Will Never Let You Go

Will Never Let You Go
Mendebarkan


__ADS_3

Kalau ditanya apa yang lebih mendebarkan dari melamar anak gadis orang dan menikahinya, memimpin rapat besar untuk pertama kali, serta presentasi di depan klien penting? Maka Darma akan menjawab, "Menemani istrinya melahirkan."


Ya, pagi tadi tidak seperti biasanya usai Darma keluar dari walk in closet ia mendapati istrinya berbaring di tempat tidur. Biasanya Ara sangat lincah menyiapkan ini itu serta mengingatkannya agar nanti makan siang tepat waktu.


"Kamu sakit, Babe?" tanya Darma sembari menyimpulkan dasinya.


"Nggak. Nggak enak aja rasanya."


"Pegel?"


"Iya, gitu, deh," kata Ara yang kini sudah berbalik badan agar bisa melihat suaminya.


Darma sedang menatap laptopnya yang sejak lelaki itu melek memang sudah dihidupkan. Tampak jemari kokohnya menari-nari di papan keyboard, sebelum kemudian benda itu dimatikan dan dimasukkan ke tas kerja.


"Kamu nanti pulang jam berapa, Mas?" tanya Ara gelisah.


"Sore kayak biasanya," jawabnya dengan pandangan sudah tertuju pada istrinya. Darma melangkah mendekat, lalu duduk di tepi ranjang. "Mananya yang pegel?"


"Sini." Ara menunjuk pinggulnya. "Biasanya kalau dibawa tiduran sembuh, tapi ini ...." Ia sengaja menggantung kalimatnya. Biar suaminya yang menyimpulkan sendiri.


"Jangan-jangan kamu mau melahirkan. Ke rumah sakit, ya?"


Kontan saja Ara menggeleng. "Nggak mau. Nanti aja. Lagian ini sakitnya masih kayak yang biasanya. Takutnya kontraksi palsu."


Darma manggut-manggut. Meski demikian, tak dapat ia sembunyikan raut cemas dari wajahnya. "Sarapan dulu, yah? Aku ambilin di bawah terus bawa ke sini."


"Iya, tapi jangan lama-lama."


Fix! Darma tidak salah menduga kalau istrinya benar akan melahirkan. Melihat raut wajah wanitanya, dia juga yakin kalau Ara sudah punya feeling ke sana mengingat insting seorang perempuan itu kuat. Tapi, biarlah, Darma ingat pesan dokter bahwa mereka tidak perlu panik karena mungkin ini baru awal-awalnya saja.


Lelaki itu kembali ke kamar dengan nampan yang dipenuhi makanan. Ada sandwich, roti panggang, oatmeal, apel yang sudah dipotong-potong, jus alpukat, cokelat panas, dan secangkir kopi yang langsung diambil Darma begitu menaruh nampannya.


"Kenapa banyak banget?"


"Biar kamu bisa milih. Aku ganti baju dulu, ya," ujar Darma tanpa menaruh kembali kopinya. Lelaki itu masuk ke walk in closet dan keluar dengan kaus berkerah.


"Kamu nggak jadi ke kantor, Mas?" Akhirnya Ara bisa melontarkan pertanyaan itu setelah tadi tidak sempat lantaran suaminya lebih dulu menghilang.

__ADS_1


"Nggak. Jaga-jaga," jawabnya sambil membuka tas kerja. Darma mengambil laptopnya, lalu duduk bersandar di ranjang dengan Ara yang masih berbaring di sebelahnya.


Perempuan itu hanya menipiskan bibir. Keningnya berkerut cemas sekaligus takut. Apa benar dia akan melahirkan hari ini?


Menit demi menit terlewati. Kamar dengan ranjang king size itu begitu sunyi. Hanya suara ketikan dari laptop Darma yang mengisi sebelum akhirnya desisan dari mulut Ara terdengar pelan.


Darma kontan menoleh. "Babe, sakit?"


Ara menarik napas panjang. "Iya, tadi. Tapi, sekarang udah enggak."


Darma diam mengamati. Beberapa menit kemudian, lagi-lagi istrinya mendesis lirih. "Ke rumah sakit, ya?"


"Nanti aja."


"Kalau melahirkan di sini gimana?"


"Jangan ngada-ada. Ini aja sakitnya masih—" Ara memejamkan mata ketika sakit itu kembali datang dan rasanya sedikit lebih kuat dari sebelumnya.


"Atau mau diteleponin Ibu? Apa aku tanya Mama?"


Darma menuntun Ara hingga ke toilet. Bahkan, tadi sempat memaksa untuk ikut masuk yang langsung ditentang oleh istrinya.


