Will Never Let You Go

Will Never Let You Go
Titik Terang


__ADS_3

Enjoy!


.


Ditolak karena pengangguran mungkin sudah biasa, tapi ditolak karena berasal dari keluarga kaya? Darma tak habis pikir dibuatnya.


"Sama kayak omamu yang nggak setuju karena perbedaan status sosial ekonomi kita. Orang tuaku juga keberatan dengan kamu yang berasal dari keluarga berada. Kenapa nggak bilang, ya ... kamu lihat sendiri mereka itu orangnya diam dan nggak enakkan. Bapak sama ibu, mereka pernah saranin aku kalau cari jodoh itu, ya, yang sepadan statusnya."


Jawaban Ara beberapa hari yang lalu saat Darma mengantar pulang dan bertanya alasan mengapa orang tua gadis itu tak setuju dengan hubungan keduanya terus terngiang-ngiang di telinga. Di saat banyak orang tua ingin anak gadisnya mendapatkan laki-laki mapan dan rupawan, kenapa orang tua pacarnya justru memiliki keinginan yang begitu sederhana? Ah, ya, bukankah kesederhanaan itu pula yang membuat Darma terpikat tidak hanya kepada Ara, tetapi juga keluarganya?


Darma bukan lagi Darma kalau menyerah begitu saja. Dengan kapasitas otaknya yang mungkin sudah berkurang akibat cedera yang pernah dialami, ia mencoba berpikir bagaimana cara agar orang tua kekasihnya dapat menerimanya dengan tangan terbuka. Karena itu, Darma menyalakan komputer di meja kerjanya. Mencoba mencari referensi melalui internet.


Cara menaklukkan hati calon mertua


Melihat hasil pencarian yang terlalu mainstream, Darma mengetikkan kata kunci lain.


Apa yang harus dilakukan agar orang tua pacar menerima kita


Decak sebal keluar dari bibir tipisnya saat hasilnya tak beda jauh dari sebelumnya.


Tips ampuh mencuri hati mertu|


Ketikkan pada mesin pencarian itu tak selesai gara-gara pintu ruangannya diketuk dengan cukup bar-bar dari luar. "Masuk," seru Darma agak kesal sambil menutup tabs layar komputernya agar tidak ketahuan.


Sosok lelaki yang baru beberapa hari sah menjadi kepala keluarga muncul dari balik pintu.


Kening Darma mengernyit. Rasa-rasanya hari ini dia tidak memiliki janji penting dengan siapa pun, lantas untuk apa Aldo datang ke kantornya? Mengganggu saja!


"Pengantin baru ngapain ke sini? Bulan-bulan madu, kan, enak," canda Darma dengan maksud mengusir halus.


Namun, yang jadi sasaran tak peka dan malah menuju sofa yang ada di ruangan itu, lalu menjatuhkan tubuhnya di sana. Tanpa permisi, Aldo juga mengambil minuman dingin di kulkas yang ada di sebelahnya, kemudian menenggaknya sampai habis. "Pengantin baru, kan, judulnya doang."


"Aslinya?"


"Nyeh! Sok nggak tahu segala." Aldo memutar bola matanya malas.

__ADS_1


Darma terkekeh di kursi kebanggaannya.


"Gue ngumpet di sini sehari, ya, Bro," celetuk Aldo menghentikan gerakan jemari Darma yang sedang berbalas pesan dengan Ara.


"Udah kayak maling aja lo. Kenapa, sih?" Agaknya Darma tertarik. Apalagi melihat wajah Aldo yang sudah kusut mirip daster Bi Marni yang cuci kering pakai.


"Ada, lah!"


"Gue usir, ya, lo kalau nggak mau cerita. Atau mau gue teleponin Imelda suruh nyeret lo keluar dari sini."


"Jangan, jangan." Aldo langsung memohon. "Tolong, kasihani hamba, Yang Mulia."


"Ya, udah. Kasih alasan yang jelas. Kantorku bukan tempat buat sembunyi pria labil."


Aldo mendengkus. "Lo tahu, kan, Imelda sekarang lagi hamil?"


Darma hanya mengangguk.


"Dia tiap hari nemplok terus, nggak mau dilepas. Bahkan, ke kantor juga sekarang ikut, makanya gue kabur ke sini. Gue bilang ke Imelda kalau lo butuh temen curhat. And voila, gue bisa bebas sebentar." Aldo tersenyum bangga di akhir kalimatnya.


"Seneng, sih, seneng. Tapi, kalau udah gitu nggak lama pasti dia nunjukkin ngidamnya. Pengin ini, pengin itu. Lo nggak tahu, sih, semalem gue nyari seblak sampe jam setengah dua belas malem. Eh, begitu dapet, dimakan aja enggak."


