Will Never Let You Go

Will Never Let You Go
Lamaran


__ADS_3

Setelah mengantongi restu dan tadi juga diajak makan malam, saat ini Darma sedang duduk sambil merangkul bahu Ara di kursi depan TV. Ia tampak santai, sebab Pak Narto sudah pergi sejak beberapa menit yang lalu untuk menghadiri kenduri arwah di rumah tetangga. Bu Ata tentu saja lebih memilih menghindar karena tidak tahu mau mengobrol apa dengan calon menantunya. Sementara Gusti yang sudah pulang usai membereskan tugas kelompok kuliahnya yang bermasalah hanya berbasa-basi sebentar dengan Darma.


Walaupun film yang saat ini diputar cukup menarik, tapi bagi Darma, melihat setiap perubahan ekspresi kekasihnya ternyata jauh lebih menarik dibandingkan apa pun.


"Cantik," kata Darma mengelus pipi Ara dengan ibu jarinya.


Gadis itu menoleh dengan raut melongo. "Mas Darma dari tadi nggak nonton?"


"Nonton, tapi nonton kamu bukan film itu." Darma mengangkat kedua sudut bibirnya.


"Bisaan emang kamu, Mas." Ara tersenyum mengejek.


Yang diejek membusungkan dada bangga. "Iya, dong. Kalau enggak, mana mungkin bapakmu luluh. Keren 'kan aku?" tanyanya minta pengakuan.


"Keren kalau dilihat dari atap gedung." Ara terbahak-bahak.


"Ra! Kok, gitu sama calon suami?" Bibir Darma sudah maju minta dijepit pakai jepitan baju.


"Apa? Calon suami? Aku 'kan belum dilamar secara resmi. Ibarat e-mail itu belum diverifikasi."


Darma mendengkus. "Huh! Tunggu aja orang tuaku dateng. Nanti langsung, deh, aku minta nikahnya minggu depannya."


"Ngaco!" Ara mencubit pinggang Darma.


"Ya ... kalau papa sama mama setuju aku nikahnya biasa-biasa aja, sih, gaskeun. Ya, nggak, sih?"


"Emang mereka pengennya gimana, Mas?" Raut wajah Ara sudah berubah serius. Badannya juga sudah duduk menyamping dengan satu kaki naik ke kursi, lalu ditekuk.


"Mereka nggak pernah bilang, sih, tapi kamu tahu sendiri orang tua itu kayak apa. Apalagi kenalan mereka banyak. Mungkin pestanya nanti, ya, sebelas dua belas kayak nikahannya Aldo kemarin."

__ADS_1


Ara mengangguk-angguk. Kalau begini kelihatan sekali perbedaan kasta antara dirinya dan Darma. Bayangkan seandainya dia menikah dengan orang lain, atau bayangkan dia menikah dengan Elang. Mungkin pesta pernikahannya hanya akan digelar di gedung yang biasa-biasa saja dengan jumlah undangan yang tidak terlalu banyak.


"Kok, bengong?" Darma menjentikkan jarinya di depan wajah Ara.


Ara mengerjap beberapa kali. "Enggak, kok. Nggak ada yang bengong."


"Terus mikirin apa, hm?" Darma ikut duduk menyamping, lalu mendekatkan wajahnya.


"Mas, jangan deket-deket, ih. Nanti dikira ngapain." Ara memundurkan tubuhnya.


"Mikirin apa? Ayo, jawab." Darma tak gampang dialihkan perhatiannya.


"Enggak mikir."


"Kita emang udah lama nggak ketemu, tapi aku bener-bener kenal kamu luar dalam."


"Y-ya, ya ... aku lagi bayangin aja kalau bener nanti nikahannya kayak Pak Aldo." Ara memalingkan wajah agar tak bertemu pandang dengan Darma.


"Bukan gitu, tapi ...."


"Tapi?" Darma menangkup sebelah Ara agar kembali menghadapnya, lalu tangannya yang lain menggenggam kedua tangan Ara yang sedari tadi mere*mas dress yang gadis itu kenakan. "Emang wedding dream kamu gimana?"


"Hah?"


"Jawab, dong. Emangnya aku pong-pongan pake di-hah-in gitu?"


"Haish! Udahlah jangan dibahas." Ara mengibaskan tangannya di depan wajah.


"Jawab dulu." Darma melayangkan tatapan tajam. "Bilang biar nanti aku usahain."

__ADS_1


"Hmmm ...." Ara mengusap tengkuknya, sungkan. "Sederhana aja. Outdoor. Nggak ngundang banyak orang. Mirip-miriplah sama nikahannya Putri Marino. Tahu nggak Putri Marino?"


"Nggak," jawab Darma singkat. Pikirannya sudah melanglang buana memikirkan bagaimana cara mewujudkan impian kekasihnya. Baru saja dia sadar kalau selama ini Darma belum pernah sekalipun bertanya tentang impian-impian Ara. Dan sepertinya, mulai hari ini, pelan-pelan, satu per satu dia akan mewujudkan impian apa saja yang belum gadis itu raih.


"Mas?!"


Darma terkesiap. Ia berdeham untuk mengembalikan kesadarannya. "Apa? Sorry, nggak denger."


"Iya, lah. Orang ngalamun. Mikirin apa, sih?"


"Mikirin cara biar pernikahan impian kamu bisa terwujud."


"Mas! Ya, ampun!" Ara tak habis pikir dengan pacarnya sendiri. "Kalaupun nggak kayak gitu, ya, nggak apa-apa. Kan nggak semua yang kita mau bisa kita dapatin. Lagian itu masih lama. Orang tuanya Mas Darma juga belum ke sini."


"Secepatnya," cetus Darma. "Secepatnya mereka akan datang ke sini dan ...."


"Dan?" Ara memiringkan kepalanya menunggu perkataan Darma selanjutnya.


"Aku juga mau bilang kalau mungkin akan ada keluargaku yang nggak suka kamu, tapi kamu nggak perlu khawatir karena apa pun yang terjadi aku dan orang tuaku akan selalu memihakmu. Begitu pun sebaliknya, mungkin akan ada keluargamu yang nggak suka aku, tapi aku nggak peduli karena yang terpenting kamu dan orang tuamu mau menerima aku."


Dan, ya! Perkataan Darma benar. Dua minggu setelah kedatangannya, Darma beserta orang tua dan beberapa kerabatnya menyambangi rumah Pak Narto untuk melamar Ara.


Acara lamaran yang hanya dihadiri beberapa orang itu memang sederhana. Dan lagi-lagi ucapan Darma benar, meski keluarga lelaki itu semuanya menyunggingkan senyum, tapi Ara bisa merasakan bahwa mereka tak nyaman. Entah karena rumahnya, makanan yang ia hidangkan, atau yang lainnya. Ara tidak tahu dan tidak mau terlalu memikirkan itu. Yang jelas dia sudah berusaha menyuguhkan yang terbaik semampu yang ia bisa. Dan jika sesekali perasaan tak nyaman itu menggelitik hatinya, maka yang ia perlu lakukan hanyalah mengingat perkataan kekasihnya yang akan selalu berpihak kepadanya.


.


.


Pong-pongan. Kalau di tempat kalian namanya apa?

__ADS_1



__ADS_2