Will Never Let You Go

Will Never Let You Go
Diabaikan


__ADS_3

Ara baru selesai menyeduh teh ketika Darma menyusulnya ke dapur. Bibir wanita itu yang menyunggingkan senyum dalam sekejap hilang kala mendengar sebuah tanya dari suaminya.


"Kamu ketemu sama mantan pacar kamu?"


Napas Ara tercekat. Lidahnya makin kelu untuk menjawab melihat Darma menunjukkan isi percakapannya dengan Elang beberapa waktu lalu.


"Jadi, bener kamu ketemu dia?" Darma mengulang pertanyaannya dengan penuh penekanan.


"Aku bisa jelasin, Mas. Dia hubungin aku karena minta bantuan."


"Aku nggak tanya itu!" sentak Darma. "Aku tanya, kamu ketemu dia? Jawab! Iya atau tidak?"


Sembari mengepalkan tangannya yang gemetar, Ara mengangguk perlahan. "Iya," katanya dengan raut yang sarat akan penyesalan.


Darma mengangguk beberapa kali sebelum kemudian menaruh ponsel istrinya di meja bar, lalu berbalik badan.


"Mas, kamu mau ke mana?" Cepat Ara menyusul langkah panjang Darma.


Aksi itu tak luput dari Bi Marni yang masih sibuk membersihkan meja makan dan pengasuh Ashila yang hendak mengambilkan minum untuk majikan kecilnya.


"Lepas, Ra!" Darma mengempaskan tangan Ara yang menahan lengannya saat hendak masuk ke mobil.


"Kamu mau ke mana, Mas?"


"Pergi! Ngapain juga di sini! Harusnya kamu seneng, dong, kalau aku nggak di rumah." Darma berujar dengan senyuman sinis.


"Aku nggak seneng! Kata siapa aku seneng?"

__ADS_1


Darma berdecak pelan. "Terserah kamu mau bilang apa! Aku nggak peduli!" serunya seraya membuka pintu mobil. Beruntung sekali tadi Darma melihat kunci mobilnya di meja saat menuju dapur. Jadi, langsung saja ia kantongi.


"Mas ...." Sekali lagi Ara berusaha menahan lengan suaminya. "Please, dengerin penjelasan aku dulu. Aku mau ketemu karena dia bilang butuh bantuan dan nggak tahu mau minta tolong ke siapa lagi."


"Kamu ketemu mantan kamu, tanpa bilang aku. Kamu tahu? Kamu kayak gitu namanya selingkuh tahu nggak!" Darma menatap tajam Ara. Tak acuh dengan raut wajah istrinya yang sudah menunjukkan raut memelas, lelaki itu lanjut mengatakan, "Jangan-jangan setiap aku pergi ke luar kota kamu selalu ketemu sama dia lagi."


"Aku nggak kayak gitu!" Ara melakukan pembelaan.


"Tapi, kenyataannya kamu kayak gitu! Laki-laki itu juga 'kan yang sempet kamu lirik waktu kita ke rumah sakit!" Nada bicara Darma makin meninggi.


Mata Ara membeliak mengetahui Darma juga melihat Elang kala itu. Walaupun ucapan suaminya tak seutuhnya benar, kini Ara menyadari bahwa apa dilakukannya memang salah. Dia terlalu meremehkan pertemuannya dengan Elang, tanpa berpikir kalau hal sekecil itu bisa memantik api pertengkaran dengan suaminya.


"Maaf, aku ngaku salah. Tapi, aku ketemu dia cuma sekali. Sebelum-sebelumnya nggak pernah. Maaf, Mas." Ara dengan cepat menghapus air mata yang baru saja jatuh. Bersamaan dengan itu, Darma yang masih terbakar luapan api cemburu juga emosi bergegas masuk ke mobil.


"Mas!" Ara ingin mencegahnya, tapi Ashila yang sudah di ambang pintu dan memanggilnya membuatnya dengan berat hati harus melihat mobil suaminya perlahan meninggalkan rumah.


"Mami, Papi mau ke mana?" tanya bocah itu polos.


