
Ara menunggu dengan gelisah di ruang tamu rumahnya. Bagaimana tidak? Sudah hampir pukul setengah delapan malam, tapi Darma belum juga menunjukkan tanda-tanda pulang. Puluhan pesan serta panggilan juga telah Ara lakukan. Namun, semuanya nihil. Darma bagai hilang ditelan bumi.
Di tengah keresahan wanita itu, Ashila datang menghampiri dengan mata memerah, tanda sudah mengantuk. "Mami, jadi pegi lumah Oma nggak?"
"Shila ngantuk, ya?"
Anak itu mengangguk, kemudian menguap.
Ara tampak berpikir sejenak. Daripada menunggu Darma yang entah akan pulang jam berapa, sepertinya lebih baik jika ia menidurkan putrinya. "Ya, udah. Kita bobo, yuk. Shila mau minum susu nggak?"
"Papi? Shila mau dibikinin susu sama Papi." Ashila yang agaknya rindu dengan sang ayah mengungkapkannya dengan permintaan yang sederhana.
"Papi masih sibuk. Besok, ya, kalau udah selesai Shila bisa minta apa pun sama Papi. Oke?" Ara mengacungkan ibu jarinya.
"Oke." Ashila lantas meraih tangan sang ibu yang terulur untuk menggandengnya.
Pikiran Ara tak bisa tenang dari mulai membuatkan susu hingga akhirnya Ashila terlelap setelah ia menyanyikan lagu apa saja yang anaknya minta. Kecupan lembut Ara bubuhkan di kening putrinya sebelum kemudian kembali ke kamarnya.
Ada sebongkah kekecewaan mengapa Darma tidak mengabarinya jika candle light dinner itu batal. Ara meraih sebuah kotak berhiaskan pita merah muda dengan raut sedih. "Kamu ke mana, Mas?"
Ara mencoba untuk menghubungi suaminya kembali. Ponsel lelaki itu masih aktif, tapi tidak jua diangkat. Lagi dan lagi pertanyaan mengapa tercetus di hatinya. Ara mengembuskan napas pelan, lalu beranjak untuk membersihkan make up dan berganti baju. Ia berniat pergi tidur dan berharap saat membuka mata esok pagi, Darma sudah ada di sebelahnya. Namun, sekali lagi ia harus menelan pil kekecewaan tatkala sisi ranjang sebelahnya masih dalam keadaan rapi.
Ingin Ara menghubungi mertuanya, menanyakan apakah Darma menginap di sana. Tapi, seandainya pria itu tidak ada, hal itu justru membuat rumah tangganya terlihat sedang tidak baik-baik saja. Ara tidak mau orang mengendus apa pun tentang masalahnya, tanpa terkecuali.
Ketukan di pintu kamar menyadarkan Ara dari lamunan. Ia beranjak dengan kepala sedikit pusing. Ah, dia juga pernah merasakan hal seperti saat di rumah sakit kala menjenguk ibunya. Mungkin inilah gejala awal hamil yang dialaminya sekarang. Ara jadi mengelus perutnya yang masih rata. Hingga saat ini belum ada satu pun orang yang tahu bahwa dirinya hamil sebab Ara ingin Darma menjadi orang yang pertama mengetahuinya.
"Mamiii ...."
Panggilan itu membuat Ara segera melangkah guna membukakan pintu. Ashila sedang berdiri di depan kamar sembari mengucek mata.
"Papi mana?" tanya gadis kecil itu.
"Papi belum pulang," jawab Ara seadanya.
"Kenapa belum? Papi ke mana, sih? Kenapa Papi sibuk telus? Kenapa Papi bohongin Shila?" Bibir Ashila mengerucut diiringi isak tangis yang mulai kentara.
Ara yang tak tega jadi berlutut agar wajahnya sejajar dengan wajah putrinya. "Papi lagi ada urusan. Gimana kalau kita main ayunan di taman kompleks?"
"Tapi, Shila mau Papi. Mamiii ... Shila mau sama Papi. Telepon Papi." Tangis anak itu makin menjadi.
__ADS_1
Sungguh Ara harus memeras otaknya. Ashila yang sudah bertambah besar mulai sulit untuk dialihkan perhatiannya sekalipun dengan hal-hal yang anak itu sukai sehingga dengan perasaan tak menentu, Ara pun menelepon Darma.
Pagi ini nomor ponsel suaminya tak bisa dihubungi. Pikiran Ara makin runyam sementara Ashila juga mulai rewel. Ara ingin melampiaskan kemarahannya, tapi di saat bersamaan dia tak bisa melakukannya mengingat itu tak baik jika sampai diketahui Ashila.
"Nomornya nggak aktif. Main ayunan aja, ya, Nak," ucap Ara. Ia tersenyum cerah ketika Ashila menganggukkan kepala.
Sinar mentari terasa menyengat ubun-ubun sesampainya ibu dan anak itu di taman. Kendati demikian, hal itu tak menyurutkan semangat Ashila yang entah sudah berapa kali meluncur di prosotan. Ditemani Bi Marni yang memang disuruh untuk ikut lantaran setiap weekend Mbak Sus libur, Ara memijit pelipisnya beberapa kali.
"Non Ara pusing?"
"Sedikit, Bi. Nggak apa-apa, kok."
