
"HAHAHAHAHA! TERUS? TERUS?" Keyla tertawa terpingkal-pingkal di teras rumah Pak Narto mendengar cerita tentang kebodohan Ara.
"Udah, stop! Biar nggak nabrak." Ara memasang wajah cemberut. Niat hati curhat, malah ujung-ujungnya ditertawakan.
"Yaaah! Nggak asyik, deh, kamu." Keyla ikut-ikutan cemberut.
Ara menghela napas kasar. "Lagian kamu jahat banget malah ketawa sampai ngakak gitu. Nggak tau aku malunya sampe ubun-ubun."
"Hehe." Keyla menyengir kuda. "Kamu juga, sih, bisa-bisanya sifat ***** dipelihara. Inget nggak dulu kamu nemplok di sofa ruang tamu rumahku dari siang sampe sore."
"Tau sendiri sekarang cuaca dikit-dikit hujan. Kan enak, adem, disuguhin makanan enak-enak pula." Ara mendadak senyum-senyum sendiri mengingatnya.
"Tapi, kamu nggak ngiler, 'kan? Siapa tau pas kamu tidur orang tuanya Darma lewat terus lihat calon mantunya tidur sambil ngeces. Hahahahaha ...." Gelak tawa Keyla kembali memenuhi teras.
"Nggaklah!" sanggah Ara cepat.
Lagi pula bagaimana bisa orang tuanya Darma melihat dia tidur, sedangkan dia saja tidur di kamar Darma. Namun, untuk yang satu ini, Ara merahasiakannya dari Keyla. Dia tidak mau Keyla berpikiran macam-macam, meskipun Ara mengakui bahwa dirinya sedikit nakal kala itu.
"Woy!"
Nyawa Ara seperti mau lepas dari raganya karena tepukan Keyla di bahunya. "Aduh, ngagetin aja kamu, Key! Untung aku nggak ada penyakit jantung." Ia mengelus-elus dadanya.
"Nyeh! Ditanyain bukannya jawab malah senyum-senyum. Bayangin apa, hayooo?" Keyla tersenyum menggoda.
"Emang kamu tanya apa?" Membalas pertanyaan dengan pertanyaan adalah hal paling mudah untuk mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
Helaan napas kasar terdengar. Keyla meluruskan kakinya yang kesemutan, sebelum kemudian berkata, "Jadi, ini yang bikin kamu udah dua minggu nggak ketemu mas pacar?"
"Bukanlah." Lagi-lagi sebuah sanggahan terdengar.
Ara tidak bertemu bukan karena malu, melainkan karena Darma sangat sibuk bolak-balik Solo—Surabaya untuk urusan pekerjaan.
"Dia lagi sibuk banget, tapi aku juga jadi seneng, sih, soalnya belajarnya jadi lebih fokus."
"Huuu ...." Keyla menyoraki dan baru berhenti ketika ada ojek online berhenti di depan rumah Ara.
Kedua gadis itu sontak melempar pandang dan sama-sama mengedikkan bahu mengingat tidak ada yang memesan makanan.
"Permisi, Kak. Benar ini Jalan Jambu Kristal No. 12?" tanya ojek tersebut.
"Oh, sebentar, Kak." Ojek itu kembali ke motornya, lalu mengambil beberapa kantong plastik berisi makanan dan menyerahkannya pada Ara.
Ara menerimanya dengan ragu. Takut juga kalau makanan itu jebakan dan ternyata posisi rumahnya sudah dikepung polisi. Biasa efek habis nonton film action pikirannya jadi aneh-aneh.
"Ini dari siapa, ya, Kak? Soalnya saya nggak pesen."
"Pengirimnya Darmasena, Kak. Bisa dilihat di dalamnya juga ada kartu ucapannya."
"Oke. Makasih, Kak." Ara mengangguk pelan.
Keyla langsung mendekat begitu ojek tadi sudah pergi. Dari nama restoran yang ia baca di plastiknya saja sudah ketahuan kalau itu makanan mahal dan pastinya enak.
__ADS_1
"Ayo, masuk, Key. Kita lihat apa dalamnya." Ara tak kalah penasaran.
Ada bebek goreng, es buah segar, beberapa kue-kuean yang begitu menggiurkan, dan tak lupa sebuah kartu ucapan yang sama sekali tidak ada romantis-romantisnya yang meski begitu tetap Ara simpan juga kartu tersebut.
"Aku panggil bapak, ibu, sama Gusti dulu, ya, Key. Makan bareng-bareng di sini."
Keyla hanya mengangguk.
Ara beringsut masuk. Sebelum ia menemui orang tuanya di halaman belakang rumah, gadis itu menyambar ponselnya dan menghubungi sang pujaan hati.
"Halo, makanannya udah sampe?" Suara di seberang telepon sudah mendahului sebelum Ara berucap.
"Haish! Mas kirimin makanan banyak banget." Ara merebahkan tubuhnya di kasur, menatap langit-langit kamarnya.
"Biar kamu makannya banyak. Kamu bilang juga mau traktir temen, 'kan? Minta apa katanya? PJ?" Darma terkekeh. "Ada-ada aja anak zaman sekarang."
"Huh! Iya, deh, yang udah berumur." Ara meledek.
"Ra! Jahat banget, sih, bawa-bawa umur," ujar Darma pura-pura sebal. "Oh, ya, nanti kalau aku udah pulang, kita ketemu, ya."
"Iyaaaa ... tapi aku nggak mau ke rumahmu apalagi sampe masuk kamarmu."
Darma tertawa di ujung sana. "Bilang nggak mau, tapi waktu dicium dibales. Nakal ternyata kamu."
"Maaasss ...." Ara mendadak uring-uringan, malu lebih tepatnya. Entah apa yang merasukinya waktu itu sehingga dengan berani ia balas mengul*um bibir lelaki itu. "Udah, ah. Aku mau makan dulu. Bye bye." Ia mematikan sambungannya begitu saja. Tak peduli dengan ocehan Darma yang terus membahas ciuman perdana mereka.
__ADS_1