
Congratulations
And celebrations
When I tell everyone that you're in love with me
Congratulations
And jubilations
I want the world to know I'm happy as can be
Lagu bertajuk kemenangan itu menyambut Ara begitu membuka pintu mobil kekasihnya. Darma menyodorkan sebuket bunga mawar kepadanya sebagai ucapan selamat karena telah dinyatakan lolos ujian masuk perguruan tinggi.
Ara menerima dengan senyum malu-malu. "Thanks."
"Peluk sini." Darma merentangkan tangan.
Ara menghambur antusias. Pelukan itu tidak lama sebab mereka masih berada di halaman rumahnya.
Namun, Darma yang jahil dengan cepat mengecup sekilas bibir Ara.
"Mas, nanti ada yang lihat."
"Nggak ada, udah aku pastiin aman." Darma mengedipkan sebelah matanya, nakal.
Mobil perlahan melaju meninggalkan keramaian Kota Solo, menuju Tawangmangu. Ara tersenyum senang. Sudah lama sekali tidak ke tempat itu. Terakhir ia pergi bersama Keyla saat sahabatnya itu berulang tahun.
"Oh, ya, di belakang ada cokelat kalau kamu laper."
Ara menggeleng. "Udah sarapan tadi. Mas Darma pasti yang belum."
Lelaki berkaus putih kedodoran itu hanya menyengir. "Ambil, dong, cokelatnya terus suapin aku. Laperrr ...."
"Manja!" Ara mendengkus. Ia ambil kotak di jok belakang dengan cukup sulit, membukanya kemudian menyuapkannya pada Darma.
Darma manggut-manggut. "Enak. Cobain, deh. Itu kemaren dikasih temen," ujarnya setelah menghabiskan lebih dari sepuluh buah cokelat.
"Cewek?" Ara menghentikan tangannya yang hendak membuka bungkus cokelat untuk yang kesekian kalinya.
"Cowok, Sayang. Namanya aja Tio." Darma terkekeh karena wajah Ara yang lucu saat cemburu. "Temen SMP dulu, tapi dia udah pindah ke Jakarta."
"Oohh ...." Bibir Ara membulat. Detik berikutnya, gadis itu celingukan tatkala Darma secara tiba-tiba membelokkan mobilnya.
Darma turun lebih dulu, lalu membukakan pintu bagian penumpang, meminta Ara untuk ikut turun.
"Ini tempat siapa? Ngapain kita ke sini?" tanya Ara sedikit deg-degan.
"Ini vila keluargaku. Mobilnya taruh sini aja. Kita turun ke bawah jalan kaki. Aku pengen makan sate landak."
"Haish! Suka?" Ara bergidik mual.
"Biasa aja, sih. Cuma lagi pengen aja."
__ADS_1
"Aku sate ayam aja. Ada, 'kan?
Darma mengangguk. "Pake jaketnya biar nggak dingin."
"Pakein."
"Manja." Darma mencubit hidung Ara. Gadis itu mengaduh kesakitan yang sama sekali tak digubris oleh pacarnya.
Lengan Darma merangkul bahu Ara. Tubuh mereka benar-benar rapat saat menuruni jalanan. Namun, semesta yang sepertinya cemburu mendadak menurunkan hujan deras. Ya, cuaca di daerah itu memang sulit diprediksi. Dengan tangan tertaut, Darma mengajak Ara berlari kembali ke vila karena tempat itu jauh lebih dekat daripada warung sate yang hendak mereka tuju.
Baju keduanya basah kuyup sesampainya di vila. Sari dan Yanto—orang yang memang dipekerjakan di situ—langsung menghampiri.
"Mas Darma, kapan ke sini?" tanya Yanto.
"Barusan, Pak. Mau makan sate, tapi malah kehujanan."
"Saya siapin baju ganti, ya, buat Mas Darma sama ...." Ucapan Sari menggantung melihat Ara.
"Ara. Pacar saya, Mbak." Darma memberitahu.
Sari mengangguk. Dia dan Ara sama-sama menyunggingkan senyum perkenalan mereka.
"Kamu pakai baju Silvia dulu, ya. Biar ini dikeringin sama Mbak Sari." Darma menoleh ke Ara, menunjuk jaket pacarnya dengan telunjuk.
"Nggak apa-apa?" Keraguan tampak jelas di wajah Ara.
"Nggak, lah!" Darma meyakinkan. "Mbak, siapin baju, terus beliin sate landak sama sate ayam, ya." Ia kembali menoleh pada Sari, lalu mengeluarkan dompet dan memberikan sejumlah uang.
Ara mengekor di belakang Sari menuju kamar yang letaknya di tengah, sedangkan Darma menuju kamar sebelahnya.
"Mbak Ara pilih aja mau yang mana. Bajunya Mbak Silvia emang gini. Seksi-seksi."
Ara mengedarkan pandangan ke seluruh isi lemari. Pilihannya jatuh pada kaus oversize dan celana pendek di atas lutut. "Yang ini aja, Mbak. Mbak Sari pergi aja biar nanti saya keringin bajunya sendiri."
"Duh, jangan gitu, Mbak. Nanti Mas Darma marah." Sari menolak secara halus.
"Enggak apa-apa. Biar nanti saya yang bilang. Ayo, Mbak. Saya mau ganti baju, lhoh." Ara sedikit memaksa. Dia tidak nyaman dilayani seperti ini karena terbiasa melakukan apa-apa sendiri.
