Will Never Let You Go

Will Never Let You Go
Rencana yang Pernah Tertunda


__ADS_3

Keributan di pagi hari adalah hal yang biasa di rumah Pak Narto. Apalagi jika sang nyonya rumah bangun kesiangan. Sembari mengaduk bihun goreng agar merata dengan bumbu, telur, dan sosis, wanita berdaster itu mengomeli anak perempuannya yang tidak sengaja memecahkan gelas. Belum lagi anak laki-lakinya yang sejak tadi mondar-mandir mencari dasi sekolah yang entah di mana keberadaannya. Membuat tekanan darahnya sukses naik. Untung saja suami tercintanya tidak ikut-ikutan sebab Pak Narto kini sedang bersiul santai sambil memberi makan ayam-ayam kesayangannya.


"Udah mateng, nih. Ayo, makan," seru Bu Ata agar keluarganya mendengar.


Ara segera membilas tangannya yang masih terdapat busa. Pun dengan Pak Narto yang juga langsung menaruh pakan ayam, lalu mencuci tangannya untuk segera bergabung dengan yang lain.


"Mana Gusti?" tanya pria itu belum mendapati anak bungsunya duduk di meja makan. Biasanya Gusti yang paling gercep soal makanan.


"Gus, udah ketemu belum dasinya?" Bu Ata yang baru mendaratkan bokongnya terpaksa kembali beranjak guna membantu putranya.


"Beluuuum," jawab Gusti setengah berteriak.


"Makanya cari pake mata jangan pake mulut." Bu Ata mengucapkan kalimat template ibu-ibu se-Indonesia Raya.


Tidak butuh waktu lama, jika sang ibu sudah turun tangan. Hanya dalam hitungan detik sesuatu yang sejak tadi dicari pasti dengan mudah dapat ditemukan.


"Ini apa? Orang dasi diem di sini masa nggak keliatan." Wanita berusia 47 tahun itu menunjuk gantungan baju di kamar anaknya.


Seraya menyimpulkan dasinya, Gusti yang kini berjalan di belakang ibunya hanya bisa menggerutu.

__ADS_1


Ara menyambut adiknya yang baru mendudukkan diri di sampingnya dengan senyuman mengembang. "Cup cup cup, dimarahin, ya," katanya meledek.


"Berisik, ah. Sendirinya juga dimarahin pake ngeledek segala."


"Sudah stop. Kita sarapan dulu." Kali ini tumben sekali Pak Narto yang menengahi.


Menit berikutnya, mereka pun sudah sibuk menyantap sarapan berupa bihun goreng terlezat yang pernah mereka makan. Ya, hanya bihun, tidak pakai nasi sebab nasinya belum matang.


Gusti selalu menjadi yang pertama menghabiskan sarapannya. Setelahnya remaja itu sudah berpamitan untuk berangkat sekolah. Sementara Ara yang juga sudah selesai dan hendak beranjak untuk siap-siap bekerja justru dicegah oleh sang ayah.


"Duduk dulu, Ra. Bapak mau ngomong."


"Ngomong apa, Pak?"


"Kamu gimana belajarnya?"


"Belajar?" Kening Ara mengernyit.


"Belajar buat masuk perguruan tinggi."

__ADS_1


Alih-alih menjawab, Ara justru balas bertanya, "Emang kenapa, Pak?"


"Bapak dan Ibu sudah sepakat kalau tahun depan kamu mesti daftar kuliah."


"Hah?!" Keterkejutan tak dapat disembunyikan dari wajah Ara. Selama dua tahun lebih ia bekerja, sebagian uangnya memang ditabung untuk biaya kuliahnya kelak.


Ara lantas memasang wajah curiga, lebih ke arah takut sebenarnya. Jangan-jangan ayahnya sudah tahu tentang bagaimana sikap Bu Rini kepadanya. Ara memang tidak pernah cerita karena dia tidak mau menambah beban pikiran orang tuanya. Di sisi lain, Ara merasa mampu untuk menghadapi ibu dari kekasihnya itu. Sebab dia sudah bertekad tidak akan tinggal diam jika wanita itu kembali menghinanya.


"Ke-kenapa Bapak mendadak banget bilangnya?"


"Sejak awal tahun Bapak sama Ibu memang sudah memutuskan ini. Jadi, tidak ada yang mendadak. Kamu mau, ya?" Pak Narto menyunggingkan senyum ke arah istri dan anaknya bergantian.


"Jangan bilang nggak mau, Nduk. Kamu tahu 'kan kalau dari awal kamu lulus SMA, Bapak sama Ibu kepengennya kamu langsung kuliah. Tapi, ya, kamu tahu dulu. Gara-gara musibah itu, kita jadi harus menunda apa yang sudah kita rencanakan," ucap Bu Ata.


Ara tidak tahu harus bilang apa. Ia hanya mengangguk dengan air mata yang membayang di pelupuk matanya. "Iya, Ara mau. Makasih, ya, Pak, Bu." Sebuah senyuman terukir di bibir ranumnya.


Walaupun begitu, otak gadis itu sudah berkelana jauh. Jika orang tuanya sudah berkehendak demikian, maka mulai sekarang Ara harus giat belajar mengingat ini juga sudah hampir tiba di penghujung tahun. Dia harus mengurangi jam bermainnya bersama Keyla. Selain itu, jika dia benar-benar kuliah, dia juga harus mencari pekerjaan baru yang bisa dilakukan secara part time.


Semangat Ara!!!

__ADS_1


__ADS_2