
Eiyyy kalian silent reader tolong, ya, ini cerita yang like udah dikit. Jadi, mbok, ya, tunjukkan jempolmu gitu lhohhhh ....
Kritik dan saran juga boleh. Tapi, kalimatnya jangan pedes, takut asam lambungku naik
.
.
.
"Mamiiii!" teriak Ashila seraya berlari menghampiri ibunya. Walaupun napasnya terengah-engah, senyum manis di bibir mungilnya tak sedetikpun lepas.
"Pelan-pelan, Nak. Nanti jatuh." Ara menasihati, lalu mengusap lembut kepala putrinya.
Tampaknya Ashila tidak menghiraukan. Gadis kecil dalam balutan seragam batik itu justru menunjukkan tas kecil bergambar kartun "Frozen" lengkap dengan nama pemberi yang hari ini berulang tahun. "Mami, lihat! Ini dali Jesslyn."
Ara mengangguk kecil dibarengi senyuman. Tentang Jesslyn dan ibunya, beberapa hari yang lalu Ara sudah berbicara dengan ibu dan anak itu. Jesslyn dan ibunya sekali lagi meminta maaf, dan kini mereka justru menjadi akrab.
"Mami, Shila juga mau ulang tahun," pinta Ashila saat mobil perlahan melaju meninggalkan area sekolah.
"Sebentar lagi 'kan Shila memang ulang tahun." Ara memberitahu.
Seketika mata Ashila berbinar-binar. "Benelan?"
"Iya, Sayang. Nanti Shila tema ulang tahunnya mau apa?"
"Tema itu apa? Shila nggak tahu." Wajah anak itu merengut tak mengerti.
Merasa gemas, sejenak Ara memainkan kedua pipi bakpao putrinya. "Tema itu ... kayak Jesslyn pilihnya Princess Elsa dan Anna. Nah, kalau Ashila pengennya apa?"
"Ooo ... kalau gitu Shila mau Sammy the Sheep. Depannya sama-sama S 'kan, Mami?" ujar Ashila lantang.
Ara manggut-manggut dengan raut heran memandangi wajah putrinya. Kenapa di antara banyaknya kartun, Ashila memilih itu? Ya, Ara akui jika kartun domba itu lucu. Tapi, untuk dijadikan tema ulang tahun apalagi anaknya perempuan rasa-rasanya kurang pas.
"Ashila—"
"Iya, Mami?" Anak yang sedang sibuk dengan hampers ulang tahun itu memotong dengan wajah kalem.
__ADS_1
"Nanti Mami kasih lihat contoh hiasan ulang tahun, ya, biar Shila pilih. Siapa tahu Shila pengen tema yang lain."
"Iya, Mami." Ashila menurut.
Ara mengembuskan napas lega. Dia yakin pilihan putrinya pasti akan berubah. Ya, pasti! Tak berselang lama, mobil yang dinaiki berhenti di halaman rumah. Sebuah notifikasi pesan masuk ke ponsel bersamaan dengan Ara yang baru saja turun dari mobil.
[Hari ini aku pulang cepet. Kalau nggak cape, pengen, deh, makan masakan kamu]
Lengkungan indah seketika tercipta di bibir merahnya. Ara lantas membalas pesan dari suaminya melalui pesan suara. "Iya, Sayang," katanya disusul cengiran yang tentu saja tidak Darma ketahui.
Usai menyelesaikan makan siang bersama putri semata wayangnya, Ara terpaksa harus menunda kegiatan bersama Ashila untuk melihat-lihat dekorasi ulang tahun melalui Instagram lantaran harus mencari resep masakan yang sekiranya ia bisa dan suaminya suka.
Namun, setelah hampir satu jam ia mengubek-ubek aplikasi yang menampilkan berbagai macam olahan, rasa-rasanya Ara tidak sanggup atau tepatnya tidak mau mengambil risiko jika nanti masakannya tidak enak. Karena itu, akhirnya ia memutuskan untuk memasak menu rumahan seperti sebelum-sebelumnya.
Jam dinding di dapur menunjuk pukul empat kurang seperempat saat Ara menaruh ayam goreng mentega yang menjadi masakan terakhirnya. Setelah mencuci tangan dan meminta Bi Marni untuk membersihkan dapur, wanita itu menghampiri putrinya yang sedang bermain di halaman belakang.
"Ashila mandi dulu, Nak." Ara memberi kode agar putrinya mendekat menggunakan tangan.
