
Sejak hari masih pagi, rumah Darma sudah ramai oleh orang tua, mertua, saudara, dan iparnya. Ashila yang hari ini berulang tahun sungguh mencuri banyak perhatian dari kakek, nenek, serta om dan tantenya. Maklum saja, gadis kecil itu masih menjadi satu-satunya cucu baik di keluarga Darma maupun Ara. Sayangnya, kehangatan yang terasa tak menjadikan hubungan tuan rumah dengan sang nyonya kembali seperti sedia kala.
Ara masih saja menampilkan raut datar dan hanya berbicara ketika dirasa perlu. Seperti saat ini, saat ia memberikan kemeja berwarna carnation pink bergaris putih kepada Darma. "Kemejamu, Mas," ucapnya dengan senyum yang dipaksakan.
"Makasih," jawab Darma menambah kesan bahwa mereka memang sedang tidak baik-baik saja. Sejak menikah, bisa dihitung berapa kali kata sakral itu terucap karena biasanya Darma akan langsung mencium atau memeluk istrinya sebagai tanda terima kasih.
Ara segera berlalu dan menyibukkan diri di depan kaca daripada berlama-lama berhadapan dengan suaminya. Wajah murung Darma, tatapan sendu lelaki itu membekas dalam ingatannya. Ara sadar bahwa dia tidak bisa membenci Darma, tapi untuk kembali dekat, ada sebagian hatinya yang masih belum bisa melakukan itu.
"Ara ...."
Terdengar suara dari luar kamar memanggil. Darma yang sudah selesai beranjak membukakan pintu. "Ada apa, Ma?" tanya lelaki itu kepada ibunya.
"Udah siap belum? Ayo, cepat turun sudah ada tamu yang datang."
"Udah." Ara yang menjawab.
Darma mengulas senyum tipis dan mengulurkan tangannya dengan maksud menggandeng Ara. Wanita itu menyambutnya dengan senyum samar. Yang mana membuat Darma lega, setidaknya inilah kesempatan baginya untuk menunjukkan perhatian, cinta, dan sikap manisnya agar Ara kembali dalam pelukannya secara utuh.
Pesta ulang tahun bertemakan Princess Aurora itu memang tidak dihadiri banyak orang. Darma dan Ara hanya mengundang orang terdekat seperti Aldo dan keluarganya serta Keyla yang juga bersama keluarga kecilnya. Selain mereka, semua yang hadir adalah saudara sepupu yang memiliki anak kecil.
Tepat pukul sepuluh, acara itu dimulai. Lagu "Happy Birthday" terdengar nyaring memenuhi ruangan. Sesi foto segera dilakukan setelah Ashila yang berada dalam gendongan ayahnya meniup lilin angka empat yang terdapat diatas kue.
Ara sempat tertegun ketika Darma berpose mencium keningnya. Dan begitu potret mereka diambil, ia memandang ke atas, menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca.
"Foto sama Bapak dan Ibu," kata Darma dengan mata yang juga memerah. Segaris senyum dipaksakan agar orang-orang tidak tahu dengan apa yang keduanya rasakan di hari yang seharusnya berbahagia ini.
Ara mengangguk pelan. Satu per satu keluarga yang hadir bergantian untuk berfoto bersama dengan sang pemilik acara.
"Mami, mau buka kado!" seru Ashila begitu acara inti selesai. Gadis kecil itu seperti kelaparan melihat bungkusan-bungkusan besar memenuhi ruang tamu rumahnya.
"Nanti, Sayang. Kita makan dulu. Lihat! Ishana, Kalan, sama yang lain juga makan." Ara menunjuk anak-anak lain yang sedang menikmati hidangan sambil bermain-main dengan balon yang menjadi dekorasi ulang tahun.
"Shila mau cokat!"
Darma dan Ara mengangguk. "Karena hari ini Ashila ulang tahun, Ashila bebas makan apa aja," kata sang ayah.
"Yeayyy!" Anak itu melompat kegirangan. Ashila segera berlari menuju meja yang terdapat cokelat, es krim, dan aneka permen.
Orang tua dari bocah itu tersenyum melihat putri mereka yang sudah bertambah besar. "Kamu mau makan apa?" tanya Darma membuat Ara menoleh.
"Harusnya aku yang tanya begitu. Kamu mau makan apa, Mas?" tanya Ara. Senyumannya kali ini terlihat lebih tulus.
__ADS_1
"Mau makan nasi, lauknya terserah. Aku belum makan dari pagi."
"Aku ambilin." Ara melangkahkan kakinya menuju meja prasmanan. Ada Keyla dan Imelda yang sama-sama sedang mengambilkan makanan untuk anak masing-masing di sana.
"Makan yang banyak biar gemes kayak aku," kata Imelda. Meski ia tahu bahwa Ara baru saja kehilangan calon anaknya, tapi tidak ada niatan baginya untuk membahas hal itu di acara ini. Dia tahu tempat dan kondisi.
"Aku udah gemesin, kok," balas Ara dengan nada bercanda. "Key, cicipin semuanya. Kamu pasti bosen 'kan makan masakan suamimu," lanjutnya pada Keyla.
"Nggaklah, soalnya masaknya pakai cinta." Keyla terkekeh. "Dalam waktu dekat, Mas Haris mau buka buka cabang pertama restorannya. Nanti kamu datang, ya?"
