
Ara menatap ragu undangan berwarna maroon berhiaskan peta perak yang baru saja diberikan Ruli. Namun, karena rasa penasarannya, akhirnya ia buka juga kertas berbentuk persegi panjang itu. Satu per satu ia membaca rentetan huruf dari atas ke bawah, dan matanya berhenti begitu sampai nama sang mempelai perempuan.
Ara menoleh pada Mitha yang tengah terkagum-kagum dengan benda yang sama seperti di tangannya. "Kok, namanya Imelda?"
Melepaskan pandangannya dari undangan, Mitha dengan raut heran ikut menolehkan kepala. "Terus siapa? Arasellia? Kan emang namanya Imelda."
"Kamu ada fotonya?" tanya Ara memastikan apakah Imelda yang dimaksud adalah Imelda yang sama dengan yang naksir Darma.
Pandangan menyelidik Mitha layangkan. Aneh sekali melihat rekannya yang sering acuh tak acuh kini begitu kepo dengan orang lain. "Kamu beneran ada rasa sama Pak Aldo, ya?"
"Kasih tahu aja apa susahnya."
"Cari aja IG-nya," jawab Mitha enteng.
Tanpa ba-bi-bu, Ara langsung menyalakan ponselnya. Membuka aplikasi Instagram, ia mengetikkan nama Imelda pada kolom pencarian. Embusan napas kasar terdengar setelah ia mendapatkan akun yang dicari, tapi ternyata dikunci. "Digembok. Kamu udah follow?"
Mitha memutar bola matanya malas. Walau demikian, ia tetap membuka Instagram dan mencari profil Imelda demi memenuhi hasrat keingintahuan temannya.
Tanpa disadari, Ara menelan ludah karena ternyata calon istri bosnya memang Imelda yang dulu pernah berkenalan dengannya saat ulang tahun ibu Darma.
Kenapa Imelda malah nikah sama Pak Aldo?
Pertanyaan itu terus menggema dalam benak Ara sampai jam kantor selesai.
"Ra, bareng, ya, ke kondangannya Pak Boss."
Ajakan dari Junot datang sewaktu Ara sedang memasukkan barang-barangnya ke tas. "Aku bareng Mitha. Ya, kan, Mith?"
"Hmm ...."
__ADS_1
"Jangan kaku gitu, dong, Ra. Lagian aku ngajak kamu juga sebagai ucapan makasih karena udah gantiin kerjaanku," jawab Junot jujur. "Aku masih ngincer Irva kalau kalian lupa."
Kedua gadis yang sudah siap pulang itu hanya mengangguk.
"Terus kenapa nggak ajak dia?" tanya Mitha.
Junot menyugar rambutnya frustrasi. "Udah sama yang lain. Kurang gercep."
Sontak saja tawa membahana memenuhi kubikel divisi pemasaran. Junot memasang raut datar agar dirinya yang sudah nelangsa tidak perlu terlalu dikasihani.
"Udah belum ketawanya?"
Ara mengangguk kurang ajar, sedangkan Mitha kini menghapus air mata di sudut matanya
"Udah," kata keduanya hampir berbarengan.
"Hm, pokoknya nanti kita berangkat bareng, ya, Ra. Masa aku kondangan ke tempat kayak gitu sendirian. Malu sama cicak."
"Ntar juga ketemu di sana. Intinya berangkatnya kita berdua. Okey? Biar kamu juga sekali-kali ada gandengannya. Ya, kan, Mith?" Junot meminta persetujuan yang langsung mendapat anggukan dari Mitha.
Ara mendengkus, lalu menyampirkan tasnya ke bahu. "Terserah apa kata kalian, deh," katanya sambil berlalu.
"Lhah, ngambek, Ra? Kita tetep berangkat berdua."
"Atur aja."
"Sippp."
Sesampainya di parkiran, Ara membuka tas dan mencari kunci motornya. Begitu dapat, dia yang hendak memasukkan kunci ke tempatnya harus tersentak lantaran seseorang dari arah belakang secara tiba-tiba merebut benda kecil itu dari tangannya. Ara menoleh. Ucapannya tertahan di ujung mulut melihat siapa pelakunya.
__ADS_1
"Balikin," ucapnya beberapa saat kemudian. Tangannya yang hendak merebut kembali justru ditahan oleh lelaki di depannya.
"Aku anterin. Biar motormu dibawa sama Cahyo."
Ara merasa deja vu, meski kondisinya tidak sama persis. "Aku bisa pulang sendiri. Lepasin tanganku dan balikin kunci motorku."
Darma bergeming dengan mata menatap intens setiap perubahan raut wajah Ara. "Aku anter. Sebentar lagi hujan."
Cuaca sore itu memang mendung, tapi tak membuat Ara menurut begitu saja. "Jangan sok peduli. Kita udah nggak ada hubungan apa-apa."
"Kita nggak pernah putus," sanggah Darma cepat.
Ara menatap nanar Darma. "Saat kamu mengambil tiket pesawat itu, saat itu juga hubungan kita selesai," katanya susah payah agar suaranya yang bergetar tidak kentara.
Darma tercengang di tempat.
Ara yang merasa cekalan tangan Darma mengendur dengan cepat menarik tangannya dan merebut kunci motornya. Dengan gegas, ia menyalakan motor dan pergi dari hadapan lelaki itu.
Darma mengerjap beberapa kali. Menyadari Ara telah lenyap dari pandangannya, ia segera menuju mobil dan mengikuti sang gadis.
Benar kata Darma, belum separuh perjalanan Ara pulang, hujan langsung turun tanpa gerimis terlebih dahulu. Ara menepikan motornya di depan ruko yang sudah tutup, lalu membuka jok motornya hendak mengambil jas hujan. Namun, sial! Benda yang dicari tak ada. Hanya sebuah jaket berwarna cokelat miliknya yang ada di situ.
Ara memakainya. Itu lebih baik dibandingkan ia hanya mengenakan blouse yang sudah basah dan sedikit menampilkan pakaian dalamnya. Ara memeluk tubuhnya guna menghalau dingin. Kenapa dari dulu dia selalu tidak beruntung jika bertemu dengan Darma? Apa dia dan laki-laki itu memang sejatinya tidak berjodoh? Cih, jodoh! Jelas-jelas orang tuanya saja diam-diam tidak setuju dia berhubungan dengan Darma, dan jujur saja hal itu menjadi beban bagi Ara karena ia tak bisa lagi mencurahkan isi hatinya secara bebas kepada ayah dan ibunya.
Semua tak lagi sama. Segalanya berubah.
Ara terhenyak dari lamunannya saat seorang anak kisaran usia sepuluh tahun menghampiri dan mengangsurkan jas hujan kepadanya.
"Ini buat Kakak. Dipakai, ya."
__ADS_1
Sembari melongo Ara menerimanya, dan sebelum ia bertanya siapa yang memberikan itu kepadanya, anak tadi sudah pergi menembus hujan yang masih turun dengan deras-derasnya.