
Seminggu setelah kepulangannya dari bulan madu ke Maldives, Ara mendadak tak sadarkan diri ketika menyiapkan baju suaminya yang hendak berangkat kerja. Dokter mengatakan bahwa penyebab Ara pingsan karena wanita itu kelelahan lantaran kini tengah berbadan dua.
Iya! Di usia pernikahannya yang baru kemarin genap sebulan Ara dinyatakan positif hamil dan saat ini usia kandungannya memasuki minggu ke enam alias sudah satu setengah bulan.
Beruntungnya Darma memiliki pengetahuan cukup dan dokter juga menjelaskan sehingga dia tidak berprasangka aneh-aneh kepada istrinya. Sebab, di luar sana banyak sekali laki-laki yang dengan mudahnya menuduh istrinya berselingkuh karena usia kandungan lebih dari usia pernikahan. Padahal, umur kandungan dihitung dari kapan terakhir kali seorang wanita mengalami menstruasi, bukan dari kapan pertama atau terakhir kali seorang wanita melakukan hubungan badan.
"Mas ...." Ara memanggil beberapa saat setelah membuka mata dan dokter baru saja pergi usai memeriksanya.
"Iya, Sayang?" Tanpa melepaskan genggaman tangannya Darma menjawab.
"Kamu denger tadi dokter bilang apa?"
Darma mengangguk, lalu mendekatkan wajahnya hingga hanya tersisa beberapa sentimeter dari wajah istrinya. "Iya, aku denger semua."
"Aku hamil, Mas. Aku hamil ...." Matanya tampak berkaca-kaca dengan segaris senyum antara tak percaya sekaligus senang.
"Iya, kamu hamil." Kali ini Darma benar-benar tak memberi jarak. Hidungnya ia gesek-gesekkan ke hidung Ara. Matanya memerah dan satu tetes air mata pun luruh.
Mereka menangis bahagia sambil berpelukan.
"Kamu kalau pengen apa bilang, ya. Pasti aku usahain." Darma kembali berucap setelah pelukannya terlepas.
"Haus. Mau minum."
"Iya." Darma membantu Ara untuk duduk, kemudian mengambil segelas air mineral yang ada di nakas.
Ara menyunggingkan senyum saat menerimanya. "Mas," panggilnya sambil menaruh gelas di tempatnya.
"Ya?"
"Ibu sama Bapak ...."
"Udah. Mama juga udah aku kabarin dan mereka bilang mau ke sini."
Tepat setelah Darma berkata demikian, pintu ruang rawat kelas VIP itu diketuk. Darma bergegas membukakan pintu dan muncullah ayah dan ibu mertuanya.
Pak Narto dan Bu Ata langsung mendekati putrinya yang masih duduk bersandar di ranjang.
"Gimana rasanya, Ra?" tanya sang ibu cemas.
"Udah baikan. Tadi udah dicek lagi juga semuanya bagus."
"Makannya yang banyak, ya. Mual nggak?"
__ADS_1
Ara menggeleng.
"Ya, baguslah. Dulu ibu waktu hamil mual sampai apa-apa nggak bisa masuk. Pengen makan kedondong sampai bapakmu cari ke pinggiran Solo. Itu aja kedondongnya belum mateng, tapi namanya kepengen, ya, dimakan." Cerita Bu Ata panjang lebar.
"Cuma dihisap airnya nggak dimakan." Pak Narto meluruskan.
"Ya 'kan giginya ngilu. Kedondongnya aja kecil banget." Bu Ata tak terima dipojokkan seperti itu oleh suaminya sendiri.
Darma terkekeh melihat mertuanya adu mulut untuk pertama kalinya.
Ara menoleh padanya, dan berkata, "Kalau nanti aku ngidam aneh-aneh, kamu mau nggak nurutin?"
"Kan udah bilang tadi. Semua pasti aku usahain."
Ara manggut-manggut senang.
"Darma udah makan?" tanya Bu Ata.
"Belum, Bu. Nggak kepikiran malah. Saya langsung panik lihat Ara tahu-tahu pingsan di depan lemari."
"Makan dulu. Ibu bawain nasi liwet sama ini yang di termos kecil isinya teh manis panas." Bu Ata membuka tas kecil yang dibawa dan mengeluarkan isinya untuk ditaruh di meja yang ada di ruangan itu.