Wajah Ara turut berbahagia mendengar kabar baik dari sahabatnya. "Pasti, aku pasti dateng."
"Restoran apa, Ra? Mau cobain, dong." Imelda yang ikut mendengarkan jadi penasaran.
"Restoran Bambu Sewu, Mel. Udah pernah makan di sana?"
"Itu? Sering lewat, tapi belum pernah mampir. Nanti aku coba, deh. Sering ada urusan ke daerah itu juga." Tatapan Imelda beralih kepada Keyla.
"Ditunggu kedatangannya," ucap Keyla tersenyum.
"Duluan, yah, mau makan," kata Ara yang kedua tangannya diisi piring berisi nasi dan lauk pauk.
"Iya, nyonya rumah harus makan yang banyak. Kan nggak lucu kalau pingsan," canda Imelda.
"Nggak apa-apa. Aku juga lagi suapin Ashila es krim." Darma menunjukkan cup es krim yang ada di kursi sebelahnya. Matanya kembali tertuju pada Ashila yang terus berlarian ke sana kemari, sedangkan Ara menikmati makanannya dalam diam.
Acara ulang tahun yang tadinya berakhir siang hari itu berubah menjadi sore hari lantaran Aldo tiba-tiba mencetuskan ide permainan yang disambut antusias oleh anak-anak.
Ashila tampak kelelahan begitu semua tamu sudah pulang dan hanya menyisakan orang tua Darma. Terbukti, usai mandi sore yang terbilang telat, gadis kecil itu langsung terlelap di kamarnya.
Selly masih berada dibawah ditemani suaminya mengatur ini dan itu, sementara Darma dan Ara berada di kamarnya.
"Kalau capek, tidur aja. Shila juga udah tidur."
"Aku mau temuin Mama dulu." Ara langsung beranjak, tanpa menunggu jawaban Darma.
Lelaki itu mengembuskan napas panjang begitu punggung istrinya menghilang di balik pintu. Ara masih menjaga jarak dengannya. Wanita itu hanya terlihat hangat jika ada orang lain di antara mereka. Daa tersenyum miris memandang foto pernikahannya yang terpampang di kamar itu.
"Dar, Mama pulang, ya," ucap Selly melihat putranya yang ditunggu-tunggu turun.
"Iya, hati-hati, Ma." Darma memeluk sejenak ibunya, lalu mengantarnya sampai di teras dengan Ara di belakangnya.
__ADS_1
Ketika mobil mertuanya sudah pergi, Ara langsung menuju ke kamar setelah tadi berbicara beberapa hal dengan Bi Marni.
Darma segera menyusul dan merebahkan tubuhnya di samping istrinya yang lebih dulu berbaring di ranjang. Kamar luas yang biasanya diisi obrolan, candaan, dan omelan kini terasa sepi. Darma tahu kalau Ara yang sudah memejamkan mata hanyalah pura-pura demi menghindarinya.
"What should I do, Ra?" tanya Darma sengaja agar Ara mendengar. Namun sayangnya, wanita itu tetap teguh dengan kepura-puraannya.
Darma yang putus asa memilih keluar dari kamar. Lelaki itu berencana ke dapur untuk membuat kopi sebagai teman merokok. Mendapati ibunya ada di sana, kening lelaki itu berkerut samar.
"Kok, Mama ada di sini?"
"Hape Mama ketinggalan. Kamu mau ngapain?"
"Bikin kopi."
"Mama bikinin mau?"
Darma mengangguk. Ia lantas duduk di kursi mini bar dan menunggu ibunya selesai membuatkan kopi.
"Kamu kenapa, Dar?" tanya sang ibu sambil menaruh cangkir berisi minuman hitam pekat di hadapannya putranya.
"Nggak apa-apa." Darma tersenyum guna menutupi kesedihannya. Sebagai anak sulung, tidak seharusnya ia merepotkan ibunya terlalu banyak. Terlebih sebentar lagi Silvia akan lamaran, pasti banyak yang harus diurus.
"Ara?" tebak Selly. Ia mengusap bahu anaknya beberapa kali.
Darma terkekeh sekaligus tidak mengerti mengapa seorang ibu begitu hebat menebak isi pikiran anaknya.
"Kamu harus berbicara sama dia."
"Gimana mau bicara, Ma? Ara aja selalu menghindar atau kalau enggak jadiin Ashila sebagai alasan."
"Dipaksa."
"Yang ada aku tambah didiemin. Aku bingung harus gimana. Kalau ada orang lain dia kelihatan baik-baik aja. Tapi, pas lagi berdua kerasa banget bedanya."
"Ajak Ara pergi besok," cetus sang ibu dengan senyum merekah di bibirnya.
"Maksud Mama?"
"Mama bakal nginep di sini satu malam lagi dan ngurusin semua keperluan Ashila. Kamu ajak Ara pergi, terserah mau ke mana."
Darma mengangguk. Ia tersenyum sumringah mendengar ide dari ibunya.
__ADS_1
"Sekarang cepet habisin kopi kamu dan tidur. Jangan sampai besok pagi Ara bangun duluan."
"Aku matiin alarm di hape Ara biar dia kesiangan. Aku ke atas dulu," ucap Darma turun dari kursi dan membawa kopinya ke kamar.