
"Mbak, kamu beneran dateng ke nikahannya Mas Elang?" tanya Gusti di ambang pintu kamar kakaknya.
Mengurungkan tangannya yang hendak membubuhkan lipcream ke bibir, Ara menoleh dengan raut datar. "Jadi. Disuruh dateng sama bapak sama ibu. Kamu mau ikut nggak?"
"Enggak."
"Bener? Daripada di rumah. Lagi bokek, kan, kamu. Nggak bisa main."
Embusan napas kasar terdengar. Gusti tampak menimang sebelum akhirnya mengiakan. "Boleh, deh. Ganti baju bentar, ya."
"Dress code-nya batik." Ara memberitahu.
Tak berselang lama, Gusti sudah tampil menawan dengan kemeja batik lengan panjang. Kumis tipisnya yang tidak dicukur membuat remaja itu terlihat jauh lebih dewasa dibanding Ara.
Ara sendiri tampil memesona dengan celana dan blouse warna putih dengan outer batik sebagai luarannya.
Setelahnya, kakak beradik itu berangkat menuju gedung yang menjadi tempat resepsi pernikahan Ajeng dan Elang dengan menaiki motor Gusti.
Suara gamelan terdengar sesampainya mereka di tempat yang dituju.
"Mau foto dulu nggak?" tanya Ara saat mereka melewati spot foto yang terdapat di depan gedung.
"Iya, dong." Gusti terlihat antusias.
Ara menatap adiknya sinis. "Biar nanti aku dikira pacarmu, kan?"
Tawa tertahan tergambar jelas di raut wajah Gusti sebelum ia mengambil potret dirinya dan sang kakak. Gusti memang suka iseng mengatakan bahwa Ara adalah pacarnya ke teman-teman sekolahnya yang belum tahu kalau Ara itu kakaknya.
Karena hal itu, Ara jadi sebal lantaran ada beberapa teman perempuan adiknya yang notabenenya naksir Gusti berkata tidak senonoh padanya melaui direct message akun media sosialnya.
Ara memilih duduk di kursi yang letaknya di belakang. Yang mau tidak mau juga diikuti oleh Gusti. Dia dan adiknya berdiri saat pria dan wanita yang malam ini tampil memukau dengan busana adat basahan berjalan menuju singgasana pengantin.
"Nggak update IG story?" bisik Gusti melihat hampir semua orang mengarahkan kamera ponselnya pada raja dan ratu semalam itu.
"Nggak penting."
Gusti terkikik. Tak cukup sampai di situ, hampir di seluruh rangkaian acara dia menanyakan hal tak penting yang berujung Ara kesal dan memukul wajahnya dengan tas. Dia baru benar-benar berhenti mengoceh saat satu per satu makanan mulai dihidangkan.
"Pantes rese. Laper, toh," sindir Ara disusul senyuman miring.
"Berisik! Cepetan makannya abis itu pulang," tukas Gusti.
__ADS_1
"SMP banget, nih! Setelah makan pulang."
"Lhah, biarin! Kalo nggak pulang emang mau ngapain? Nganterin pengantennya masuk kamar terus ditungguin sampe pagi?" cetus Gusti kontan membuat orang yang duduk di sampingnya menoleh.
"Mulutnya dijaga!" bisik Ara penuh penekanan.
Untuk kesekian kalinya Gusti terkikik di tempat yang ramai itu. Entahlah, adu mulut dengan kakak perempuannya yang sampai saat ini betah menjomlo memang memiliki kesenangan tersendiri.
Usai menunggu berpuluh-puluh menit lamanya, tibalah saatnya Ara dan Gusti mengucapkan selamat kepada sang pengantin.
"Woah, lihat siapa yang datang?" Nada tak sedap didengar keluar dari mulut ibu mempelai laki-laki yang tidak lain tidak bukan adalah Bu Rini.
Ara jadi ragu menyalami wanita berkebaya itu setelah barusan menyalami Pak Pras—ayah Elang.
"Setelah kamu diputusin sama bosnya Elang yang kaya raya itu, sekarang kamu mau deketin Elang lagi? Nggak tahu malu, ya, kamu deketin laki-laki yang baru aja sah jadi suami orang," ujar Bu Rini dengan senyuman sinis tersungging di bibirnya yang dipoles lipstik warna merah hati.
"Saya nggak pernah punya pikiran kayak gitu. Bu Rini berpikiran terlalu jauh." Ara membela diri di tengah tatapan orang-orang yang kini memusatkan perhatian padanya.
"Omong kosong! Dulu kamu pasti merasa di atas angin, kan, bisa dapetin laki-laki yang tajir melintir. Tapi nyatanya, sekarang kamu ditinggalin. Tahu karena apa? Karena perempuan seperti kamu itu nggak pantes buat dapetin laki-laki yang mentereng. Kamu pantesnya, ya—"
"CUKUP, YA, BU RINI!" sentak Gusti, lalu menarik kakaknya sehingga kini dirinya yang berhadapan dengan Bu Rini. "Bu Rini nggak usah ngomong aneh-aneh ke kakak saya. Mbak Ara itu baik. Jadi, nggak perlu Ibu menghakimi dia dengan ngasih tahu mana yang pantes mana yang enggak!"