Bi Marni hanya mengangguk. Tanpa bertanya pun, wanita bertubuh subur itu tahu jika majikannya sedang tak tenang. Namun, bukan ranahnya untuk ikut campur. Meski sudah lama mengabdi pada keluarga Darma, tapi ia tahu batasan.
"Mami, haus," kata Ashila mendekati ibunya yang sedari tadi duduk di bawah pohon ketapang kencana.
Bi Marni dengan sigap membuka tas kecil berisi bekal untuk Ashila. Ia menyerahkan botol minum setelah membuka penutupnya.
"Ashila, pulang, yuk! Mami capek!" ungkap Ara sedikit menarik atensi Bi Marni.
"Tidak mau! Shila mau main sampai Papi pulang. Kalau nggak pulang, Shila di sini telus."
"Tidak mau!" kata bocah itu kekeuh.
Ara melengos pasrah. Beruntungnya Bi Marni yang terlalu peka bergantian merayu. Wanita tua itu mengatakan akan membelikan kue putu yang sangat enak jika pergi ke pasar besok. Ashila yang penasaran bagaimana rasa serta rupa kue berwarna hijau itu pun menyetujui ajakan untuk pulang.
Usai pulang dari taman, Ara menghabiskan waktu di rumah sambil menemani anaknya bermain sambil belajar. Tentu saja ia melakukan semuanya dengan perasaan campur aduk sebab hingga detik ini Darma belum juga ada kabar.
"Mami, pastel Shila mana?" tanya Ashila saat tidak menemukan pewarna yang biasa digunakan di tas sekolahnya.
"Shila taruh mana kemarin?"
"Tidak tahu!"
"Shila coba cari. Mami bantuin." Ara bangkit berdiri dengan rasa malas yang luar biasa. Di tengah kesibukannya mencari pastel, terdengar deru mobil berhenti di depan rumah. Ara beralasan kepada anaknya hendak mengambil minum untuk mengecek apakah yang datang benar Darma atau bukan.
Dan tepat! Itu memang Darma, suaminya. Tapi, tunggu ... raut wajah lelaki itu sangat tidak bersahabat begitu memasuki rumah. Darma bahkan tidak menoleh ke Ara barang sedikit pun.
"Bi, tolong temenin Shila di ruang belajar," pesan Ara kepada Bi Marni yang kebetulan ada di dapur, kemudian menyusul suaminya yang lebih dulu menaiki tangga.
__ADS_1
"Baik, Non."
Luapan emosi yang sejak kemarin tertahan seakan meledak ketika Ara memasuki kamar dan melihat Darma memasukkan beberapa baju ke koper. "Mas, kamu mau ke mana?"
Darma masih tak acuh. Ia sibuk memikirkan barang apa saja yang hendak dibawa pergi.
"Mas, kamu mau ke mana!" Nada bicara Ara sudah naik. "MAS!"
Setelah menutup koper, akhirnya Darma menoleh. "Aku mau pergi."
"Ke mana?" Kesabaran Ara benar-benar diuji saat ini.
"Yovan's bachelorette party," jawabnya sambil berlalu.
Ara mengekori suaminya dengan darah yang seakan mendidih. "Sampai bawa-bawa tas segala?"
Kembali Darma tak menggubrisnya. Tatapan lelaki itu tertuju pada anak tangga yang sedang dituruninya. Dan tanpa Ara tahu, sebelah tangannya yang bebas sudah mengepal kuat.
"Mas! Kamu kenapa, sih?" tegas Ara saat Darma hampir sampai di pintu utama rumah mereka. "Aku tungguin kamu semalaman. Kamu nggak ada kabar sama sekali dan sekarang kamu pulang dengan muka kayak gitu terus mau pergi lagi? Kamu marah sama aku? Iya? Harusnya aku yang marah ke kamu, Mas. AKU!"
Darma memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat. Senyuman miring tercetak di bibir tipisnya. "Oh, ya? Kamu kayak gitu aja marah sama aku terus gimana sama aku yang tahu kalau istriku transfer uang ke mantan pacarnya? KASIH TAHU AKU MESTI GIMANA!"
Ara mengerjap-ngerjapkan mata. Terkejut mendengar suara Darma yang memenuhi seluruh ruangan. "Mas, dengerin aku dulu. Ini juga yang mau aku ceritain ke kamu."
"Bullsh!t!" sentak Darma. Matanya memicing tak suka. "Masih suka kamu sama dia sampai dibela-belain transferin uang? Nggak tega lihat dia susah? Masih berharap sama dia? Kalau iya, terus buat apa, Ra? Buat apa kamu minta maaf sambil nangis-nangis di depanku waktu itu?"
"Mas, kamu salah paham. Waktu itu juga aku ketakutan."
Darma berusaha tak mendengarnya. Ia kembali melanjutkan langkahnya lebih cepat lagi.
"MAS! KAMU HARUS DENGERIN AKU DULU!" teriak Ara merasa frustrasi melihat Darma memasukkan koper ke dalam mobil.
"Kenapa harus? Tukang selingkuh selamanya akan menjadi tukang selingkuh!"
Deg!
Lidah Ara mendadak kelu. Kakinya yang hendak menyusul dan mencegah Darma pergi secara otomatis terhenti. Dilihatnya mobil suaminya perlahan menjauh seiring dengan air matanya yang mengalir deras.
"Kamu bakalan nyesel karena nggak mau dengerin aku, Mas."
__ADS_1