Will Never Let You Go

Will Never Let You Go
Kapan?


__ADS_3

Diiringi siulan merdu dari mulutnya, Darma memasuki rumah dengan wajah sumringah sembari menenteng sebuah paper bag berisi brownies buatan sang kekasih. Langkahnya seketika terhenti saat sang ibu memanggilnya. Kening lelaki itu mengernyit heran, tumben sekali keluarganya dalam formasi lengkap. Duduk bersama di sofa pula.


"Apa, Ma?" tanyanya begitu sudah dekat.


"Ara nggak diajak ke sini lagi?"


Darma mengembuskan napas pelan. "Ara sibuk, Ma. Bentar lagi 'kan ujian. Jangan ganggu dia, please. Aku nggak mau dia jadi nggak fokus gara-gara mikir yang enggak-enggak," ucapnya memohon.


Tadi sebelum pulang, Ara memang bercerita kepada Darma kalau Selly sering mengiriminya pesan, meminta untuk datang ke rumah. Namun, Ara yang saat ini lebih memprioritaskan belajarnya, yang mana dirinya juga jadi sering mengabaikan Darma membuat gadis itu sangat tidak enak hati, sebab seperti mengumbar janji. Dan sebagai permohonan maafnya, Ara memberikan brownies yang kini mulai dinikmati oleh orang tua serta adik-adik Darma.


"Enak, Dar. Kapan-kapan Mama mau minta ajarin, ah," ungkap Selly membuat wanita itu kembali mendapat tatapan tidak suka dari putra sulungnya.


"Abis Ara ujian, kok." Selly melengos. "Jangan galak-galak gitu, dong, Dar, sama mama sendiri. Silvia juga 'kan mau ketemu. Ya 'kan, Sil?"


"Iya, Mas. Penasaran aku sama pilihannya Mas Darma. Katanya mama kalem, ya?" tanya Silvia.

__ADS_1


"Kalem, lembut, malu-malu .... Aduh, gemes, deh pokoknya. Kayak berlawanan banget sama Darma, tapi anehnya bisa cocok," ungkap Selly bahagia.


Wira yang sedari tadi menyimak menoleh ke arah Darma dan tersenyum. "Ajak ke sini pas ulang tahun mama, Dar."


Mereka yang ada di situ kontan terkejut. Ya, pasalnya di antara banyaknya perempuan yang pernah dekat dengan Darma, baru kali ini Wira mengundang kekasih dari putranya untuk kembali datang ke rumah. Biasanya pria itu bersikap tak acuh atau kejamnya jika dirinya merasa sangat tidak cocok, Wira langsung geleng-geleng kepala, tanda tidak setuju dengan perempuan yang dibawa oleh Darma.


"Iya, Pa. Tapi, emangnya Mama mau rayain ulang tahun di rumah? Nggak di restoran atau hotel kayak biasanya?"


"Nggak. Rencananya nanti Mama juga mau undang anak-anak panti. Udah lama juga 'kan kita nggak berbagi sama mereka." Selly tersenyum tipis. Tidak sabar menunggu hari ulang tahunnya tiba.


"Mama kayaknya sadar, Mas, kalau udah tua, makanya mulai banyak-banyak sedekah," kelakar Silvia.


"Kalian ini nggak ada sopan-sopannya sama orang tua. Minta maaf nggak?"


"Iya, maaf. Bercanda, lhoh, mamaku yang paling cantik dan baik hati se-Solo Raya." Silvia mendekati sang ibu, lalu bermanja-manja ria.

__ADS_1


Sementara Bima hanya berucap singkat, padat, dan jelas. "Iya, maaf."


"Bima nggak mau peluk mama?"


"Hmm ...." Remaja itu ikut mendekat. "Aku peluk Mama, tapi uang jajan tambahin, ya," bisiknya masih bisa didengar oleh semua orang.


Gelak tawa sontak memenuhi ruangan tersebut. Terlebih saat sebuah tepukan keras mendarat mulus di bokong Bima.


"Nggak boleh gitu lagi, lho, ya, sama Mama. Mama itu cuma pengen umur panjang biar bisa lihat anak-anak Mama menikah dan Mama punya cucu." Selly mencurahkan isi hatinya.


"Ehm! Mama lagi ngode Mas Darma, ya?" Silvia melirik kakaknya. Yang dilirik hanya senyam-senyum tidak jelas.


"Emang mau kapan, Dar?" celetuk Wira kontan menimbulkan sorak-sorai dari putra-putrinya.


Selly tidak bisa menyembunyikan binar kebahagiaan di wajahnya. "Iya, kapan? Kuliah 'kan boleh nikah." Ia mengedipkan sebelah matanya.

__ADS_1


"Pa, Ma, aku emang serius sama Ara, tapi kalau ngomongin nikah kayaknya nanti-nanti dulu, deh. Soalnya dia lagi fokus ke pendidikan. Kita pacaran juga baru sebentar." Darma menerangkan.


Dan detik berikutnya, helaan napas serta ungkapan kekecewaan terdengar jelas. Namun, Darma tak peduli. Semua butuh proses, dan menikah adalah sesuatu yang hanya akan ia lakukan sekali seumur hidup.


__ADS_2