
Hari Minggu pagi yang cerah secerah wajah ibu hamil yang baru selesai melakukan yoga. Usai menggulung matras, wanita yang beberapa minggu lagi diprediksi akan melahirkan anak pertamanya itu langsung menuju ke dapur. Di sana sudah ada Bi Marni yang sedang menata bahan masakan di kulkas. Tampaknya asisten rumah tangganya itu baru pulang dari pasar.
"Bi ...," panggil Ara sukses membuat Bi Marni menjengit kaget.
"Aduh, Non Ara, Bibi jadi kaget," kata Bi Marni saat menolehkan kepala.
Ara tersenyum jenaka. "Saya bantuin sini, Bi." Ia menawarkan diri melihat barang yang mau ditata masih banyak.
"Ndak usah. Tinggal sedikit lagi juga selesai. Non Ara mau sarapan apa biar Bibi bikinin dulu?" Sesuai apa yang pernah dikatakan majikannya, Bi Marni tidak akan memasak atau membuat sesuatu jika Ara belum bilang karena keinginan wanita itu mudah berubah-ubah.
"Bibi selesein aja dulu. Saya juga lagi mikir mau makan apa," jawabnya sudah duduk di kursi bar sambil menatap layar ponsel. "Panas gini. Makan yang dingin-dingin gitu kayaknya seger, ya, Bi."
"Iya, Non. Non Ara mau jus alpukat? Bibi baru beli tadi. Ini sudah ada yang matang." Bi Marni menunjukkan alpukat mentega yang ukurannya cukup besar.
Ara berdeham. "Selain alpukat ada apa lagi, Bi? Saya pengen es buah kasih sirup sama krimer kayaknya enak, deh. Tapi, Bibi jangan bilang Mas Darma, ya. Dari bulan kemarin udah diwanti-wanti dokter jangan makan gula banyak-banyak. Takut bayinya gede."
"Kalu gitu pakai susu sama madu saja, ya, Non. Ini ada susu almond. Nanti kalau Bapak tahu bisa marah."
"Kali ini aja, Bi. Saya bosen minum kayak gitu terus. Sekali-kali 'kan boleh yang pentingβ"
"Mas Darma nggak tahu. Iya, gitu?"
Suara dari arah belakang Ara lebih dulu memotong. Perempuan itu memutar kursi yang diduduki dan napasnya seketika tertahan melihat suaminya sudah berdiri dengan jarak satu meter darinya. Ara menyengir kuda. "Mas ...."
"Hmm ...," jawab Darma sembari duduk di samping istrinya. "Bikinin oatmeal dua, Bi."
"Mas ... nggak mau itu." Ara merengek seperti bocah.
"Maunya apa? Yang kayak kamu bilang tadi? Nggak sehat, lhoh, Ra."
"Sekali aja. Kan nanti siang katanya mau belanja yang masih kurang. Jadi, butuh energi banyak."
__ADS_1
"Berkali-kali juga nggak apa-apa. Paling nanti dokter suruh kamu sesar karena bayinya 4 kilo."
"Jangan nakut-nakutin, dong." Wajah Ara sudah merah, mau menangis. Antara takut dan kesal karena keinginannya tidak terkabul. "Sekali doang, lhoh. Masa nggak boleh? Sampai sekarang juga Mas Darma masih minta izin buat sesekali ngerokok. Curang!"
"Iya, iya. Tapi, jangan banyak-banyak minumnya."
Lain dengan Ara yang kembali sumringah, Bi Marni justru menampakkan raut bingung. "Jadi, gimana, Pak? Mau es buah atau oatmeal?"
Pasangan muda di hadapannya tertawa. "Gara-gara kamu, tuh, Bi Marni jadi bingung," kata Darma.
"Mas Darma yang nyebelin." Ara tak mau disalahkan. "Es buah satu, oatmeal satu," lanjutnya.
Menjelang jam makan siang, Ara yang sehabis sarapan hanya gegoleran di depan TV sambil menonton film di Netflix lantas mendudukkan tubuhnya. "Mas, siap-siap, yuk! Udah jam sebelas. Mau makan dulu 'kan katanya?"
