
Ara melempar begitu saja ponselnya ke ranjang, lalu merebahkan tubuhnya dengan wajah cemberut. Dia sudah mandi dan berdandan, hanya tinggal berganti pakaian maka ia sudah siap berangkat. Namun sayangnya, baru saja Elang meneleponnya dan berkata bahwa laki-laki itu tidak bisa pergi karena harus mengantar ibunya.
Jika sudah menyangkut Bu Rini, tentu saja Ara tidak bisa berbuat apa-apa. Meraih kembali ponselnya, ia mencoba menghubungi Keyla. Berharap sahabatnya itu bisa menemaninya pergi ke toko buku.
"Sorry, Ra, Ibuku masih belum sembuh banget. Jadi, aku nggak bisa pergi-pergi. Maaf, ya," kata Keyla di seberang telepon.
"Oh, iya, Key. Nggak papa, kok. Malah aku yang nggak enak. Maaf juga, ya."
Ara menghela napas panjang saat panggilan telepon itu sudah terputus. "Apa aku ajak Gusti, ya?" Ia tampak menimang, tapi detik berikutnya ia langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Tidak! Ara tidak akan mengajak Gusti. Lebih baik ia pergi sendiri daripada nanti harus menuruti permintaan adiknya yang terlampau pandai dalam mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Bangun dari tidurnya, Ara menaruh kembali gaun yang tadi hendak ia kenakan. Tangannya kini beralih membuka pintu lemari yang lain, lalu menarik kaus oversize berwarna putih polos. Setelah menyisir rambutnya agar terlihat sedikit lebih rapi, Ara menyambar kunci motor serta jaketnya. Ya, Ara memutuskan untuk pergi ke toko buku sendirian. Dia tidak mau membuang-buang waktunya hanya karena kekasihnya tidak bisa.
Dengan wajah yang dibuat senormal mungkin, Ara melangkahkan kakinya ke toko buku yang terdapat di sebuah mall. Seperti biasa, meskipun lirih akan selalu ada suara sumbang milik orang tak dikenal setiap kali melihat orang lain pergi seorang diri. Mungkin kampanye normalisasi orang pergi sendirian harus Ara gaungkan mulai saat ini.
Sebagai seorang perempuan, tentu saja Ara yang kini sudah berada di dalam toko buku tidak langsung menuju rak tempat di mana buku yang hendak ia beli berada. Ara lebih dulu melipir ke bagian kesukaannya, novel. Ya, gadis berambut panjang itu salah satu penggemar novel. Beruntung sekali zaman sekarang banyak platform penyedia novel online sehingga dia tidak perlu menghabiskan banyak uang untuk memenuhi hasrat membaca novel.
Setelah mengambil sebuah novel yang dirasa menarik, Ara kini sudah menelusuri rak yang memajang ratusan buku kiat-kiat menghadapi ujian masuk perguruan tinggi. "Yang mana, ya?" Ara tampak kebingungan. Setiap buku pasti memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing.
"Ah, iya!" Ara menjentikkan jarinya. Ia teringat buku yang kemarin sempat ia cari di website toko buku tersebut. Buku latihan soal-soal yang juga terdapat rangkuman materi di dalamnya.
Dengan senyum mengembang, Ara yang kini sudah berhasil menemukan buku yang dimaksud melenggang menuju kasir untuk membayarnya. Namun, sebelum ia sampai, sebuah suara yang cukup familiar terdengar memanggil namanya.
"Ara!"
Ara menolehkan kepala, lalu memamerkan rentetan gigi putihnya mengetahui siapa yang memanggilnya. "Hai ...," ucapannya menggantung. Ara bingung harus memanggil apa laki-laki yang kini sudah berdiri di depannya. Umurnya sudah pasti lebih tua darinya. Jadi, Ara tidak enak hati kalau langsung memanggil nama.
"Panggil nama aja langsung nggak apa-apa," kata Darma seakan mengetahui pikiran Ara.
"Ouh, iya, Darma," ucap Ara canggung sebab sejak kecil dia sudah dibiasakan untuk memanggil orang yang lebih tua dengan tidak menyebut namanya langsung.
Darma terkekeh mendengarnya. "Aneh banget kamu nyebut namaku. Kalau masih sungkan panggil 'heh' aja," katanya masih dengan tawa di wajahnya.
"Hah?!" Ara tak mampu menyembunyikan keterkejutannya.
"Udah, lupain aja." Laki-laki itu mengedikkan bahu tak acuh. "Kamu lagi cari buku apa?" tanyanya dengan cepat mengalihkan pembicaraan.
"Ouh, ini ... aku udah dapet bukunya, kok, tinggal bayar aja."
"Sama, dong. Aku juga mau bayar. Sekalian aku bayarin sini."
__ADS_1
"Eehhhh, nggak usah." Ara kaget bukan main saat Darma tiba-tiba merebut buku di tangannya. "Aku bayar sendiri, please."
"Nggak usah pake nggak enak segala. Yang kemaren itu belum genap enam ratus ribu, kok. Jadi, mau aku lunasin dengan cara bayar buku ini." Darma dengan isengnya mengangkat buku Ara tinggi-tinggi agar gadis itu tidak bisa meraihnya.