"Kamu mau makan nggak?" Darma menawari Ara.
"Boleh. Ini masih jam setengah sepuluh. Kamu dapat jatah makan baru nanti siang. Aku suapin, ya?"
Akhirnya Ara mengangguk. Lagipula, mana kuat dia menahan lapar sementara yang lainnya dengan nikmat menyantap nasi liwet.
"Makan. Apa aja makan, jangan pilih-pilih banget." Pak Narto menasihati.
"Iya. Yang penting nggak bahaya buat kamu sama bayinya. Jangan makan-makanan instan dulu." Bu Ata menambahkan.
Darma kontan melirik Ara dengan senyuman miring. "Ibu bener," katanya mengingat minggu kemarin sudah dua kali Ara memasak mie instan malam-malam.
"Iyaaa ...." Dengan wajah keki Ara menjawab.
"Nanti kita beli bahan-bahan yang sehat yang gampang dimasak biar kamu enak kalau malam-malam lapar."
"Iya." Ara mengukir segaris senyum bahagia. Bahagia karena memiliki suami seperti Darma yang menaruh banyak perhatian padanya.
......................
Selly baru datang bersama Bima satu jam kemudian. Yang mana membuat Pak Narto dan Bu Ata yang sudah mau pulang terpaksa bertahan lebih lama. Tidak enak juga besan baru tiba malah pergi. Kesannya seperti tidak akur. Mereka bersalaman dan menanyakan kabar satu sama lain sebelum kemudian Selly izin untuk melihat Ara dari dekat.
__ADS_1
"Ara, gimana keadaannya sekarang? Mama tadi langsung cemas waktu Darma kasih tahu kalau kamu masuk rumah sakit. Mana nggak ada yang nganterin jadi ke sininya telat."
"Aku udah baikan, Ma. Makasih, ya, udah ke sini."
Selly mengembuskan napas panjang. "Ara jangan sungkan sama Mama, ya. Oh, ya, Mama cuma bawa ini. Abisnya bingung banget kepikiran terus sejak di rumah." Selly menaruh kantong plastik besar berwarna kuning bertuliskan "Mandarijn Orion".
"Iya. Sekali lagi makasih, Ma."
Pandangan Selly lantas jatuh ke putra sulungnya yang berdiri di seberang ranjang. "Dar, nggak boleh, lhoh, ya, kamu bikin Ara kecapekan lagi. Mama nggak mau terjadi apa-apa sama mantu dan calon cucu Mama."
"Iya, tiga hari sekali juga ada orang yang dateng buat bersih-bersih rumah."
"Iya, kalau itu tahu, tapi Mama yakin kalau Ara cape bukan karena itu, tapi gara-gara kamu minta terus."
"Minta apa, Ma?" Bima yang sedari tadi diam menyahut.
"Halah! Ini lagi calon dokter pura-pura nggak tahu!" Selly bertambah kesal.
Iya! Setelah lulus SMA, Bima memutuskan untuk masuk fakultas kedokteran.
Darma dan Bima hanya cengengesan.
"Iya, nanti dikurangi. Namanya juga pengantin baru." Darma menjawab enteng, sedangkan Ara sudah menunduk malu.
"Obrolan macam apa ini!" batin perempuan itu menggerutu.
"Libur dulu! Lagian kalau masih hamil muda itu rawan. Pokoknya sampai Ara kenapa-napa lagi, Mama bakal bawa dia ke rumah. Biarin aja kamu di rumah sendirian."
"Enak aja! Nggak boleh!" Cepat Darma menyanggah.
"Ya, makanya dijaga baik-baik. Tuh, lihat masih ada orang tuanya Ara. Nggak boleh, Dar!"
"Iya, Ma. Aku juga nggak tega, lah. Aku, lhoh, sayang pol sama Ara." Darma mencium puncak kepala Ara lama di depan semua orang, mengusap-usap rambutnya, tanpa ada rasa malu.
Wajah Ara sudah merah, malu sekaligus senang dengan perlakuan suaminya kepadanya. Begitu pula dengan mereka yang menyaksikan pun turut berbahagia melihat anak-anaknya dipersatukan dalam ikatan pernikahan bersama orang yang tepat.
.
.
.
Tinggalkan komentar, ingat!
__ADS_1
KOMENTARMU ADALAH SEMANGATKU 📢📢📢📢