
"Dasar wanita penggoda!" Ajeng hampir saja berhasil melayangkan tamparan kedua jika Darma tidak menahan tangannya. Wanita itu menggeram rendah. Matanya menatap nyalang Ara yang menurutnya menampilkan raut innocent.
"Apa Anda tahu kalau istri Anda yang cantik ini pernah bertemu mantan kekasihnya diam-diam?" Ajeng menunjuk-nunjuk wajah Ara menggunakan telunjuknya.
Ara menundukkan kepala. Ah, dia baru sadar sekarang kalau apa yang dilakukannya tidak hanya menyakiti hati satu orang, tetapi dua.
"Ajeng!" Seruan itu datang dari arah lain. Tampak Elang tergopoh-gopoh menghampiri istrinya. "Aku bisa jelasin semuanya."
Ajeng menatap sinis suaminya. "Jelasin apa? Kamu lihat selingkuhan kamu aja nggak—"
"Aku bukan selingkuhan Mas Elang!" teriak Ara tak terima. Hanya dengan mengatakan itu saja tubuhnya gemetar. Belum cukup rupanya hukuman dari Darma. Sekarang ia juga harus mendapat hukuman dari orang lain.
Elang menoleh pada dua orang yang bersama istrinya. Matanya kontan melebar menyadari jika mereka adalah Darma dan Ara.
"Terus apa? Sebutan apa yang pantes buat perempuan kayak kamu!" Kilat kemarahan tampak jelas di mata wanita yang terlihat memesona dengan lipstik merah dan gaun hitamnya itu.
"Ajeng, stop! Tenangin diri kamu." Elang menahan tubuh istrinya yang hendak menyerang Ara lagi.
"Perempuan mana yang bisa tenang kalau tahu suaminya ketemu sama mantan pacarnya, hah?" Gemuruh di dada Ajeng begitu hebat. Dengkusan pelan terdengar melihat Elang menunduk dalam sebelum kemudian menatap Darma yang sedari tadi bungkam dengan perasaan sungkan.
"Saya—"
__ADS_1
"Saya sudah tahu. Kamu mengajak istri saya bertemu diam-diam, 'kan?" Darma melirik istrinya sejenak.
Melihat sikap Darma yang cukup dingin kepada Ara dan raut kesedihan di wajah perempuan di depannya membuat Elang curiga. Apa rumah tangga mantan kekasihnya sedang tidak baik-baik saja karena dirinya? Jika benar, maka Elang akan sangat merasa bersalah.
"Saya minta maaf, Pak. Saya memang pernah bertemu dengan Ara, tapi untuk suatu keperluan. Di luar itu, saya dan dia benar-benar tidak ada hubungan apapun. Saya mohon jangan salahkan Ara. Saya yang salah di sini."
"Kamu tidak usah repot-repot mengajari apa yang harus saya lakukan. Saya mengenal baik istri saya. Cukup kamu ajari istrimu supaya tidak bertindak barbar ke orang lain. Dan untuk kamu!" Darma menekankan kalimat terakhirnya. "Jangan pernah mengusik rumah tangga orang lain karena itu amat sangat menyebalkan!"
Setelahnya, lelaki itu berbalik badan dan masuk ke dalam mobil diikuti oleh Ara. Usai menghidupkan mesin, Darma membunyikan klakson panjang lantaran dua orang yang sangat malas untuk ia lihat belum juga menyingkir.
Elang menarik tangan Ajeng ke titik yang aman. Begitu mobil atasannya tak lag terlihat, ia yang hendak meraih tangan istrinya yang satunya justru mendapat penolakan. Ajeng bahkan mengempaskan tangannya agar terbebas dari genggaman Elang.
"Ajeng, tolong, dengerin aku." Raut wajah Elang memelas
"Aku belain karena Ara emang nggak salah."
Ajeng mengangguk beberapa kali. "Ya, ya .... Aku ngerti, kok. Perempuan kayak aku emang pantes buat diduain, bahkan ditinggalin," katanya pedih. Ajeng mengusap kasar air mata yang seketika menetes.
"Jangan bilang gitu, please ...." Elang memeluk paksa wanita yang masih juga memberontak karena tak ingin disentuh olehnya. "Aku memang pernah mencintai Ara, tapi itu dulu. Sekarang cuma kamu wanita yang aku cintai. Istriku ... ibu dari anak-anakku."
