Will Never Let You Go

Will Never Let You Go
Psikolog


__ADS_3

Setelah mencari informasi ke sana sini, seminggu kemudian akhirnya Darma menemukan seorang psikolog yang dirasa cocok. Dan sore ini, sehabis jam kantor selesai laki-laki itu menjejakkan kakinya di sebuah rumah sakit swasta bersama anak dan istrinya.


"Shila nggak mau disuntik!" Anak perempuan yang digandeng oleh orang tuanya itu tiba-tiba menghentikan langkah. Ashila yang kini sudah jauh lebih besar tahu betul tempat apa itu. Ia akan dibawa masuk ke sebuah ruangan, ditanya dan ditawari ini itu, sampai akhirnya sebuah jarum suntik berhasil menembus lengannya. Tidak! Dia tidak mau.


"Enggak. Ashila nggak bakalan disuntik, Sayang." Ara berusaha menenangkan. Tak pernah ia dan suaminya duga jika hal semacam ini akan terjadi.


"Mami bohong!" Bibir Ashila sudah bergetar, siap menangis.


"Mami nggak bohong. Kalau Mami bohong nanti Papi beliin Ashila es cokelat." Darma mengiming-imingi sesuatu agar putrinya tidak tantrum.


"Yang big!"


"Iya." Darma menjawab mantap sambil melirik istrinya. Lagipula, dia tidak berbohong. Jadi, angan-angan anaknya untuk bisa meminum es cokelat tidak akan terwujud.


Keluarga kecil itu lantas melanjutkan langkah. Usai bertanya pada security, sampailah mereka di depan ruangan yang dimaksud. Darma lebih dulu mengetuk pintu bertuliskan Irina Dewi, S.Psi, M.Psi sebelum kemudian membukanya pelan.


Seorang wanita kisaran awal 40-an menyambut keluarga itu dengan senyuman hangat. Mereka lantas duduk berhadap-hadapan dengan Ashila yang duduk di pangkuan Ara.


Sesi konsultasi itu berjalan kurang lebih tiga puluh menit. Tentu saja dengan pertanyaan Darma yang mendominasi.


Penjelasan dari Irina sebenarnya tidak jauh berbeda dengan yang kebanyakan Ara baca di internet. Ia tidak bisa membiasakan Ashila melakukan segala sesuatu dengan tangan kanan karena bisa menggangu perkembangan otak dan konsentrasi belajar anak itu. Kendati demikian, ada beberapa hal yang secara pelan-pelan tetap harus Ara ajarkan mengingat hal itu berhubungan dengan sopan santun. Contohnya, saat anaknya mengambil makanan, makan, dan bersalaman dengan orang lain.


"Papi, es cokelatnya!" seru Ashila saat mereka melewati begitu saja kantin rumah sakit.


"Es cokelat?" Kening Darma berkerut hingga alisnya hampir menyatu.

__ADS_1


"Tadi Papi bilang mau beliin Shila es cokelat. Itu mbak-mbak yang jual!" Bocah itu menunjuk sebuah stand yang menjual aneka macam minuman.


"Ashila denger baik-baik, ya. Tadi 'kan Papi bilangnya bakal beliin Ashila minum kalau Mami bohong. Tadi Mami bohong nggak?"


Anak itu menggeleng.


"Ashila disuntik nggak?"


Kembali Ashila menggeleng, tapi bedanya dengan bibir mencebik.


"Tapi, Shila haus ... pengen minum yang manis-manis."


Sontak saja Darma melirik istrinya. Ara menyengir kuda. Kata-kata Ashila itu seperti fotokopian kalimat yang sering digunakan olehnya saat menentang ucapan suaminya.


"Di mobil ada minum, Sayang." Akhirnya Ara mengeluarkan suara.


Ara melengos. "Kasih, deh, Mas. Nanti dia ngambek terus kalau nggak diturutin."


"Kayak siapa?" Darma justru menggoda.


"Bapaknya!" jawab Ara ketus, kemudian melangkah lebih dulu.


Darma yang mengekori istrinya bersama Ashila hanya terkekeh.


"Kamu mau nggak, Mas?" Ara menengok ke belakang, menawari suaminya.

__ADS_1


"Enggak. Kita segelas berdua aja," sahut Darma masih saja menggoda.


Hidung Ara kembang kempis mendengarnya. Sembari mendengkus pelan, ia kembali menoleh dan memesan dua cup susu stroberi.


Tidak sampai lima menit minuman pesanan Ara pun jadi. Wanita itu kemudian berjongkok untuk memberikan salah satunya pada putrinya. "Ashila mau ini?" Ia memamerkan susu stroberi di tangan kanannya.


"Mauuu." Ashila bersorak senang sambil berusaha meraihnya karena sesekali ibunya mengangkat minuman itu tinggi-tinggi.


"Ashila, dengerin Mami dulu. Mami bakalan kasih ini, tapi Ashila nerimanya harus pakai tangan kanan, ya? Tangan kanannya Ashila mana?"


"Ini!" Anak itu mengulurkan tangan kanannya.


"Good!" Dengan senyum mengembang Ara menyerahkan susu stroberi milik putrinya.


Ashila tersenyum senang. Segera ia menusukkan sedotan dan meminum minumannya hingga habis seperempat. Tampaknya anak itu benar-benar haus. Sementara ayah dari anak itu juga benar-benar merealisasikan ucapannya. Dengan tidak tahu malu, Darma selalu saja menyambar sedotan yang ada di cup susu stroberi milik Ara sesaat setelah wanita itu minum. Begitu seterusnya sampai mereka tiba di lobi, barulah Darma berhenti.


Laki-laki itu menghubungi Pak Surip agar segera menuju lobi, sedangkan istri dan anaknya duduk di kursi yang disediakan. Baru saja Ara mendaratkan bokongnya, pandangannya seketika jatuh pada sepasang suami istri yang baru turun dari mobil. Itu Elang dan Ajeng. Ara tersenyum samar melihat Elang sungguh begitu baik dalam memperlakukan Ajeng. Dalam hatinya, ia juga lega sebab jika Elang bisa membawa Ajeng ke rumah sakit artinya laki-laki itu telah mendapatkan uang pinjaman.


"Babe! Sayang!"


Ara mengerjapkan mata saat Darma menyentuh bahunya.


"Lihatin apa, sih?" Darma mengikuti arah pandang istrinya.


"Nggak lihatin apa-apa. Shila, ayo!" Ara mengalihkan pandangan dan mengulurkan tangan pada putrinya.

__ADS_1


Darma sempat melirik sekilas pada istrinya sebelum mereka berjalan menuju mobil yang belum lama tiba di depan lobi.


__ADS_2