
Tiga tahun kemudian ....
Di kubikelnya yang sempit nan berantakan, Ara memandang laporan penjualan yang harus ia serahkan sesegera mungkin dengan mata pedih. Beberapa kali ia menguap lantaran kantuk yang menyergap. Ini semua gara-gara Junot. Rekan kerjanya yang harusnya menyelesaikan ini, tapi malah absen karena sakit diare.
Jam makan siang juga Ara lewati begitu saja karena dirinya tak ingin lembur. Apalagi jika mengingat cerita horor yang sudah berseliweran sejak ia masuk ke perusahaan yang bergerak di industri tekstil itu. Ara langsung merinding disko.
"Makan dulu, Sis. Nih, ada nasi goreng sama lemon tea biar makin semangat kerjain laporannya." Mitha—rekan kerja Ara—yang baru kembali dari kantin menaruh sebuah kotak berisi nasi goreng Pattaya.
"Gaji bulan ini aman? Pake beliin aku makanan segala," ucap Ara.
Mitha ini aslinya orang Salatiga. Dia di Solo ngekos. Pulang ke rumah paling banter dua minggu sekali. Jadi, Ara cukup tak enak hati kalau sampai temannya mengeluarkan rupiah demi dirinya yang masih bisa menahan lapar sampai sore nanti.
"Siapa yang beli," kata Mitha setengah berbisik karena tak mau mengganggu karyawan lain yang sudah kembali bekerja, "itu tadi ada anak divisi sebelah ulang tahun, terus yang ada di kantin ditraktir. Ya, udah, aku ambilin satu porsi, deh, buat kamu."
"Huuu ...." Ara bersorak lirih, lalu menoleh ke kanan dan ke kiri. "Makan bentar nggak apa-apa, kan, ya?"
"Nggak apa-apa, lah! Daripada sakit, nanti aku yang repot."
Tak mau membuang-buang waktu, Ara pun menyantap nasi goreng gratisan yang dia dapat dari Mitha. Di tengah ia menikmati makanannya, rekan kerjanya itu kembali melongokkan kepala ke kubikelnya.
"Aku lupa ngasih tahu kamu. Di kantin tadi ada hot news yang bener-bener hot. No kaleng-kaleng."
"Hot news apaan? Palingan juga gosip nggak mutu," cibir Ara sebelum kemudian menyedot lemon tea-nya.
"Nyeh! Jangan kejang-kejang kamu kalo denger."
"Halah, lebay! Emang apaan?"
"Penasaran juga, kan, kamu." Mitha merasa senang. Ia menggeser kursinya agar sedikit lebih dekat dengan Ara. "FWB-nya Pak Boss hamil, dan mereka sebentar lagi nikah," bisiknya.
"FWB-nya Pak Boss yang mana? Pernah ke sini?" tanya Ara dengan wajah tanpa dosa.
Mitha mengembuskan napas panjang. Memang harus sabar memiliki teman seperti Ara yang kerjanya amat sangat lempeng sampai-sampai kalau tahu apa-apa pasti belakangan. "Pernah, beberapa kali. Masa kamu nggak liat?"
"Emang kalau liat, kerjaanku jadi selesai? Nggak, kan?"
Mitha mengusap wajahnya frustrasi. "Lupain! Sekarang yang penting nunggu undangan anak konglomerat ada di meja kita."
Konglomerat?
Ara tersenyum masam mendengar kata itu. Sebuah kata yang mengingatkannya pada sosok laki-laki yang masih mengisi hatinya, meski beberapa tahun sudah berlalu.
"Oy!"
Ara terhenyak karena tepukan di bahunya.
__ADS_1
"Kok ngalamun? Jangan bilang kamu naksir Pak Aldo, terus setelah denger dia mau nikah kamu langsung galau, ya?"
"Ngaco!" Ara dengan cepat mengelak. "Udah sana balik kerja, hus, hus." Ia mengibaskan-ngibaskan tangannya, menyuruh Mitha kembali fokus pada layar komputer di kubikel perempuan berambut ikal itu.
Pukul setengah lima sore, Ara belum juga menyelesaikan pekerjaannya. Sedikit ketar-ketir ia melihat kanan kirinya sudah tak ada orang.
"Belum selesai?"
Ara hampir saja berteriak jika tidak dengan cepat menyadari jika yang bertanya adalah Ruli, kepala divisinya.
"Belum, Pak."
"Lanjutin besok aja."
"Eh?" Bola mata Ara sedikit melebar. "Beneran, Pak?"
