Will Never Let You Go

Will Never Let You Go
Sop Buntut


__ADS_3

Setelah seharian kemarin menghabiskan waktunya di bawah selimut karena lagi-lagi hujan mengguyur seantero kota, pagi ini Darma sudah tampil rapi dengan kemeja warna biru langit, siap berangkat ke kantor.


Ia mengendarai mobilnya seorang diri sebab Cahyo sudah diklaim oleh Silvia untuk mengantar ke mana pun gadis itu pergi guna melakukan survei demi menyelesaikan skripsinya yang sudah mangkrak selama enam bulan.


"Apa jadwal hari ini, Fan?" Darma bertanya kepada sekretarisnya.


Fanny dengan cepat mengangsurkan tablet kepada atasannya sambil tetap menjelaskan satu per satu, sementara Darma membacanya dengan sebelah alisnya yang sesekali terangkat.


"Bahan untuk rapatnya udah siap?"


"Sudah, Pak. Semua sudah beres."


Darma mengangguk. Selang sepuluh menit, dia bersama Fanny menuju ruang rapat yang terletak satu lantai di atas ruangannya. Begitu keluar dari lift, langkah laki-laki tersebut terpaksa berhenti karena seseorang memanggilnya. Darma memutar badan sembilan puluh derajat, menatap laki-laki yang tidak lain adalah Elang.


"Maaf sebelumnya, beberapa hari yang lalu Bapak menelepon saya, ada perlu apa, ya, Pak?" tanya Elang dengan keberanian yang boleh diacungi jempol.


Kening Darma sedikit mengernyit, mencoba mengingat. "Oh, itu ... Ara jatuh dari motor. Saya telepon kamu biar nggak ada salah paham kayak waktu itu, tapi Ara bilang kalian sudah putus. Jadi, seharusnya saya nggak perlu melakukan itu."


Jadi tangan Ara yang diperban itu gara-gara jatuh dari motor?


Elang jadi mengingat kejadian saat malam tahun baru, saat ia datang ke rumah Ara dan berniat mengajak gadis itu pergi. Namun ternyata, yang mau diajak sudah tertawa bersama laki-laki lain.


"Y-ya sudah, Pak. Maaf saya sudah lancang mengajak Bapak berbicara di sini."


"Santai aja."


Detik berikutnya, Darma sudah melenggang pergi meninggalkan Elang yang hatinya seketika mencelos. "Ara ...." Ia menggumam dengan senyum kecut di bibirnya. Hatinya berdenyut nyeri mengingat bagaimana gadis itu bisa tertawa lepas bersama laki-laki yang baru saja menghilang dari pandangannya.


Jika dibandingkan Darma, Elang memang bukan tandingannya. Itu dari segi materi. Namun, ini masalah hati. Selagi janur kuning belum melengkung bukankah masih ada kesempatan baginya? Terlebih dia yakin jika mantan kekasih dan atasannya itu belum melangkah terlalu jauh. Dia masih bisa mendekati Ara, merebut kembali hati gadis itu sebab ia yakin kalau Ara pasti masih memiliki perasaan yang sama dengannya.


.................


Sekembalinya dari ruang rapat, Darma langsung mengempaskan tubuhnya di sofa dan mengendurkan dasinya yang serasa mencekik leher. Rapat tadi berjalan sangat alot. Biasalah jika sudah menyangkut strategi pemasaran untuk produk baru yang akan segera diluncurkan memang banyak yang merasa paling pintar.


Merogoh saku celananya, Darma yang berniat mencari hiburan justru dikejutkan dengan pesan masuk di WhatsApp-nya.

__ADS_1


Rentenir Kecil


10.45


Aku udah siap, jadi 'kan ke bengkelnya?


11.02


Udah jam 11, mana kok belum keliatan?



08



Sibuk, ya? Aku berangkat sendiri aja nggak pa-pa. Sini kasih alamatnya


11.11


Hmm ....


Mas???


Darma sempat tersenyum membaca pesan terakhir Ara sebelum akhirnya ia kelabakan melihat jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas lebih. Segera ia menekan ikon telepon di pojok kanan atas, menghubungi Ara.


"Halo. Kamu masih di rumah?" katanya begitu panggilannya tersambung.


"Masih, jadi?" Suara Ara terdengar lemas di seberang sana. Yeah, menunggu memang melelahkan.


"Jadi, jadi. Tunggu, ya, aku otw. Bye."


Dengan wajah ditekuk Ara membuka pintu mobil Darma. Embusan napas kasar terdengar mengiringi tatkala gadis itu mendaratkan bokongnya.


Darma hanya melirik sekilas, lalu kembali menatap ke arah depan dan berdehem. "Ehm ... marah, nih?"

__ADS_1


"Nggak."


"Mau makan dulu?"


"Nggak."


"Jalan-jalan bentar?"


Ara menoleh, menatap Darma dengan tatapan ingin memakan laki-laki itu hidup-hidup.


Yang ditatap hanya meringis. "Temenin aku makan, deh, ya? Laper banget tadi abis rapat makanya telat. Sekali lagi maaf, ya."


Ara mengangguk. "Maaf juga. Dari semalem bawaannya badmood."


"Terus tambah badmood gara-gara aku?"


"Dikit. Nggak pa-pa, kok, biasa cewek. Tau sendirilah. Mau makan apa?"


Darma manggut-manggut. Dia juga sering mendapati Silvia seperti ini. Tidak jelas! Sedikit-sedikit keinginannya berubah seperti orang sedang ngidam. "Sop buntut mau? Lagi pengen itu, sih."


"Boleh."


Jawaban Ara mengantarkan mereka memasuki sebuah restoran yang sudah ramai pengunjung. Maklum saja, restoran itu memang sudah lama berdiri dan terkenal enak. Hanya tersisa satu meja dengan dua kursi berjejer, sedangkan dua kursi yang lainnya entah ke mana. Mungkin diambil pengunjung yang datang beramai-ramai.


"Silau," ujar Ara saat ia menggeser kursinya agar tidak duduk bersebelahan dengan Darma.


"Ya, udah, si. Geser lagi. Gak mau emang duduk sebelahan sama aku?"


"Mau, deh. Kalo jawab enggak nanti nggak dibayarin lagi. Hehe ...." Ara tersenyum jahil, lalu menggeser kursinya ke tempat semula.


"Dasar! Kalau ada maunya aja!"


Selang sepuluh menit setelah Darma menyebutkan pesanannya, makanan pun datang. Aroma dari sop buntut yang masih mengepul seketika membuat perut semakin keroncongan.


Ara sudah menyendokan kuah sopnya, meniupnya sebentar, kemudian memasukkannya ke mulut. Namun, sebelum lidahnya sempat merasakan gurihnya sop buntut itu, lengan laki-laki yang duduk di sebelahnya lebih dulu menyenggolnya.

__ADS_1


Dugh! Pranggg!


Sendok itu jatuh ke piring berisi nasi putih yang belum disentuh. Ara mengibaskan tangannya yang terasa panas karena kecipratan kuah tadi, lalu menoleh menatap Darma dengan mata menyipit.


__ADS_2