
[Ara]
[Ini aku Elang. Ada hal yang mau aku ceritain ke kamu. Kalau boleh, bisa nggak kita ketemu?]
Pesan itu telah mengendap selama dua hari di ponsel Ara. Belum ada niatan bagi wanita berusia 28 tahun itu untuk membalasnya. Untuk apa? Pertanyaan itu menggema dalam benaknya. Setelah bertahun-tahun keduanya tak lagi bertegur sapa, gerangan apa yang membuat mantan kekasihnya meminta untuk bertemu? Ara tidak mau rumah tangganya bermasalah. Namun, mengingat bagaimana Elang sampai rela membuat akun baru demi mengiriminya pesan itu, ia sungguh dibuat penasaran.
"Mamiiii ...!" Ashila yang habis bermain di halaman belakang berlari mendekat. Membuat Ara mengerjapkan mata kaget. "Mami ngalamun, ya?" tanyanya lagi.
"Nggak. Mami cuma agak pusing." Ara beralasan.
"Kamu pusing, Ra? Hamil jangan-jangan." Tebakan itu datang dari ibu mertuanya yang baru tiba usai menemani cucunya bermain.
Ara tersenyum jenaka. "Nggak, Ma. Eh, belum, ding!"
"Belum?" Selly ikut-ikutan tersenyum.
"Lagi rencana aja," kata Ara, lalu mengalihkan perhatiannya pada Ashila.
"Ouhhhh ... lagi usaha. Pantes Darma kemarin mukanya cerah banget biarpun dicuekin." Tawa renyah Selly menjadi melihat wajah menantunya sudah merah dan dihiasi senyum malu-malu. "Nggak usah malu, lah, Ra. Ya, wajar kalau mau nambah. Ashila juga udah gede. Ya, Ashila mau adik nggak?" imbuhnya, kemudian menatap Ashila.
"Mauuu ... mau adik dali pelut Mami," jawab Ashila antusias.
Tawa Selly makin membahana. Sementara Ara pura-pura tidak mendengar. Ia memilih menyibukkan diri mengelus rambut putrinya sebelum kemudian mereka menuju dapur untuk menyantap kudapan yang sudah dibuat beberapa jam yang lalu.
"Ra, keripik rumput laut kesukaan Mama sekarang udah susah dicari," ujar Selly yang kini sedang berdiri di depan kulkas guna mengambil tiga pudding susu untuk dia, menantu, serta cucunya. Kan segar habis bermain di luar terus makan yang dingin-dingin.
"Beli online aja, Ma." Ara mengusulkan.
"Takut ketipu. Kapan hari, tuh, Papa—" Selly menghentikan ucapannya lantaran melihat orang yang hendak disalahkan baru saja turun ke lantai satu. Ya, hari ini Wira tidak ke kantor karena semalam mengeluh tidak enak badan.
"Nih, yang beli!" Selly berujar ketus begitu suaminya bergabung di meja makan. "Keripik rumput laut yang Papa beli nggak enak, 'kan? Baunya aja apek gitu, Ra."
__ADS_1
"Kan kamu sendiri yang pilih." Wira tidak mau disalahkan.
"Tapi, 'kan Papa yang nyodor-nyodorin ke Mama. Padahal awalnya Mama udah nggak mau, Ra. Tapi, Papa kayak maksa gitu."
"Nggak ada yang maksa." Lagi-lagi Wira menolak tuduhan istrinya.
Mau tidak mau Ara jadi tersenyum. "Harus lihat toko, rate, sama review-nya, Ma. Kadang 'kan ada rate bagus, tapi review nggak memuaskan."
"Jadi, harus teliti banget, ya, Ra?"
"Iya, Ma."
"Nanti bantu cariin, ya, Ra. Mama kepengen banget. Lama nggak makan itu."
"Iya, nanti aja kalau pas Shila nonton TV."
......................
"Pinter, lucu, cantik. Ashila ini Mama banget pokoknya." Selly memuji cucu serta dirinya sendiri.
Ara menyunggingkan senyum tak heran, sedangkan Wira seperti biasa hanya melirik sinis.
"Tuh, lihat, mertuamu, Ra. Nggak terima kalau Mama bilang gitu. Padahal 'kan emang fakta." Selly mencari pembelaan. "Cuma Mama juga 'kan yang dulu nebaknya benar," lanjutnya penuh kemenangan.
Masih ingat dengan taruhan Selly, Bima, dan Wira tentang jenis kelamin anak Darma dan Ara? Ya, karena hanya Selly yang menebak bahwa jenis kelamin cucunya perempuan dan itu benar. Jadilah, dia pemenangnya. Yang mana hal itu sukses membuat suami serta anak bungsunya tekor.
"Mama bener nebaknya, Ra. Kamu butuh apa nanti bilang aja. Kan Mama yang menang biar Papa sama Bima yang beliin," kata Selly beberapa jam setelah Ara melahirkan.
Ara yang saat itu masih lemas hanya bisa tersenyum
"Ashila sifatnya lebih mirip Ara. Jadi, nggak kayak kamu." Akhirnya Wira berkomentar.
__ADS_1
"Tapi, cantiknya sama 'kan, Pa?"
"Cantik Ashila. Kamu sudah keriput gitu."
Kontan saja Ara terbahak-bahak mendengarnya, sedangkan Selly sudah mengeluarkan tanduknya.
"Dikiranya Papa masih ganteng? Dikiranya di luar sana ada yang mau lagi sama Papa?" ungkap Selly murka. "Mama kalau operasi plastik ke Korea, mah, nanti ada yang mau lagi."
Wira mengulas senyum acuh tak acuh. Dibandingkan meladeni istrinya yang terkadang seperti anak kecil, ia memilih beranjak untuk duduk di samping cucunya. "Sini Opa pangku Ashila."
Yang dipangku mau-mau saja karena sibuk memperhatikan layar besar di depannya sambil mengunyah kentang goreng. Ashila tidak tahu lagu yang kini tengah diputar. Jadi, harus mendengarnya lebih dulu.
Sementara itu, perhatian Ara mendadak teralihkan mendapati ponselnya bergetar. Ada direct message yang lagi-lagi berasal dari Elang.
[Ra, maaf. Tapi, aku bener-bener nggak tahu harus minta bantuan siapa lagi, selain kamu.]
Bantuan? Untuk sesaat kening Ara berkerut. Ia lantas memutuskan untuk membalas pesan itu dengan ekspresi biasa-biasa saja agar tidak ada yang curiga.
Arasellia
[Bantuan apa?]
^^^Elang^^^
^^^[Aku nggak enak cerita di sini. Kamu bisa nggak kalau ketemu. Sebisanya kamu aja]^^^
Arasellia
[Besok sekitar jam 9-an. Sebelum aku jemput anakku pulang sekolah]
Ya, itu adalah satu-satunya jam Ara bisa keluar rumah tanpa harus mencari alasan mengingat dirinya kini berada di rumah mertuanya. Ia lantas memasukkan ponsel setelah mendapat jawaban oke dari Elang.
__ADS_1