"Biasa kali. Nyokap gue juga dulu gitu waktu hamil Bima. Lagian Imelda ngidam juga, kan, gara-gara benih yang lo tanem. Jadi, ya lo mesti tanggung jawab."


Darma benar-benar sok bijak saat ini. Seakan-akan dia adalah laki-laki berpengalaman dalam menghadapi istri yang tengah hamil muda, dan itu sukses membuat Aldo sebal setengah mati.


"Gue juga tanggung jawab kali. Kalau enggak, nggak bakal gue turutin semua yang dia mau sampai-sampai badan gue masuk angin. Lo, mah, ngomong gampang. Belum tau aja ntar kalau punya istri. Gue doain istri lo ntar ngidamnya lebih aneh-aneh lagi. Amin," doa Aldo menggebu-gebu.


Yang didoakan hanya mesam-mesem. Ya, pikiran Darma langsung berkelana. Dia malah jadi tidak sabar menanti hari itu tiba. Hari di mana buah cintanya akan hadir dan tumbuh di rahim Ara.


"Lo sakit, Dar?" Aldo yang melihat keanehan temannya langsung beranjak dan menyentuh dahi Darma. "Nggak panas."


Biasanya Darma akan datar-datar saja kalau diajak mengobrol apalagi masalah perempuan, tapi dia yang baru saja menyadari kalau sahabatnya terus tersenyum menangkap ada hal lain yang belum temannya itu ceritakan.


"Sialan lo!" Darma menepis tangan Aldo yang masih betah menempel di keningnya.

__ADS_1


"Lagian lo aneh banget. Kesambet?"


Alih-alih menjawab, Darma justru mengganti topik pembicaraan, "Mumpung lo di sini, gue mau tanya—"


"Tanya apa?" potong Aldo tak sabar seraya mendaratkan bokongnya di kursi depan meja Darma.


"Gimana cara lo yakinin orang tua Imelda kalau lo serius sama anaknya?"


"Hah? Maksudnya?" Aldo masih belum paham.


"Ya, lo bilang apa sampai akhirnya orang tuanya Imelda percaya sama lo?" Darma menyandarkan tubuhnya ke kursi disusul embusan napas kasar.


"Ooo ...." Bibir Aldo membulat. "Nggak ada bilang apa-apa gue."


"Do!"


"Serius, Dar! Lagian orang tuanya Imelda mau nentang gimana coba? Walaupun apa yang gue sama Imelda lakuin salah, tapi, kan, orang tuanya dia tahu kalau seenggaknya kerjaan gue jelas. Gue juga tanggung jawab."


Darma manggut-manggut membenarkan. Jika Aldo hanya perlu meyakinkan, maka dia juga hanya harus melakukan hal yang sama pada orang tua Ara. Tampaknya itu bukan hal yang terlalu sulit mengingat rekam jejaknya di keluarga Ara terbilang cukup bagus.


"Lo kenapa tiba-tiba tanya begituan?" tanya Aldo. Pandangannya menelisik dengan tubuh yang sedikit dicondongkan.


Darma mendorong bahu temannya agar kembali mundur, lalu dia bangkit berdiri. "Gue mau lamar anak orang!" katanya sambil berkacak pinggang.


"Hah?" Aldo ikut-ikutan berdiri. Mungkinkah terlalu lama mengurung diri membuat seseorang mengalami halusinasi berlebih? Atau jangan-jangan Darma mengonsumsi narkoba?


"Lo sehat, kan, Bro? Tadi ke kantor nggak ada yang nyegat di tengah jalan, kan? Ya, siapa tahu ada cewek rambut panjang, muka pucet minta dianterin ke mana gitu," cerocos Aldo terdengar khawatir.


"Lo yang nggak sehat!" Darma tidak terima dibilang gila, meski secara tidak langsung. "Gue punya pacar kali, dan rencananya weekend nanti gue mau dateng ke rumahnya."


"Lo nggak ada bilang sama gue kalau punya cewek. Siapa, sih?"


"Ada, lah. Nanti aja gue kasih tahu, soalnya elo rese."


"Cih!" Aldo berdecak kesal. Giliran sudah menemukan titik terang saja dia dilupakan. Kendati demikian, ia merasa senang melihat temannya kembali menemukan semangat hidup. Ya ... meskipun aneh karena mendadak begini, tapi biarlah. Tinggal tunggu saja kabar baiknya.

__ADS_1


"Lo di sini aja, ya. Mau bertelor juga terserah. Gue mau keluar sebentar." Darma sudah menyambar kunci mobilnya. Dia akan pergi menemui Ara. Tidak! Tepatnya dia akan mengajak pacarnya bolos kerja. Toh, bos kekasihnya juga sedang mendekam di ruang kerjanya. Biar impas!


__ADS_2