
Sore harinya, hanya dengan mengenakan kaus putih polos dengan kemeja flanel oversize sebagai luarannya serta celana jeans biru muda yang membungkus kakinya, Ara sudah siap untuk pergi menonton. Sembari menenteng helm, gadis itu berjalan menuju teras depan rumahnya menunggu Keyla.
Tak berselang lama, Keyla yang datang dengan mengendarai motornya pun tiba di rumah Ara. Karena Pak Narto sudah mentraktirnya menonton, maka sebagai balasannya gadis itu menawarkan diri untuk membonceng Ara. Biar hemat sekaligus mengurangi polusi udara, begitu katanya saat chatting bersama Ara siang tadi.
Usai berpamitan dengan Pak Narto dan Bu Ata yang sedang memetik buah sirsak di halaman belakang, mereka pun segera bergegas untuk pergi ke tempat di mana anak muda biasa menghilangkan penat.
Lagu selamat ulang tahun dalam versi bahasa Inggris terdengar di salah satu restoran yang terdapat di Solo Paragon Mall. Sebuah lilin dengan angka 78 baru saja ditiup oleh seorang wanita tua yang masih terlihat bugar di usianya yang tak lagi muda. Ya, yang saat ini sedang berulang tahun bukanlah seorang anak kecil, melainkan seorang nenek-nenek yang sudah memiliki banyak cucu dan beberapa cicit.
"*Happy birthday*, Oma. Semoga sehat selalu dan terus berbahagia." Seorang gadis yang mengenakan gaun warna salem terlihat memeluk dan mencium wanita yang tidak lain adalah neneknya.
Satu per satu mereka yang ada di situ secara bergantian juga ikut memeluk dan mendoakan wanita yang paling di hormati di keluarga itu. Beberapa di antaranya juga menjadikan acara tersebut sebagai kesempatan untuk mengenalkan kekasih mereka pada keluarga besarnya.
"Selamat ulang tahun, Oma. Sehat-sehat, ya, Oma." Salah satu anggota keluarga yang tidak lain adalah Darma pun melakukan hal yang sama seperti yang lain.
"Sehat-sehat, Oma, biar nanti bisa liat Mas Darma nikah," celetuk Bima, adik bungsu Darma.
__ADS_1
Mendengar itu, semburat merah muda seketika hadir di pipi gadis yang sore ini tampil memukau dengan gaun warna merahnya.
"Wah, pipinya Imelda merah, tuh," cetus salah satu sepupu Darma. Sejatinya, dia sendiri yang tertarik dengan gadis bernama Imelda itu. Namun sayang seribu sayang, Imelda secara terang-terangan mengatakan kalau dia menyukai Darma kala dirinya mengajak gadis itu makan malam romantis di sebuah *rooftop* hotel bintang lima.
Tanpa mengacuhkannya, Darma melangkahkan kakinya kembali ke kursinya. Kemudian menyantap makanan khas Thailand yang sudah tersaji di meja.
"Dar, kamu jangan cuek gitu, dong, sama Imelda. Kasian 'kan dia." Selly, sang ibu, yang baru saja duduk di sebelah putra sulungnya itu menasihati.
"Mama aja sana yang ngomong sama dia. Mama 'kan yang ngajak Imelda ke sini," ujar Darma masih tak acuh. Ia sedikit kesal lantaran sang ibu tidak mengatakan apapun kepadanya. Tahu-tahu begitu sampai di mall sudah ada Imelda yang menunggunya tidak jauh dari pintu masuk untuk memasuki restoran tempat mereka berada sekarang secara bersama-sama. Apalagi niatnya jika bukan menjodoh-jodohkan.
Usai acara ulang tahun neneknya selesai, Darma yang dapat membaca situasi—tidak mau disuruh mengantar pulang Imelda—segera mendekati sang ibu. "Ma, aku pergi dulu, ya, aku ada janji sama temen di sini sekarang," katanya dengan suara yang dibuat agak keras supaya Imelda yang duduk di samping ibunya juga mendengar. Darma tersenyum samar melihat Imelda kini memalingkan wajah.
"Sekarang banget, nih?"
__ADS_1
"Iya, Ma. Udah, ya, nggak enak ntar dia nunggu lama. Aku juga udah bilang ke Oma, kok, barusan."
"Ya, sudah," jawab Selly pasrah. Dia tahu betul bagaimana watak putranya. Semakin dikerasi justru semakin membangkang.
Dengan wajah sumringah Darma keluar dari restoran tersebut. Mengetahui ibunya pasti akan terus memandanginya hingga dirinya tak lagi terlihat, laki-laki dengan tinggi badan 178cm itu memilih untuk berkeliling terlebih dahulu. Darma yang tertarik dengan judul film yang tidak sengaja ia lihat posternya mengantarnya berdiri di salah satu antrean tempat membeli tiket.
Kening laki-laki itu berkerut melihat gadis yang berdiri tepat di depannya beberapa kali menolehkan kepala ke kanan dan ke kiri. Dia tidak asing dengan wajah itu. Ingatannya yang tajam, terlebih dalam mengingat kebaikan orang membuatnya tidak butuh waktu lama untuk mengingat siapa gadis yang rambutnya dikucir ekor kuda itu. Dia adalah gadis yang memberinya tumpangan beberapa hari yang lalu.
"Sembilan puluh ribu, Kak." Seorang pegawai bioskop menyebutkan harga dua tiket yang dibeli gadis yang tidak lain adalah Ara.
Membuka *sling* *bag-nya*, Ara pun mencari dompetnya. Napasnya memburu kala ia tidak menemukan benda berbentuk persegi berwarna putih miliknya. Wajahnya memucat melihat panjangnya antrean di belakangnya mengingat ini hari Minggu.
"T-tunggu sebentar, Kak," ucap Ara sambil terus mengobok-obok isi tasnya.
Melihat kepanikan gadis di depannya, Darma pun maju selangkah sehingga dirinya kini berdiri sejajar dengan Ara. "Biar saya saja yang bayar, Kak, sekalian tambah satu lagi, ya," katanya.
__ADS_1
Menolehkan kepala ke samping kiri, Ara hanya bisa melongo melihat siapa laki-laki yang menjadi penyelamat dari rasa malunya itu.