"Iya, banyak nyamuk, ya, Mami. Nanti kamal Shila disempot dulu, ya, kalau mau bobo."


"Iya, Sayang," jawab Ara yang kini berjalan memasuki rumah sambil menggandeng tangan Ashila.


......................


Entah berapa lama Ara menunggu Darma pulang semalam, tapi saat ia membuka mata, tubuhnya masih berada di sofa kamar. Ia mematikan alarm ponsel yang membangunkannya, lalu menengok ke arah ranjang. Tempat itu masih rapi. Yang artinya, Darma tidak tidur di sana. Apa laki-laki itu tidak pulang? Ara segera mengecek ponselnya. Puluhan pesan yang ia kirim masih centang satu. Darma masih menonaktifkan ponselnya. Ara makin gelisah, tapi harus ia urungkan perasaan itu karena saat ini yang harus dilakukan adalah mengecek apakah Ashila sudah bangun atau belum.


Setibanya di depan kamar putrinya, kening wanita itu mengernyit melihat Mbak Sus berdiri di depan pintu. "Mbak, kok, cuma berdiri aja, nggak masuk?"

__ADS_1


Mbak Sus terkesiap. Merasa bingung, pengasuh Ashila itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Anu, Bu ... itu tadi saya coba masuk, tapi ternyata Bapak di dalam."


"Mas Darma tidur di kamarnya Ashila?" batin Ara bertanya.


Menyadari Mbak Sus masih dengan setia menatapnya, Ara mengerjap-ngerjapkan mata. "Ya, sudah biar saya aja. Mbak Sus siapin bekal sekolahnya Shila, ya?"


"Baik, Bu."


Begitu pengasuh putrinya mulai menuruni tangga, perlahan tangan Ara meraih knop pintu. Di dalam sana jantungnya berdebar tak karuan. Namun, ketika pintu sudah terbuka sempurna, gelak tawa Ashila menyambutnya. Anak itu sudah bangun dan kini sedang bermain dengan ayahnya.


Bertepatan dengan Ara yang berjalan ke sisi ranjang di mana Ashila berada, Darma menyudahi permainannya dengan sang putri. Laki-laki itu lantas mengalihkan perhatiannya ke ponsel.


Tunggu! Ponsel Darma menyala? Kening Ara sedikit berkerut. Mungkinkah Darma memblokir nomornya? Pikiran wanita yang saat ini sudah berada di kamar mandi bersama putrinya tambah berkecamuk. Dan pikiran Ara makin tak karuan saat ia mengambil seragam Ashila di lemari terdapat beberapa baju Darma di dalamnya.


Ingin rasanya Ara mengajak suaminya berbicara, tapi mengingat Ashila masih ada di tengah mereka membuat ia harus menundanya.


"Ashila, Papi anter ke sekolah mau nggak?" tanya Darma saat sarapannya tinggal sedikit.


Ara yang sedari tadi hanya memainkan makanan di depannya, tanpa ada keinginan untuk menyantapnya sontak mengangkat wajah.


"Mauuuu," jawab Ashila antusias. Tentu saja bocah itu tak menolak. Kapan lagi ayahnya bisa mengantarnya. Mungkin bulan depan atau depannya lagi atau parahnya nanti saat ia mau masuk sekolah dasar.


"Oke, karena Ashila udah selesai sarapan. Yuk, tasnya digendong terus kita berangkat sekarang." Darma bangkit berdiri, kemudian menggendong Ashila yang langsung menuruti perintahnya. Ara menatap dalam diam suami dan anaknya yang perlahan hilang dari pandangannya.


"Non, mau Bibi bikinin sarapan yang lain?"


Ara terhenyak melihat Bi Marni telah berdiri di sebelahnya. "Ng-nggak usah, Bi. Nanti kalau laper, biar saya bikin sendiri aja."

__ADS_1


Bi Marni mengangguk. "Sabar, ya, Non."


Ara menyunggingkan senyum, meski tak dapat ia berbohong kala merasakan matanya sudah berkaca-kaca. "Iya. Makasih, Bi," jawabnya parau, lalu meninggalkan meja makan."


__ADS_2