Will Never Let You Go

Will Never Let You Go
Bioskop


__ADS_3

"Nih, tiketnya." Darma menyerahkan dua tiket yang baru saja ia terima kepada Ara.


Ara terkesiap. Dengan kesadaran yang belum sepenuhnya kembali, ia menerima kertas kecil tersebut. Bola matanya seketika membulat sempurna saat tiba-tiba saja Darma menggandeng tangannya menyingkir dari tempat keduanya berdiri.


"Eh?"


"Sorry, tapi aku liat kamu kayak masih shock gitu. Jadi, aku tarik kamu sebelum orang di belakang kita marah-marah."


Ara hanya mengangguk kecil karena pikirannya masih tertuju pada laki-laki di depannya. Meskipun Kota Solo kecil, tapi penduduknya yang mencapai lebih dari lima ratus ribu jiwa membuatnya masih tidak percaya akan dipertemukan kembali dengan seseorang yang hampir ia manfaatkan. Selain itu, Ara juga jadi mengingat hal yang selama ini ia percayai.


Mungkin nggak, sih, ini salah satu kebaikan tidak terduga itu? Tapi, kenapa harus datang dari orang yang pernah aku palak? Secara terang-terangan pula! Mati aja, Ra!


"Masih mikirin dompet?" tanya Darma.


Lagi-lagi gadis itu terkesiap. "Nggak. Dompetku nggak hilang, tapi aku lupa kalau dititipin sama temen." Ya, Ara sudah mengingat dompetnya. Ia memberikan benda berisi uang itu kepada Keyla kala sahabatnya mengisi bahan bakar di pom bensin.


Giliran Darma yang mengangguk. Sesaat kemudian, suasana menjadi canggung. Keduanya hanya menatap orang-orang yang berlalu-lalang tanpa ada keinginan untuk kembali mengobrol.


Dalam hatinya, Ara berharap Keyla segera datang. Sifat Keyla yang mudah bergaul tentu saja dapat mencairkan keadaan antara dirinya dan Darma. Melirik arlojinya, kening Ara sedikit mengernyit menyadari Keyla yang sudah terlalu lama pergi ke toilet.


Seperti peribahasa pucuk dicinta ulam pun tiba. Itulah yang terjadi pada Ara. Saat gadis itu memikirkan Keyla, detik berikutnya ponselnya mendapat panggilan masuk dari sang sahabat.

__ADS_1


"Halo, Key! Kamu di mana?"


"Maaf banget, nih, Ra. Aku nggak jadi nonton. Sekarang aku udah di parkiran dan mau ke klinik." Suara Keyla terdengar panik di seberang sana.


"Lhoh, kamu kenapa, Key?" tanya Ara tak kalah panik.


"Aku nggak papa, Ra. Cuma barusan aku dapet telepon kalo ibuku keserempet motor. Aku harus cepet-cepet ke sana. Kamu tau 'kan ibuku itu penakut kalo udah berurusan sama kesehatan. Udah dulu, ya, Ra, maaf bikin kamu pulang sendirian. Nanti kalo gajian aku traktir kamu, deh. Bye, Ra."


"Iya, Key, aku nggak papa naik ojek, tapi dompetku .... Key! Key! Halo!" Ara melengos pasrah mengetahui sambungan itu telah terputus. Sisa saldo untuk membayar ojek online tidak cukup sementara dia tahu orang tuanya sedang tidak di rumah karena pergi menjenguk kakak sepupunya yang baru melahirkan. Adiknya? Jangan berharap apapun pada Gusti. Remaja itu tidak akan ada di rumah kecuali kakinya dirantai.


"Kenapa?" Darma yang sejak tadi menyimak bertanya.


"Terus kamu juga nggak jadi?"


Ara tampak bingung. Kalau dia menonton, masa iya dia hanya menonton berdua dengan Darma? Tapi, jika tidak, apa yang harus ia lakukan sekarang? Pulang jalan kaki?


"Aku nonton aja, deh. Nggak papa 'kan, ya, nonton film sendirian?" tanya Ara dengan langkah gontai berjalan memasuki studio.


"Jadi, dari tadi aku nggak dianggap, nih?" Darma balas bertanya.


"Kamu nonton sendirian?"

__ADS_1


"Iya, kenapa?"


Keduanya kini sedang berjalan menaiki tangga mencari kursi sesuai dengan nomor yang tertera di tiket masing-masing.


"Nggak papa, sih, cuma banyak orang nganggap aneh kalo ke mana-mana sendirian. Padahal kita juga nggak minta mereka buat bayarin, 'kan?"


Darma terkekeh mendengarnya. "Mau minum apa?" tanyanya yang kini dihampiri salah satu pegawai bioskop yang bertugas menawarkan menu makanan dan minuman.


"Aku enggak."


"Aku bayarin."


Ara menunduk malu. Sementara di dalam sana hatinya sedang merutuki perbuatan bar-bar yang ia lakukan saat bertemu Darma pertama kali.


"Milo dino-nya dua sama popcorn karamelnya yang besar satu, ya, Kak," ucap Darma menyebutkan pesanannya.


"Baik, ditunggu, ya, Kak." Setelahnya, pegawai itupun berlalu sebelum nanti kembali datang sambil membawakan pesanan.


Menolehkan kepalanya ke arah gadis yang masih saja betah memandang ke bawah, Darma menyeletuk, "Nggak usah malu, aku 'kan punya hutang enam ratus ribu sama kamu."


Layaknya udang kecemplung minyak panas, wajah Ara semakin merah menahan malu kala mendengarnya. Batinnya pun sontak menjerit, "TUHAN, TOLONG TENGGELAMKAN AKU SAJA SEKARANG!!!"

__ADS_1


__ADS_2