Dengan pelipis bercucuran keringat, Ashila berjalan menghampiri ibunya. "Mami, huahhh ... tadi Shila mau tangkap kupu-kupu, tapi nggak bisa. Mbak Sus juga nggak bisa, lhoh, Mami. Padahal Mbak Sus 'kan udah besal."
"Kupu-kupu 'kan terbangnya gesit. Jadi, wajar kalau nggak bisa. Besok dicoba lagi, ya. Sekarang Shila mandi dulu."
"Iy—" Kalimat Ara terpotong melihat Darma sudah sampai rumah. "Aku nggak denger mobil kamu, Mas," katanya.
Darma tak menanggapi. Laki-laki itu justru mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya. Mengendusnya sebentar, lalu berujar, "Bau asem."
Ara merengut kesal. "Emang! Ini aku mau mandi sama Shila!"
"Sama aku aja!" kata Darma nakal. Untung saja Mbak Sus sudah ke kamar Ashila untuk menyiapkan air.
"Males! Kamu bau rokok!" balas Ara sengit.
Giliran Darma yang cemberut. "Ya, udah. Aku mandi dulu. Shila, Papi mandi dulu, ya?"
"Iyaaa ... Papi bau!" kata Ashila yang baru saja dibisiki ibunya.
"Shila juga bau. Bau asem. Nih, bau! Bau!" Darma sudah berjongkok dan tengah menciumi ketiak anaknya. Menyerukan hidungnya hingga menimbulkan geli yang membuat Ashila memekik kencang.
__ADS_1
Tiga puluh menit berlalu, keluarga kecil itu sekarang sudah duduk di meja makan yang dipenuhi beberapa macam masakan.
"Masak banyak banget, Babe!" ujar Darma melihat ada ayam goreng mentega, kerang rebus, tumis brokoli, perkedel, dan sambal.
"Buat kamu. Habisin, lhoh, ya!"
"Nanti aku gendut, kamu nggak suka."
"Bilang aja nggak enak, makanya nggak mau habisin!" sungut Ara kesal.
"Nggak gitu, Babe. Astaga!" Darma terkekeh. "Ini 'kan banyak banget. Perutku juga nggak muat."
"Iya, iya."
Setelahnya, makan malam yang cukup awal itu dimulai dengan Darma yang sesekali berkomentar layaknya juri masak dan Ashila yang banyak mau.
Begitu selesai, keluarga kecil itu kini duduk santai di depan TV ditemani berbagai macam makanan ringan.
"Oh, iya. Shila sini mau lihat tema ulang tahunnya, nggak?" ujar sang ibu agar putrinya yang tidak bisa diam sedikit lebih anteng.
"Mau!" Ashila mendaratkan bokongnya di pangkuan ayahnya.
Ara mengetikkan nama akun Instagram sebuah event organizer yang direkomendasikan oleh Imelda melalui pesan WhatsApp sebelum ia memasak siang tadi. Untuk urusan berbagai acara, rekomendasi Imelda memang tak pernah meleset. Semuanya bagus, dan Ara puas.
"Cepet banget, sih. Ulang tahunnya 'kan masih agak lama." Darma bersuara.
"Nggak apa-apa, lah, Mas. Tadi itu Jesslyn ulang tahun, makanya Shila pengen juga."
Darma manggut-manggut. "Ra, bikinin teh, dong. Tadi pagi 'kan nggak jadi."
Ara melirik sinis, lalu memaksakan senyum. "Iyaaaa .... Shila lihat-lihat sendiri dulu, ya." Sang ibu menyerahkan ponselnya kepada putrinya.
Selepas kepergian istrinya, Darma yang bosan melihat putrinya hanya menggulir layar ponsel tanpa memperhatikan lebih dulu memilih untuk mengganti saluran TV yang menarik minatnya.
"Papi, ini gimana? Kepencet," celetuk Ashila kebingungan. Terlalu bersemangat membuat gerakan jarinya tidak terkendali.
Darma mengalihkan tatapan dari TV ke ponsel Ara. Mengambil benda pipih itu, ia yang hendak menggeser layar justru dibuat terpaku pada sebuah direct message yang terpampang di layar. Kening Darma berkerut dalam. Dadanya bergemuruh hebat usai membaca beberapa bubble chat terakhir.
__ADS_1
"Hapenya error. Shila pakai iPad aja, ya, minta ambilin Mbak Sus. Papi mau ke Mami dulu." Darma segera beranjak setelah menyuruh pengasuh anaknya untuk mengambilkan iPad di kamar, lalu menemani Ashila di depan TV.