Wanita itu sedikit lebih tenang ketika Elang merenggangkan pelukan mereka, lalu membubuhkan sebuah kecupan dalam di keningnya. Di bawah temaram lampu jalanan, mata mereka beradu pandang dengan sorot yang berbeda.
__ADS_1
"Kenapa harus Ara? Kenapa kamu nggak minta bantuan orang tuaku aja?" Ajeng meminta penjelasan.
Elang memandang ke bawah dengan segaris senyum pedih di bibir pucatnya. "Aku malu. Orang tuamu sudah membantu banyak. Mereka juga yang membayar sekolah Naren. Tapi, ibuku masih saja mencaci kamu. Sebagai laki-laki kadang aku merasa nggak berguna. Aku nggak bisa bahagiain kamu sama Naren. Gara-gara kebodohanku kamu dan Naren harus hidup susah." Ia menghirup napas dalam agar air mata yang telah menggenang tidak sampai jatuh.
Ajeng terenyuh mendengarnya. Kini, balik ia yang memeluk suaminya. "Bagiku kamu laki-laki paling hebat. Laki-laki paling setia karena selalu menemani istrinya bahkan saat sedang berada di titik terendahnya."
Di balik punggung istrinya, wajah Elang sudah banjir air mata. "Maaf udah nyakitin kamu, tapi percayalah aku melakukan itu demi kamu. Aku cuma pengen lihat kamu sembuh dan kembali seperti dulu. Ajeng yang kuat, ceria, dan penuh semangat. Tentang Nara ...." Laki-laki itu menyebutkan nama anak perempuannya yang sudah tiada. "Aku percaya dia juga bahagia kalau melihat Bunda-nya bisa tersenyum. Kita akan terus mencintai Nara dan tidak akan pernah sekalipun melupakan dia karena Nara akan selalu punya tempat istimewa di hati kita."
Masih dalam posisi berpelukan, Ajeng mengangguk berkali-kali. Elang mengeratkan pelukannya, mengusap-usap punggung istrinya. Sungguh perasaannya teramat lega karena permasalahan ini tidak berbuntut panjang, tapi sepertinya hal itu tidak berlaku untuk pasangan yang saat ini sedang dalam perjalanan pulang.
Darma kembali tak bersuara, begitu pula dengan Ara yang hanya menunduk hingga rambutnya yang digerai begitu saja jatuh dan menutupi sebagian wajahnya. Wanita itu langsung turun begitu mobil yang ditumpanginya berhenti di halaman rumah. Jujur saja, Ara sempat melirik ketika mengambil kunci rumah di tasnya. Darma masih berdiam di dalam mobil. Entah apa yang akan laki-laki itu lakukan lagi. Mungkin pergi? Ya, tentu saja. Tidak ada Ashila di antara mereka. Malam ini Darma bebas.
Memasuki kamarnya yang berada di lantai dua, Ara lebih memilih menyalakan lampu tidur sebagai penerangan. Selanjutnya, perempuan itu menuju kamar mandi. Sembari menunggu bathub penuh, Ara yang saat ini berdiri di depan cermin mengamati pipinya yang terasa kaku. Sedikit bengkak dan masih menyisakan warna kemerahan di sana. Ara mengelusnya pelan, berulang kali sebelum akhirnya berendam di air hangat yang tadi ia siapkan.
"Dasar wanita penggoda!"
".... Sebutan apa yang pantas buat perempuan kayak kamu!"
Kata-kata Ajeng terngiang-ngiang di telinga Ara. Apa kesalahannya memang sangat besar sampai orang-orang memperlakukannya hingga seperti ini? Ara tidak tahu, tapi izinkanlah air mata mengalir sejenak. Setidaknya untuk malam ini agar dadanya yang sesak sedikit lebih lega dan hatinya lebih mampu menghadapi hari esok.
.
__ADS_1
Selamat Hari Raya Idulfitri bagi teman-teman yang merayakan. Mohon maaf atas segala balasan komentar yang menyinggung atau menyakitkan hati teman-teman.
Saya juga minta maaf setelah ini akan super slow update karena ada kesibukan baru di RL