukan pura-pura kaya seperti kebanyakan orang zaman sekarang. Dan lagi, Ara tidak pernah merayu saya. Saya yang merayunya mati-matian. Di depan dia. Di depan keluarganya."
Wajah Bu Rini merah padam. Dia ingin mengumpat, tapi nyalinya teramat kecil.
"Kenapa diam?! Sadar kalau yang sebenarnya tidak ada nilainya itu Anda, bukan istri saya? Ingat baik-baik ini! Sampai istri dan anak saya kenapa-napa gara-gara ucapan Anda barusan, saya tuntut Anda!"
Wajah Bu Rini memucat. Ia lantas menarik cucunya untuk segera pergi dari hadapan Ara dan Darma.
Darma menoleh ke arah Ara yang matanya tampak memerah. "Kamu nggak apa-apa? Kita cek ke dokter lagi kalau kamu mau."
Ara hanya menggeleng. "Pulang, Mas."
Darma mengangguk. Sejenak ia memeluk dan mengusap kepala istrinya sebelum kemudian meninggalkan kafetaria rumah sakit yang untungnya sangat sepi.
.
Iya, iya, kalian boleh, kok, bilang makasih ke saya. Haha.
By the way ada request lagi nggak mau bonchap apa?
Selat Solo
__ADS_1