Menurut buku yang Ara baca dan juga penjelasan dokter minggu lalu, ciri pertama orang akan melahirkan adalah mengeluarkan flek. Ara mencoba mengecek pakaian dalamnya dan napasnya tertahan sesaat melihat noda itu ada di sana. Berarti memang benar sekarang waktunya. Ara jadi merasa tak karuan.


"Ra! Gimana?"


Dengan wajah sedikit pucat, Ara lantas membuka pintu kamar mandi. "Mas ...."


"Iya? Mau ke rumah sakit sekarang?"


"Aku takut, Mas. Gini aja sakitnya udah lumayan." Ara meraih tangan suaminya, berniat menggenggamnya. Tapi, laki-laki itu lebih dulu memeluknya.


"Aku temenin. Jangan takut, ya. Yuk, ke rumah sakit. Aku tadi sudah bilang Bi Marni kalau kemungkinan kamu akan melahirkan hari ini jadi dia bikinin bubur biar kamu gampang makannya sama Pak Surip juga udah aku suruh siapin mobil."


Ara mengangguk lemas.


Dan di sinilah Darma sekarang. Di ruang bersalin menemani istrinya yang tengah merasakan kontraksi. Melihat dan mendengar bagaimana Ara mengeluh, merintih, hingga menitikkan air mata saat gelombang cinta itu datang sementara tidak ada yang bisa ia lakukan selain menggenggam tangan, mengusap peluh yang menetes, dan memberikan semangat membuat Darma sungguh tidak tega. Saking tidak teganya, laki-laki itu bahkan hanya iya-iya saja saat Ara memakinya.

__ADS_1


"Sakit, Mas." Entah sudah berapa kali Ara mengatakannya.


"Sabar, ya, Sayang." Percayalah, Darma bahkan jauh lebih cemas dibandingkan Ara. Pikirannya ruwet. Lebih ruwet daripada memikirkan solusi bagaimana agar profit perusahaan terus meningkat setiap bulannya. Darma takut istrinya kenapa-napa karena melahirkan anaknya, anak mereka.


"Gara-gara kamu!"


"Iya, maaf. Seharusnya aku nggak gini, Ra."


"Kenapa cowok dapat enaknya aja!" ujar Ara kesal.


Darma mengembuskan napas panjang. Tidak tahu mesti menjawab apa. Kalau saja bisa, dia juga tak masalah jika Ara membagi rasa sakit itu dengannya.


"Muka kamu jelek, Mas!" Ejekan seperti ini biasa Ara layangkan saat kontraksinya hilang, dan sesaat setelahnya ia akan mengeratkan genggamannya di tangan suaminya.


"Iya. Yang penting istrinya cantik."


Ara ingin mengatai-ngatai lagi, tapi tidak sanggup karena sakit yang baru saja datang. Ia sampai menggigit bibir bawah sembari menarik napas dalam-dalam dan begitu sakitnya hilang Ara merasakan sesuatu mengalir di kakinya.


"Mas, basah!" ujar Ara. Dia bahkan tak diberi kesempatan untuk mengucapkan kalimat lebih panjang karena rasa sakit sudah kembali hadir.


Darma segera menekan tombol untuk memanggil dokter. Wajahnya sangat panik melihat istrinya terus menerus mengerang, tanpa adanya jeda seperti tadi.


Dokter Ervan datang bersama beberapa orang yang Darma tidak tahu apa tugasnya.


"Nanti kalau saya minta dorong, Ibu mengejan, ya," kata dokter itu.


Ara sontak menoleh kepada Darma. "Jangan tinggalin aku. Aku takut, Mas," katanya diiringi lelehan air mata.


"Itu nggak akan terjadi. Mungkin kamu lupa, tapi aku pernah bilang kalau aku nggak bakal ninggalin kamu, kecuali kamu sendiri yang memilih untuk pergi. Tapi, pada kenyataannya kamu juga tetap memilih aku bahkan setelah bertahun-tahun kita nggak ketemu. Nggak berhubungan. I really love you, My Wife." Darma mengecup kening istrinya sekilas. "Kuat, ya, Sayang. Kamu pasti bisa," lanjutnya dengan segaris senyum yang tak dapat dipungkiri jika ada kekhawatiran di sana.


"Aku nggak mau punya anak lagi."


Darma mengangguk. "Satu aja aku udah berterima kasih sama kamu, kok. Bisa lihat kamu seneng, itu yang paling penting."


Dan setelahnya sesuai instruksi Dokter Ervan, Ara mengejan. Beberapa kali sampai akhirnya tangis seorang bayi terdengar. Mereka yang detik itu baru saja sah menjadi orang tua tak bisa membendung air mata bahagia saat sang dokter mengangkat bayi perempuan yang masih berlumuran darah dengan tali pusat yang belum dipotong.


...-SEASON 1 IS END-...

__ADS_1


__ADS_2