Dengan perasaan gamang, Sari akhirnya keluar. Ara segera melepas jaket, kaus, dan celana yang dipakai. Untung saja pakaian dalamnya tidak ikut basah.
Usai berganti pakaian milik Silvia, Ara yang mendadak tubuhnya menggigil langsung meraih selimut dan bergelung di dalamnya layaknya kepompong.
Gadis itu menoleh saat pintu kamarnya diketuk. Karena berpikir itu Sari yang belum jadi pergi, dia menyahut, "Masuk."
Mata Ara membeliak melihat yang masuk adalah Darma. Kekhawatiran tak terelakkan dari wajah lelaki itu. "Ra, kamu sakit?"
Ara menggeleng. Dia tidak sakit, hanya saja tubuhnya tidak tahan dingin. Namun, sial! Ketika dia menggeleng, tiba-tiba hidungnya malah bersin.
"Tuh, kan!" Darma ikut naik ke ranjang dan langsung memeluk Ara. Beruntung pintu kamar langsung ia tutup tadi. "Gini enakkan?" Ia mengeratkan pelukannya.
Ara tersenyum tipis dan mengangguk.
Lama mereka berada di posisi itu karena hangat yang mereka ciptakan sendiri terasa begitu nyaman.
__ADS_1
Bibir Ara menganga, terkejut ketika Darma membaringkan tubuhnya. "Mas ...." Jantungnya berdebar kencang.
"Hmm ...." Lelaki itu membenahi rambut Ara yang menutupi wajah. "Selamat, ya. Kamu emang pantes diterima. Ke depannya masih ada kesulitan-kesulitan lain. Mengeluh boleh, tapi jangan menyerah," katanya menasihati.
"Makasih." Ara menyunggingkan senyum.
Darma balas tersenyum, kemudian mendekatkan wajahnya. Ia menahan tengkuk Ara, dan dengan cepat sudah berhasil mengulum bibir rasa stroberi karena lipbalm yang dibubuhkan di bibir gadis itu.
Ciuman itu merambat ke telinga, lalu turun ke leher. Sepelan mungkin Darma menyingkirkan selimut yang membungkus Ara, menarik bagian kerahnya untuk memberikan jejak di bahu mulus sang dara.
"Jangan melewati batas, Mas," ujar Ara saat tangan Darma mulai menelusup di balik kausnya.
Darma menjauhkan wajahnya. Napasnya terdengar memburu. Ia tatap dalam-dalam perempuan yang membuat harinya terasa lebih baik dan membahagiakan. Kecupan singkat ia torehkan di kening Ara. Berangsur-angsur deru napas pria itu kembali normal, kemudian berkata, "Aku aja boleh nggak, sih, yang biayain kuliah kamu?"
"Ngaco! Nggak mungkinlah. Kenapa emang?" Ara menyingkirkan lengan Darma dari pinggangnya, berat.
"Aku beneran sayang sama kamu. Cinta yang beneran cinta, bukan cuma nafsu. Kalau aku yang biayain, nanti begitu kamu kelar skripsi, kan, kita bisa langsung nikah tanpa ada acara nggak enak segala. Nggak ada tetangga kamu yang nyinyir gara-gara lulus kuliah bukannya cari kerjaan yang bagus, malah nikah."
"Bapak nggak bakalan mau." Ara tahu betul sifat orang tuanya.
"Ya, udah. Biar Gusti aja yang nanti aku biayain kuliahnya. Terserah mau di Indo atau di luar negeri." Darma mencetuskan solusi.
"Iihhhh ... aku mau kalau di luar negeri. Biayain dedek, Maasss ...," kata Ara alay.
Darma tersenyum sesaat, lalu secepat kilat ekspresinya berubah datar. "Nggak! Nanti kamu genit sama cowok lain."
Bibir Ara lagi-lagi mengerucut.
Tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada, Darma kembali memagut bibir Ara. Lembut, dalam, dan menuntut.
Ara dengan sigap mendorong Darma mendengar suara piring beradu. "Mbak Sari udah balik kayaknya," ucapnya sambil mengelap bibirnya yang basah.
Sate landak pesanan Darma dan sate ayam pesanan Ara sudah ditata rapi di meja makan saat Darma tiba di ruang makan, lalu disusul Ara lima menit kemudian.
"Itu tempat apa, Mas?"
Pandangan Darma mengikuti arah pandang Ara yang tertuju ke halaman belakang vila. "Tempat buat main skateboard. Mau lihat aku main?"
"Bisa?"
"Bisa, dong. Bentar aku ambil skateboard-nya di mobil." Darma beranjak yang langsung diikuti oleh Ara. Lelaki itu mengambil papan yang selalu ditaruh di bagasi mobil.
"Main di sini aja coba." Ara tak sabaran.
"Boleh." Darma menaruh skateboard-nya di jalan beraspal depan vila, kemudian meluncur.
Di tempatnya berdiri, Ara menatap penuh kekaguman. Hari ini dia mengetahui banyak hal tentang pacarnya. Selain memiliki suara merdu dan selalu berpikiran jangka panjang, ia pun dibuat menahan napas melihat betapa mahirnya Darma meliuk-liuk di atas skateboard.
.
.
Bonus yang lagi main skateboard
__ADS_1