Will Never Let You Go

Will Never Let You Go
Ajeng?


__ADS_3

"Babe, mau sarapan nasi liwet nggak?"


Hari masih pagi, Ara masih memejamkan mata. Alarm yang dipasang bahkan belum berbunyi, tapi Darma sudah menawarinya sarapan. "Mau, tapi nanti."


Setelahnya, Ara menyingkirkan tangan Darma dan membelakangi lelaki itu.


"Aku cari sekarang, ya? Takutnya kehabisan. Kamu mau ikut nggak?"


Ara menggelengkan kepala.


"Tapi, aku pengen kamu ikut." Darma merapatkan tubuhnya. Kembali melingkarkan tangannya, lalu menciumi wajah istrinya.


"Minggir! Aku capek!"


"Gara-gara semalem?" tanya Darma tak juga menyerah lantaran sudah mendapat penolakan istrinya.


Menggaruk kepalanya dengan kening berkerut, Ara terpaksa membuka mata. Darma memang juara satu mengganggu orang tidur. "Iya, lah! Pakai tanya lagi. Aku 'kan cape jagain Ibu di rumah sakit."


"Yeah, 'kan cuma sebentar. Aku juga pelan, katamu sakit."


"Iya, emang sakit."


Raut wajah Darma berubah khawatir. Tangannya membelai paras cantik Ara dengan perasaan bersalah. "Sakit banget? Biasanya gitu juga?"


"Nggak yang banget, sih. Biasanya juga sakit."

__ADS_1


Darma mengurut pelipisnya yang seketika pening. Rasa bersalah seketika menyelimuti hati. "Aku mainnya kasar, ya?"


"Kalau nggak kasar bukan kamu, Mas!" jawab Ara sedikit ketus agar suaminya makin merasa berdosa. Padahal, dalam hatinya dia oke-oke saja, enak-enak saja. Memang dasar istri durjana.


"Nanti aku pelanin lagi, tapi kalau pelan banget, tuh—" Belum selesai Darma berucap, teriakan putrinya dari luar kamar memotongnya.


"Mamiiiiiiiiii ...."


Ara menyingkap selimut. Meraih ikat rambut yang ada di nakas, ia lantas membukakan pintu kamar. Ashila yang berada dalam gendongan Mbak Sus dengan air mata bercucuran menjadi pemandangan pertama yang Ara lihat.


"Mami, ada monstel."


Embusan napas pelam terdengar, Ashila pasti mimpi buruk. Ara mengambil alih putrinya dan membawanya ke ranjang sementara Mbak Sus ia suruh untuk menyiapkan seragam dan segala perintilannya.


Ara menatap sinis suaminya alias si pelaku yang membuat tidur anaknya terganggu. Kemarin sore, Darma memang menawarkan diri untuk meng-handle Ashila di saat Ara kebingungan lantaran tidak ada yang menjaga ibunya. Dan begitu pulang, anaknya bercerita kalau diajak menonton film bagus yang kini justru membuat mata indah Ashila bengkak.


"Nonton, tuh, yang bener-bener aja," ucap Ara ketus.


"Itu juga bener, kok. Itu kartun, lhoh, Babe." Darma merengut, tak suka disalahkan.


"Tapi, 'kan bisa pilih kartun yang lucu. Ashila, tuh, sukanya yang girly."


"Nanti jadi lembek dia nonton kayak gitu terus. Aku juga nanti rencananya masukin Shila ke kelas Tae Kwon Do."


"Aku nggak setuju!" tegas Ara. Ia langsung memeluk Ashila seakan-akan ada monster yang hendak memangsa anaknya.

__ADS_1


"Why?" Darma mengedikkan bahu. Tak mengerti dengan jalan pikiran istrinya.


"Shila boleh les apa aja, tapi harus atas kemauan dia. Kalau itu maunya kamu, aku nggak setuju!" Lagi Ara menegaskan. Wanita itu kemudian mengajak Ashila untuk beranjak dari ranjang. "Mami bantuin Shila siap-siap sekolah, ya," imbuhnya tanpa memedulikan suaminya.


Putri semata wayangnya itu menurut saja tangannya digandeng.


"Aku juga mau dibantuin. Ra! Ra!" seru Darma benar-benar tak dihiraukan. Sudah mirip anak pungut saja.


Dengan ogah-ogahan laki-laki itu menuju kamar mandi. Mengatur suhu air, mengambil baju, dasi, dan sepatu dengan tangannya sendiri.


Selang setengah jam, keluarga kecil itu sudah siap-siap. Darma yang hendak ke kantor dan Ara yang akan mengantar Ashila ke sekolah.


"Ibu pulang hari ini?" tanya Darma.


"Iya, habis visit pagi dokter kayaknya udah dibolehin. Mau ke sana, tapi Shila ada latihan nari setelah pulang sekolah." Air muka Ara sedikit mendung mengingat ayahnya akan mengurus segalanya sendirian sebab Gusti juga mesti bekerja.


"Aku ada rapat penting. Nanti makan siang bareng aja gimana? Terus tengokin Ibu di rumah?"


Ara mengangguk senang. Kesenangan yang semu karena begitu Ashila pulang sekolah dan ia serta anaknya sudah duduk manis di restoran Italy, Darma mengabari kalau lelaki itu tidak bisa datang lantaran harus mengunjungi pabrik yang ada di luar kota.


Keadaan restoran sudah tidak seramai saat Ara datang ketika wanita itu menghabiskan makanannya. Mungkin karena jam makan siang sudah berlalu sejak lima belas menit yang lalu dan keadaan seperti itu pula yang membuat firasat tidak enak lagi dan lagi menyergap Ara setelah di rumah sakit ia juga merasakan hal yang sama.


Ara memandang ke segala arah dengan tatapan waswas selagi Ashila menghabiskan makanan. Bunyi high heels dari arah belakang yang perlahan mendekat membuat Ara menelan ludah. Sebab, dari pantulan dinding kaca, ia melalui ekor matanya bisa melihat jika ada seorang wanita berjalan ke arahnya. Cepat Ara menoleh ke belakang dan bersamaan dengan itu sebuah tangan mendarat di bahunya.


"Ajeng?"

__ADS_1


__ADS_2