Will Never Let You Go

Will Never Let You Go
Mutasi Rekening


__ADS_3

[Akhirnya masalahnya udah kelar, Babe. Aku bisa pulang cepet. Mau candle light dinner? Kita titipin Ashila bentar sama Mama.]


"Mauuuu," tulis Ara sebagai balasan dengan tambahan emoji hati di belakangnya. Wanita itu langsung menuju walk in closet dan membongkar koleksi gaun yang dimiliki. Ah, tidak hanya itu, Ara juga membuka laci di mana perhiasannya tersimpan.


Tanpa disengaja, penglihatan Ara jatuh pada sebuah laci yang ikut terbuka karena saking bersemangatnya. Ia meneguk ludah melihat sebungkus pembalut masih dalam keadaan utuh. Ini sudah tanggal berapa? Ara lantas menyalakan ponsel, lalu membuka aplikasi penghitung periode tamu bulanannya.


"Udah telat sepuluh hari," gumamnya. Jantung Ara berdegup tak karuan. Belum pernah ia sampai setelat ini sebelumnya. Apa dirinya sungguh-sungguh hamil? Tapi, dia tidak merasakan gejala orang hamil seperti saat mengandung Ashila.


"Mikir, Ra, mikir!" Ara mengusap wajahnya frustrasi. Sudah macam wanita yang baru pertama kali telat datang bulan. Padahal, sudah ada buntut satu.


"Beli testpack!" Akhirnya ide itu muncul setelah beberapa kali Ara mondar-mandir tidak jelas macam setrika eror. Ia menatap jam dinding dan tepat sekali waktu sudah mendekati jam di mana Ashila selesai latihan menari. Rencananya Ara akan mampir ke apotek setelah menjemput putri kesayangannya.


Tak seperti biasanya, siang ini Ara mengendarai mobil dengan kecepatan pelan. Sebab, jika seandainya benar hamil, ia takut janinnya kenapa-kenapa.


Ara langsung turun dari mobil begitu tiba di sekolah putrinya. Tampak dari kejauhan sana, Ashila melambaikan tangan kemudian berlari ke arahnya.


"Ashila, sekolahnya gimana, Sayang? Semuanya baik, 'kan?" tanya Ara sambil mendudukkan Ashila di car seat.


"Baik, Mami. Mami, Shila lapel." Anak itu mengelus perutnya.

__ADS_1


"Iya, sampai rumah nanti langsung makan, ya?"


"Tidak mau!"


"Terus, maunya apa?"


"Makan di lesto yang enak!"


"Enggak! Kita makan di rumah. Nanti sore Papi ngajak pergi ke rumah Oma, lho. Mau nggak?" Untung saja Ara punya amunisi untuk membuat anaknya menurut.


"Benelan?" Mata Ashila seketika berbinar-binar.


Ara manggut-manggut meyakinkan. "Makan di rumah. Oke?"


Ara memilih jalan lain untuk pulang mengingat ada tempat lain yang harus dituju. Untung saja Ashila tidak banyak bertanya saat diajak lantaran bocah itu sudah kelaparan. Bisa-bisa begitu Darma pulang mulut bocah itu akan ember dan mengatakan jika mereka sempat pergi ke apotek.


"Ashila sama Mbak Sus dulu, ya. Mami ada perlu," kata Ara begitu tibah di rumah. Perlu yang ia maksud adalah pergi ke kamar mandi sambil menunggu panggilan alam untuk buang air kecil. Anehnya, di saat seperti rasanya susah sekali untuk kebelet pipis. Ara sampai menghabiskan setengah botol minum air yang tersedia di kamar dan barulah dia bisa mendapatkan panggilan itu.


Tarikan napas panjang mengiringi tangan Ara yang hendak mencelupkan testpack ke sebuah gelas kecil yang menampung urinenya. Kendati ia mungkin hamil anak kedua nyatanya ini adalah kali pertama Ara menggunakan benda itu untuk melakukan tes kehamilan.

__ADS_1


Ara menghitung dalam hati satu sampai sepuluh baru kemudian membuka matanya yang tadi sempat terpejam. Raut terkejut sekaligus tidak percaya tergambar jelas di wajah cantiknya. Matanya sudah berkaca-kaca melihat benda di tangannya menunjukkan dua garis merah.


Saking takjubnya, air mata pun tak bisa dibendung. Ara menangis di kamar mandi. "Kasih tahu Mas Darma?" katanya disela-sela tangisnya.


"Ah, enggak. Gimana kalau aku kasih kejutan ke dia? Pas banget nanti malem dinner bareng." Ara lantas keluar dari kamar mandi. Ia mencari kotak hadiah untuk menyimpan testpack yang nantinya akan diberikan kepada suaminya.


Tepat saat Ara selesai menyiapkan kado berisi testpack, sebuah pesan dari Darma muncul di layar ponselnya.


[Nanti malam dandan yang cantik, ya. Aku punya sesuatu buat kamu.]


Bibir tipis Darma mengukir senyum tatkala pesannya langsung dibaca oleh sang istri. Satu set perhiasan limited edition yang dipesannya beberapa hari yang lalu kini sudah ada dalam genggamannya. Darma tidak sabar melihat Ara memakai itu.


"Aku juga punya sesuatu buat kamu," balasan dari Ara.


Sebelah alis Darma terangkat. Jarang-jarang istrinya memberinya kejutan diluar hari ulang tahunnya atau ulang tahun pernikahan mereka. Karena rasa penasarannya, Darma berniat menelepon Ara. Tapi, ketukan pintu ruangannya membuatnya harus menundanya sejenak. Ya, Darma sudah berada di kantornya sejak satu jam yang lalu usai dari Salatiga.


Widya masuk membawakan sebuah berkas dan menaruhnya di meja atasannya. "Ini rekening koran yang Bapak minta minggu lalu. Maaf, saya baru menyerahkannya sekarang."


Darma mengangguk. "Nggak apa-apa. Kemarin juga saya di luar kota. Kamu boleh keluar."

__ADS_1


Widya sedikit membungkukkan badan sebelum enyah dari ruangan bosnya.


Darma meraih map kuning berisikan mutasi rekening istrinya. Ya, gara-gara masalah Elang beberapa waktu lalu, ia terpaksa bertindak seposesif ini. Katakan Darma egois, tapi hingga detik ini ia tidak rela jika uangnya dipakai membantu seseorang yang ibunya pernah mencaci maki istrinya. Dan sial! Rahang laki-laki itu mengeras kala membaca sebuah transaksi dengan nilai yang cukup besar dikirim ke sebuah rekening atas nama "Elang Prasetya".


__ADS_2