Darma yang tampaknya malas justru memindahkan kepalanya ke pangkuan istrinya. Ia peluk perut besar Ara, lalu ia ciumi sampai berkali-kali. "Kamu mau jalan-jalan, hm? Mau ke mana?" tanyanya dengan pandangan mengarah ke perut besar Ara.
"Mau ke mall Papi. Mau shopping sama Mami!" jawab Ara dengan menirukan suara kecil.
Calon ayah itu terkekeh. "Mau beli apa, sih, Babe? Beli online aja nggak mau emang?" tanyanya masih sibuk dengan kegiatannya menciumi perut Ara.
"Nggak mau! Kan sengaja sambil jalan-jalan."
"Capek nanti kamu." Darma mengangkat wajahnya. Lelaki itu tak salah sebab bisa dibilang kalau baru minggu ini mereka free setelah sibuk menjalani proses tujuh bulanan serta membeli perlengkapan bayi yang ternyata tidak sedikit dan hmm ... menguras kantong. Yeah, bagaimana tidak? Hampir seluruhnya merupakan brand ternama luar negeri.
"Mas, ayo, dong! Nanti keburu sore."
Diiringi embusan napas kasar Darma akhirnya berdiri. Ara sampai marah-marah karena setelahnya lelaki itu begitu lelet dalam bersiap-siap. Ini adalah salah satu fakta yang baru diketahui setelah keduanya menikah. Darma itu lama kalau dandan!
Tiga puluh menit kemudian, Ara dan Darma sudah tiba di mall terbesar di Kota Solo. Usai menunaikan makan siang, keduanya langsung menuju store ternama yang menjual berbagai perlengkapan bayi baru lahir.
"Kalau boneka itu di sebelah mana, ya, Kak?" tanya Ara kepada salah satu pramuniaga.
__ADS_1
"Sebelah sana, Kak. Mari saya antar."
Ara mengikuti langkah pramuniaga itu dengan Darma yang mengekor di belakangnya. Mata lelaki itu kembali jelalatan setelah tadi di restoran juga melakukan hal yang sama.
"Duh, yang mana, ya? Bagus putih atau abu-abu?" Ara menimang boneka kelinci di tangan kanan dan kirinya. "Mas, yang mana?" tanyanya lagi saat tak ada jawaban.
Darma menoleh. "Beli dua-duanya aja."
"Nggak apa-apa dua?"
"Nggak, lah. Tiga juga boleh, tuh, sekalian sama yang pink." Darma menunjuk boneka kelinci yang sebelumnya tidak dihiraukan Ara. Setelahnya, fokusnya kembali mengarah pada segala titik.
"Oke, tiga." Ara menaruh tiga boneka kelinci ke tas belanjaan. Kini wanita itu menuju titik lain untuk mencari kacamata yang nantinya digunakan berjemur anaknya. "Mas, bagus yang warna apa, ya? Putih, merah, atau hijau tosca aja?"
Darma yang lagi-lagi masih asyik dengan dunianya menoleh. "Terserah. Kacamata, mah, sama aja. Yang penting berfungsi dengan baik. Dipakainya juga cuma sebentar."
"Mas, kamu ngapain, sih, dari tadi matanya pecicilan ke mana-mana?" ucap Ara yang meskipun sibuk, tapi ia bisa melihat tingkah suaminya yang tidak seperti biasanya. Terkesan aneh. Mirip-miriplah sama orang mau maling barang.
"Cari nama."
"Hah?"
"Cari nama buat anak kita. Siapa tahu di sini nemu inspirasi. Aku, tuh, bingung sampai sekarang belum nemu nama yang cocok."
"MAS!" Ara memejamkan mata. Ada rasa kesal yang menyeruak hingga dia ingin melempar tas belanjaan ke wajah suaminya. Orang-orang itu cari nama anak di internet atau di buku. Ini malah cari di mall. Untung saja spot itu hanya ada dirinya dan sang suami. Jadi, Ara tidak perlu malu karena tidak ada yang mendengar.
.
Satu bab lagi tamat terus lanjut season 2. Jangan lupa komentar!
KOMENTARMU ADALAH SEMANGATKU ππππ
__ADS_1