"Iya. Nggak tega saya liat kamu udah kusut begitu," kata Ruli diiringi kekehan.
Ara hanya menipiskan bibir. Seburuk itukah penampilannya saat ini?
"Makasih, Pak. Kalau begitu sekarang saya siap-siap pulang."
Ruli hanya mengangguk sekilas, lalu pergi begitu saja.
Ara tidak langsung pulang ke rumahnya, melainkan mampir ke sebuah toko bayi untuk membeli beberapa baju, sepatu, dan beberapa pernak-pernik untuk bayi perempuan. Bukan! Dia membeli itu bukan untuk anaknya mengingat dirinya masih saja jomlo. Dia membeli itu semua untuk anak Keyla yang baru berumur satu minggu.
"Nak Ara, mari masuk. Keyla udah nggak sabar ketemu kamu."
Ara menyunggingkan senyum, lalu mengikuti ibu dari sahabatnya. Sejenak ia mematung di ambang pintu melihat Keyla ternyata sedang menidurkan anaknya. Barulah saat Keyla menaruh putrinya di box bayi, Ara mulai melangkah masuk. "Key ...," panggilnya pelan.
Keyla menoleh. Senyum mengembang langsung tercipta begitu melihat siapa yang datang. "Ra ...."
Mereka berpelukan. Walaupun rumah keduanya tidak terlalu jauh, tapi kesibukan Ara membuat mereka jarang bertemu.
"Selamat, ya, Key. Nggak nyangka sahabatku udah jadi ibu," ucap Ara seraya melepaskan pelukannya. Setelahnya ia memberikan sebuah paper bag berisikan pakaian bayi yang tadi dibeli. "Buat anak kamu. Buat ibunya nyusul, ya," lanjutnya sambil menghampiri tempat di mana kini seorang bayi perempuan dengan bandana merah muda tengah tertidur lelap.
"Repot-repot amat, sih, Ra. Kamu ke sini aja aku udah senang." Keyla jadi terharu.
"Nggak repot, kok. Punya keponakan cantik begini masa nggak dibeliin apa-apa." Ara tersenyum tipis menatap makhluk tak berdosa di depannya.
"Mau gendong?" Keyla menawari.
"Aku dari kantor, Key. Kotor, banyak kumannya, tapi ... kalau nggak dari kantor juga kayaknya aku nggak berani. Masih kecil banget."
Keyla tertawa lirih. "Nanti kalau punya anak sendiri pasti nggak takut."
__ADS_1
"Anak, anak! Jodoh aja belum nemu."
"Belum nemu apa masih berharap yang dulu." Mata Keyla tampak menggoda.
"Berharap sama yang pasti-pasti aja, Key." Ara sama sekali tak terpengaruh. Ia justru menjawab dengan raut serius.
Keyla mengangguk paham. "Ya, semoga aja kamu secepatnya dipertemukan sama laki-laki yang jadi jodohmu.
"Aminin aja, deh. Biar kenyataan tak seindah angan." Ara terkikik. "By the way, namanya siapa, Key? Ngobrol dari tadi malah lupa nanyain nama."
"Ishana. Ishana Divya Maheswari."
"Ouh, Ishana. Kupikir namanya Hayla. Haris dan Keyla." Ara menyebutkan nama suami sahabatnya, lalu menutup mulut agar tawanya tidak meledak di ruangan itu.
"Asem kamu, Ra." Keyla menepuk pelan lengan sahabatnya.
"Yeah, zaman sekarang, kan, lagi tenar yang begituan."
"Kamu aja nanti yang kayak begitu."
"Og—"
"Key," Bu Yuli yang kembali muncul memotong ucapan Ara, "Ara-nya diajak makan dulu, yuk. Udah Ibu siapin, tuh, di meja makan. Biar Ishana, Ibu yang jaga."
"Ibu, kok, repot-repot, sih. Aku, kan, udah biasa main ke sini," ucap Ara.
"Nggak setiap hari juga, kan, kamu ke sininya. Udah, Key, sana diajak."
"Siap, Bu."
Tanpa permisi, Keyla pun langsung menyeret Ara keluar dari kamarnya.
"Pelan, Key. Jahitan belum kering kali. Kamu yang jalan. Aku yang nyut-nyutan." Ara meringis, sedangkan Keyla malah tertawa.
.
.
.
Ishana\= kaya
Divya\= kekuatan Tuhan
Maheswari\= bidadari
__ADS_1
Yeah, siapa tahu kan ada yang lagi cari nama anak 🤣🤣🤣