"Sopan, ya, kamu ngomong sama orang tua. Nggak diajarin sama orang tua kamu?" Bu Rini jadi geram.
Suasana menjadi tak kondusif. Walaupun demikian, dua pasang mata milik remaja dan wanita tengah baya itu tak jua gentar melayangkan tatapan permusuhan.
"Asal Bu Rini tahu, ya," ucap Gusti lagi, "Mbak Ara nggak bakalan dateng ke sini kalau Mas Elang nggak ngundang dia. Dan lagi, kalau tahu ujung-ujungnya akan seperti ini, saya juga malas buat nemenin kakak saya datang ke acara di mana orang yang punya gawe aja nggak bisa menghargai tamunya. Buang-buang waktu!"
"Gus ...." Ara menatap cemas adiknya.
Gusti menoleh, balas menatap Ara dengan aura kemarahan yang masih terpatri jelas di wajahnya.
Suasana benar-benar riuh tatkala tamu undangan mulai berbisik-bisik. Ara jadi tak enak hati karena sudah mengacaukan pesta pernikahan Elang dan Ajeng. Ia meraih lengan adiknya, memberi kode untuk segera pergi dari tempat itu. "Kita pulang," katanya, kemudian menatap Elang. "Mas, aku pamit dulu. Maaf untuk semuanya."
Tanpa menunggu respons Elang, Ara sudah menyeret adiknya keluar gedung. Dia berjalan sangat cepat sampai kakinya lecet karena stiletto yang ia kenakan.
Gusti menyerahkan helm pada Ara dalam diam. Begitu pula dengan Ara yang mengatupkan bibirnya rapat-rapat saat naik ke motor. Aneh memang, di tengah jalanan Kota Solo yang masih ramai, Gusti dan Ara justru merasa begitu kesepian.
"Kamu berani banget tadi." Akhirnya Ara membuka mulut.
"Jangan bilang sama bapak ibu, ya, Mbak," kata Gusti takut.
__ADS_1
"Iya. Muter-muter aja dulu, Gus." Suara Ara sedikit bergetar. Perkataan Bu Rini sukses membuatnya insecure dengan kondisinya. Bahk,an, setelah dirinya menyandang status mahasiswi.
"Kalau mau nangis, nangis aja, Mbak. Biar lega."
Mendengar itu, Ara kontan menunduk dan air mata langsung berjatuhan di balik kaca helm yang dia pakai.
Entah di mana dirimu berada
Hampa terasa hidupku tanpa dirimu
Apakah di sana kau merindukan aku
Seperti diriku yang selalu merindukanmu selalu merindukanmu
Sial! Suara pengamen yang sedang menyanyi di depan warung tenda sukses membuat Ara yang sedang berhenti di lampu merah semakin sesenggukan.
"Emang cowok yang pantes buat aku, tuh, mestinya yang kayak gimana, Gus?" tanya Ara saat motor sudah kembali melaju. Air matanya masih mengalir, meski tak sehebat tadi.
"Duh, ngomong apa, sih, Mbak?" Gusti balas bertanya dengan nada tak suka.
"Bu Rini, neneknya Mas Darma, bapak, ibu ... mereka punya pendapat yang sama."
"Pantes atau enggaknya itu tergantung Mbak Ara," ujar Gusti setengah berteriak karena bisingnya kendaraan saat ini. "Dan satu tahun udah cukup buat nangisin Mas Darma."
"Nggak ada yang nangisin dia," kilah Ara.
"Yeah, terserah mulutmu mau ngomong apa." Gusti seakan tak peduli, lalu melanjutkan ucapannya yang tertunda. "Sekarang waktunya buat meng-improve diri. Biar suatu hari nanti kalau ketemu Mas Darma kamu nggak perlu insecure lagi. Toh, kalau beneran jodoh nggak bakalan dipatok ayam."
"Itu rejeki, Dodol!" Ara menjitak helm abu-abu yang dipakai Gusti.
Yang dijitak cuma nyengir.
"Tapi ... kamu ternyata dewasa juga. Mestinya kamu lahir duluan, Gus," ungkap Ara terkagum-kagum dengan ucapan adiknya yang sedikit memberinya semangat. Iya, hanya sedikit seperti kalau orang memasukkan micin ke sayur sop.
"Ogah! Kalau aku lahir duluan, aku nggak mau punya adik. Apalagi adiknya modelan Mbak Ara."
"Dasar adik semprul kamu!" Menyesal Ara memberikan pujian kepada satu-satunya saudara yang dia miliki. Adiknya memang kampret, tapi jauh di dalam hatinya Ara bersyukur memiliki Gusti di hidupnya.
.
.
__ADS_1
.
LIKE DAN KOMEN DONG BIAR SEMANGAT!!!!