Ara mendengkus kesal. Wajahnya sudah merah dengan bibir manyun karena kekesalannya pada laki-laki yang kini tersenyum senang. "Bisa nggak, sih, nggak usah ngomongin enam ratus ribu lagi?!"
"Lhoh, yang pertama bilang 'kan kamu." Darma mencari pembenaran.
"Ya, tapi 'kan aku udah bilang kalau aku sudah mengikhlaskannya."
"Iya, iya. Aku cuma mau membalas kebaikan kamu, kok. Udah, ya, kamu tunggu di depan aku mau bayar bukunya," kata Darma, lalu berjalan ke kasir.
Ara menghela napas panjang, kemudian melangkah gontai hingga akhirnya ia berdiri tidak jauh dari pintu keluar menunggu Darma menyelesaikan pembayaran buku.
Gadis itu dengan cepat meraih tote bag berisi buku miliknya yang diberikan Darma. "By the way, makasih, ya," ucap Ara tulus.
Darma hanya mengangguk. "Kamu mau ke mana lagi?" tanyanya saat dia dan Ara berjalan beriringan keluar dari toko buku.
"Pulang."
"Pulang? Makan dulu, yuk," ajak Darma yang memang merasakan perutnya keroncongan.
Sejujurnya, Ara hanya ingin menghindari Darma karena entah mengapa dia selalu saja mati kutu saat bersama laki-laki itu. Seperti sekarang, di saat mulutnya bilang tidak, tapi bagian tubuhnya yang lain justru seakan memberitahu Darma kalau dia tengah berbohong.
Kruyuk kruyuk
Ara memejamkan mata. Merutuk dalam hati, memarahi perutnya sendiri. Sedangkan di sebelahnya, Darma sudah tidak bisa untuk tidak tertawa.
"Kayak gitu bilang nggak laper. Udah, ayok, makan!" Darma tanpa permisi sudah menarik tangan Ara memasuki sebuah restoran Jepang.
"Kamu doyan sushi, 'kan?"
Ara mengangguk. Meskipun bukan orang berada, Ara bersyukur karena lidahnya tidak kampungan. Lidah dan perutnya cocok dengan makanan dari berbagai negara seperti Thailand, Jepang, Korea, hingga makanan Barat sebab satu-satunya yang tidak cocok hanyalah isi dompetnya.
Setelah memesan beberapa makanan, Darma bangkit berdiri dan berkata, "Aku ke toilet bentar, ya?"
Kembali Ara hanya mengangguk. Saat Darma sudah enyah dari hadapannya, ia membuka tas. Mengecek ponselnya siapa tahu ada pesan dari Elang. Ara mengembuskan napas sebal melihat tidak adanya notifikasi apapun. Wajahnya yang tadi cemberut kini mendadak berubah seratus delapan puluh derajat kala melihat siapa laki-laki yang sudah berdiri di hadapannya.
"Mas Elang ...."
__ADS_1
"Ra, kamu ngapain di sini?" Elang menatap heran sebab restoran tempat Ara berada sekarang terbilang cukup mahal untuk ukuran gadis itu.
Ara tampak kebingungan dan itu semakin membuat Elang curiga. Terlebih saat Elang melihat sebuah tas yang ia yakini milik seorang laki-laki berada di meja tempat Ara duduk. "Kamu sama cowok?"
"Mas, ini nggak kayak yang kamu pikirin!" Nada bicara Ara sedikit meninggi.
Elang terkekeh melihat reaksi kekasihnya. "Aku cuma nggak bisa nganterin kamu ke toko buku, tapi kamu udah ada main di belakang aku."
"Mas, aku emang ke toko buku sendirian. Kamu lihat ini." Ara menunjukkan tote bag berisi buku miliknya.
"Terus kamu ngapain di sini?" tanya Elang mengintimidasi.
"Aku ... tadi aku nggak sengaja ...."
"Sorry, bisa minggir nggak? Saya mau duduk."
Suara dari arah belakangnya membuat Elang menolehkan kepala. "Pak Darma." Ia terperangah melihat atasannya yang beberapa bulan sudah beralih tugas menjadi direktur pemasaran.
"Kamu," ucap Darma datar. Tentu dia tahu Elang karena saat menjadi bawahannya beberapa kali mereka rapat bersama.
"Ra, kamu kenal Pak Darma?" tanya Elang sudah melunak.
"Iya, saya kenal Ara." Darma yang menjawab. "Ara pernah menolong saya beberapa hari yang lalu. Karena itu, sebagai balasannya saya mau nraktir dia makan di sini. Kamu siapanya Ara?"
Belum sempat Elang menjawab, sebuah suara mengambil alih perhatian ketiganya.
"Lhoh, Lang, kok, kamu masih berdiri di sini?" tanya Ajeng.
Seperti maling yang tertangkap basah, Elang kini hanya menunduk tanpa tahu harus mengucapkan apa.
Sementara Ara, dengan lantangnya gadis itu berkata, "Aku baru tau, Mas, kalo ibu kamu sekarang udah ganti."
.
.
.
Bonus visual Author, eh Ara
__ADS_1